
Ulya masih menikmati alunan bacaan Alqur'an dari bibir Naura yang diselingingi sesekali isak tangisnya. Ketika kamar pintunya diketuk.
Dia pun beranjak dari tempat nya berbaring dalam pangkuan Naura.
"Ya, ada apa Kak?" tanyanya pak Ahmad yang berdiri di muka pintu.
"Ada baby sisternya anakmu."
Tampak ada sedikit kekesalan di wajah Ulya. Lalu dia berbalik ke dalam kamarnya.
"Suruh tunggu sebentar."
"Baiklah." sahut Ahmad. Dia segera turun, menemui mereka.
Tak lama, terlihat Ulya turun menyusuri tangga, menuju ke arah mereka.
"Assalamu'alaikum ...." sapa Binti yang datang dengan orang tuanya.
"Wa'alaikum salam, silahkan duduk."
Mereka pun diam dalam kesunyian. Tampak kesedihan menghias wajah mereka. Sesekali terdengar nafas berat yang terhembus dari Ulya. Sehingga Binti maupun orang tuanya makin segan.
"Ada apa mbak Binti." kata Ulya membuka pembicaraan.
Ternyata sapaan Ulya yang singkat itu, telah membuatnya menangis. Dia tertunduk dan tak berani mengangkat kepala.
"Maafkan saya, Tuan." ucap Binti dengan kepala tertunduk.
"Sudah saya maafkan." jawab Ulya disertai dengan nafas berat. Bukan karena marah, lebih karena beban kesedihan yang harus dia terima.
"Maafkan putri saya, karena kelalaiannya ...." kata bapak yang ada disamping Binti, mungkin itu ayahnya.
"Sudah, tak usah dilanjutkan." cegah Ulya yang nampak tenang.
Kembali mereka terdiam. Lalu pria itu mencoba memberanikan diri untuk mengungkapkan maksud kedatangannya.
"Maksud kedatangan kami kemari, ingin mengajak Binti untuk kembali ke rumah kami. Untuk itu ijinkan kami untuk membereskan barang putri kami yang ada di sini." kata pria itu.
Yang disambut hembusan nafas berat Ulya.
"Aku tak bisa mencegah maupun menahannya. Bagaimanapun ini peristiwa yang berat bagi kami. Doakan agar kami bisa tabah menerimanya."kata Ulya tanpa basa-basi. Yang membuat mereka merenung.
"Saya juga mohon maaf. Bila dalam memperlakukan putri bapak, ada yang kurang berkenan."
"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Tuan."
"Boleh Binti ke kamar Binti, Tuan?"tanya Binti dengan mata sembab.
"Silahkan, Binti."
Dia segera berlalu menuju kamarnya, meninggalkan kan orang tuanya berbincang-bincang dalam diam dengan Ulya, majikannya.
Tak lama kemudian dia telah kembali dengan membawa sebuah koper besar.
"Sudah, Ayah." ucap Binti.
"Baiklah tuan Ulya. Kami pamit dulu." kata laki-laki itu.
"Sebentar." ujar Ulya sambil mengeluarkan amplop dari sakunya.
"Terima ini, sebagai tanda terima kasihku. Kamu telah menjaga putraku dengan baik selama ini."
"Binti nggak pantas menerima ini , Tuan."
"Ambillah. Aku memaafkanmu. Aku harap kamu juga bisa memaafkan sikap semua keluargaku." kata Ulya dengan mengambil tangan Binti. Dan meletakkan aplop itu di tangannya.
"Terima kasih, Tuan."jawab Binti.
"Maafkan kami, Tuan Ulya. kami pamit. Assalamualaikum ...." kata bapak yang mendampingi Binti.
"Wa'alaikum salam ...." jawab Ulya.
Dengan diantar Ulya, mereka keluar . Menuju ke taxi yang telah menunggu. mereka.
Setelah mereka menghilang, Ulya masuk ke dalam.
"Kak Ahmad, aku benar-benar buntu memikirkan ini."
__ADS_1
"Kita lapor saja ke pihak kepolisian."
"Mereka nggak mau trima, kalau belum 24 jam."
"Tak mungkin mereka hilang begitu saja."
"Aku takut terjadi apa-apa dengan mereka."
"Jangan berfikir yang nggak-nggak, tetap tenang dan berfikir positif."
"Jangan beritahu mama dulu."
"Aku mengerti."
"Kakak, malam ini tidur sini dulu, ya."
"Ya. jangan khawatir."
Lalu dia meninggalkan Ahmad yang masih berada di ruang tamu, menuju kamarnya.
Suara lantunan ayat-ayat Al Qur'an sudah tak lagi terdengar. Dia mendapati Naura tertidur dengan Al Qur'an masih dalam pangkuannya.
"Sayang ...."Dia kecup sayang pada dahi Naura. membuat matanya kembali terbuka.
"Mas."
"Maaf, mas membangunkanmu. Tidurlah."
"Maaf, Mas." ucap Naura sambil meletakkan Al Qur'an di atas nakas, dekat ranjangnya. Lalu merebahkan badannya di samping Ulya yang masih duduk memandangnya. Tak lama kemudian diapun tertidur kembali
Sejenak dia memandang wajah istrinya yang sembab oleh air mata. wajahmu yang selalu bersinar, kini tampak lelah. Berlahan dia mengecup dahinya dan membelai tubuh pelan. Agar dapat menikmati tidurnya dengan tenang.
Dalam temaram sinar lampu kamar. Aku dapati wajahmu yang tersenyum manis. Mungkinkah karena sentuanku atau bayangan Akmal dalam mimpimu. Hingga ada keinginan dalam diri ini untuk ungkapkan rasa dalam pelukan cinta. Tapi rasanya tak tega, menyentuhmu. Akhirnya Aku membiarkan dirimu menikmati mimpi itu secara sempurna.
Ulya kembali lagi ke ruang tengah, menjumpai Ahmad yang masih duduk di atas sofa.Tapi sama sekali tak bergerak. Ahmad tak ingin mengganggunya.
Diapun mengambil selembar koran di rak. Lali membacanya. Sekedar untuk mengusir kegelisahannya. Karena sampai sekarang belum diketahui.di mana keberadaan Akmal.
Rupanya Ahmad juga tak bisa tidur dengan nyenyak. Sebentar kemudian matanya terbuka.
"Ya, Ulya."
"Kita cari Akmal sekarang."
"Lalu yang jaga adikku siapa?"
"Ada bik Uma."
"Aku tadi sudah menghubungi beberapa teman. Mereka sedang bergerak."
"Tapi aku nggak tenang."
"Aku ngerti. Tapi Naura sekarang terguncang. Kembalilah ke kamar. Tolong jaga dia?"
"Makasih, Kak.,
Ulya kembali lagi ke kamarnya. Dan benar, dia mendapati Naura tengah menangis dalam tidurnya.
"Yang ... Yang." Dia memanggil Naura dengan lembut sambil menggoyangkan pundaknya.
Naura tersentak, dan terbangun dari tidurnya.
"Ah, aku mimpi."gumamnya pelan.
"Bagaimana Akmal, Mas."
"Sudahlah jangan banyak pikiran. Banyak yang membantu mencarinya. Sekarang tidurlah. Kamu masih punya Akram dan Devra. Yang harus kita jaga."
"Tapi Akmal juga putraku Mas."
"Aku mengerti. Mas akan mencoba mencari terus hingga ketemu."
"Tapi, Mas."
"Sudah, percaya sama Mas. sekarang tidurlah."
"Aku takut."
__ADS_1
"Aku menemanimu."
Akhirnya Ulya merebahkan diri di samping Naura. Dan memeluknya agar Naura menjadi tenang.
🔷
Sudah hampir satu bulan bibirmu selalu basah dengan istighfar dan juga ayat-ayatnya. Ada ketentraman yang kurasa. Ketika aku bisa memandangku dalam ketabahan menghadapi cobaan yang berat ini.
Kita sudah berusaha, tapi hasilnya masih nihil. Kadang aku sendiri merasa ingin menyerah untuk mencarinya. Setiap aku datang ke rumah, pasti satu yang engkau tanyakan.
"Ada kabar tentang Akmal?"
Aku lelah, Sayang. Entah kenapa aku merindukan suasana seperti dulu. Cerewetmu , ceriamu dan sikapmu yang selalu manja.
Tak ada lagi puisi kala senja yang terukir indah
Tak ada lagi kata manja pengantar dalam nyenyak tidur kita
Semua muram bersama hilangnya senyum dari bibirmu, Sayang
Kurasa semua ini harus segera diakhiri
Hari ini sengaja diriku ingin cepat pulang. Ada sebuah rencana yang harus segera dicoba, untuk mengakhiri semua ini.
"Kamu nggak pingin ikut mas jemput Devra."
"Pingin, tapi Akram gimana?"
"Kita ajak. Devra pasti suka."
"Aku takut."
"Percayalah. Tuhan tak akan mencoba yang hambanya tak sanggup memikulnya."
Naura nampak berfikir, lalu mengangguk, meski ragu.
"Aku siap-siap dulu."
"Aku tunggu."
Bismillah, semoga dengan ini menjadikan awal yang baik untukmu, Sayang.
Setelah sholat asyar, mereka bertiga menuju sekolah Devra.
"Ma, Devra juga putri kita. Dia selalu nanyain kamu kalau aku jemput."
"Maafkan aku, Mas."
Di depan pintu, terlihat Devra sabar menunggu.
Melihat mama dan papanya ke luar dari mobil, alangkah senangnya ia. Devra segera berlari kearah mereka.
"Mama ..., Devra rindu."
"Ya sama, mama juga. Gimana sekolahmu."
"Menyenangkan." jawabnya dengan mata berbinar -binar.
Alhamdulillah, kulihat kamu mulai tersenyum kembali sayang, bisik qolbu Ulya yang melihat Naura memeluk putrinya dengan erat.
Setelah tiba di rumah, rasa ingin kulanjutkan rencanaku.
Dan kurasa ini moment yang tepat.
Tak seperti biasanya, kali ini Naura menikmati sore di beranda depan perpustakaan. Dengan tetap memegang Al Qur'an sebagai hiburannya.
Setelah tilawah sejenak, dia menatap awan yang berjalan beriringan. Lama dia terdiam dengan wajah menghadap ke atas dan terpejam.
Ulya yang sejak tadi mencari, mendapati Naura di sana, tersenyum. Lalu mendekatinya.
"Yang. Apa kamu nggak rindu, Kak Nadya dan bapak?" kata Ulya sambil memeluk Naura dari belakang.
Tak sangka bisikanku, membuatnya tersenyum. Senyum yang kurindukan.
"Aku pingin sekali ketemu mereka."
"Benarkah, mas pesan tiket sekarang. Moga-moga nanti malam bisa berangkat."jawab Ulya segera.
__ADS_1