
"Ya, memang belum resmi sich. Tapi sebentar lagi. Mau kasih ucapan selamat masak nggak boleh. Kasihankan ... sudah sakit, payah, kita biarkan begitu saja." rayunya. Membuat perawat itu senyum-senyum.
"Baiklah, saya percaya."
Luluh juga perawat itu oleh kata-kata Ulya yang dikarang dari mana itu, pikir Ahmad jahil.
Tapi timbul rasa iba juga, saat melihat kegelisahan Ulya yang tak mampu dia sembunyikan.
Dia membiarkan Ulya mengikuti perawat itu, ke ruang yang tertutup kelambu, tanpa ingin mengikutinya lagi. Melainkan dia kembali ke luar.
Sedangkan Ulya tak ingin melewatkan kesempatan itu. Dia ungkapkan rasa bahagianya pada Naura yang kini masih berlumuran darah.
"Kak, kenapa ke sini?"kata Naura yang terlihat sangat lemah.
"Aku hanya ingin memberimu ucapan selamat. "
Tanpa ragu Ulya mendekatinya.
"Hai, kenapa kamu menangis," tanya Ulya.
"Nggak apa-apa, Kak. Aku hanya terharu sama Kakak, yang sabar menemaniku saat aku hamil."
Kadang timbul dalam diriku sejumlah keraguan, akan kasih sayang yang dia berikan padaku. Bukan karena aku tak mau bersyukur. Tapi ....
Aku takut itu hanya semu. Karena dia kasihan terhadapku yang sedang mengandung. Lalu semuanya tiba-tiba menghilang saat aku sudah melahirkan.
Namun semuanya harus bisa ku tepis.
Biarlah rasa percaya ini mengusai hatiku. Yang akan membimbingku kemana hendak berlabuh.
Aku harus percaya ....
Namun tak bergantung. Karena Yang di 'Asry, segalanya hendak kubergantung.
"Jangan katakan itu. Apa kamu masih belum percaya sama kakak."
"Naura percaya, Kak."
"Semua sayang padamu, Naura."
Kembali Naura meneteskan air mata.
"Kamu masih ingat Andre?"
"Dulu aku belajar dengan sangat melupakan Kakak, untuk bisa menerima mas Andre. Dan kakak mendorong ke sana. Hingga akhirnya aku sendiri secara sadar melakukan itu. Dan tak berharap pada kakak lagi. Hingga dia yang menyayangiku membawa hatiku pergi.Tapi kenapa kakak tak pernah lelah untuk memenuhi ruangan sepi di hati adik hingga terisi tanpa sisa sejengkal saja. Aku takut kakak akan mengatakan lagi, "cobalah untuk melupakanku ." Aku takut, Kak."
Ulya diam, hanya mendengarkan semua ungkapan hati Naura dengan sabar. Sesekali dia mengusap air mata yang menetes di pipi Naura dengan jari tangannya.
"Sudah?"
Naura menunduk malu dan berbisik lirih.
Lalu mengangguk pelan.
"Ya, Kak."
"Kamu masih lelah, Dik. Pulihkan dirimu dulu,"
"Aku keluar dulu." Tak lupa dia mengecup pucuk kepala Naura.
"Makasih, Kak."
Dia selalu saja menyembunyikan padaku yang mengharap sebuah jawaban nyata. Kak Ulya hanya tersenyum, lalu meninggalkanku dengan bahagia.
Dengan dibantu perawat, aku membersihkan diri, dan berganti baju agar dapat menemui keluargaku yang datang di ruang perawatan.
Satu persatu, semua memberi selamat, dari Ummi, mama, kak Ahmad dan juga bi Fatim.
"Alhamdulillah Naura, semua selamat."kata mama, orang yang pertama memberiku ucapan selamat, saat baru saja tiba di ruangan itu.
__ADS_1
"Maafkan Naura, Ma. Belum bisa menunjukkan pada mama."
"Nggak apa-apa, Sayang. Kami sudah melihatnya, cucu mama yang mungil."
"Nur, Ummi bangga. Cucu ummi kembar."
"Ya, Ummi. terima kasih."
Keduanya berpelukan.
Kulihat kak Ulya hanya berdiri di samping pintu masuk, sambil menggendong Devra yang sudah tertidur pulas.
Setelah bercakap sebentar, Ummi berpamitan hendak pulang , kembali ke tempat tinggalnya. Bersama bi Fatim dan juga kak Ulya.
Memang ummi terlihat kelelahan sehabis menemani abbah dari Oman. Kak Ulya juga demikian masih terlihat lelah pula.
"Oke, malam ini kakak pulang dulu. Kasihan Devra sudah lelah menunggu adiknya lahir. Sampai-sampai dia tertidur."
"Tapi besok, aku pasti datang lagi."
"Makasih, kak."
Akhirnya semua telah pergi. Kini tinggalah aku bersama mama dan juga kak Ahmad yang masih setia menemani.
🔷
Pagi ini terasa segar, meski baru saja operasi tadi malam, namun tak menghalangi keinginanku untuk menemui jagoan-jagoan kecil yang masih sangat mungil. Tapi sangat sehat, kata dokter yang membantuku melahirkan.
Kulihat mereka yang bergerak bebas di dalam inkubator. Kubiarkan tangan mungil mereka memegang jari tanganku yang ku masukkan ke dalam box itu.
"Suster, bolehkah mereka aku gendong."
"Silahkan, itu baik."
Atas petunjuk suster yang menjaganya, aku menggendong dan memberinya asi. Terlihat mereka tak mengalami kesulitan untuk menghisap asi dariku.
Yang membuatku amat takjub dengan mereka, ketika satunya sedang ku pangku, satunya lagi bergerak-gerak seakan meminta untuk disentuh.
"Ya ibu, apa yang bisa saya bantu?"
"Tolong yang satunya.".
Perawat itu mengambil yang satunya, lalu dia letakkan ditanganku yang satu lagi, agar dapat kuberikan asi secara bersama-sama.
Setelah mereka kenyang. Lalu berlahan-lahan matanya terkatup kembali. Rupanya mereka ingin melanjutkan ritual hibernasinya kembali. Agar cepat gede dan kuat.
"Makasih, Sus."kataku sambil menyerahkan kedua jagoanku, untuk diletakkan dalam inkubator kembali.
Setelah memandang sejenak pada keduanya, aku tinggalkan mereka yang sedang tidur nyenyak, menuju ke ruanganku yang kembali sepi. Karena Kak Ahmad dan mama telah pulang ke rumah. Nanti akan kembali lagi, setelah menyiapkan semua keperluan rumah juga membuatkan sesuatu untukku.
Berasa punya mama. He ... he ... he ....
Membosankan sekali harus bobok manis, memulihkan phisic sehabis melahirkan. Untunglah Rima tiba-tiba telpon.
"Bagaimana keadaan keponakanku?"
"Tadi malam, sudah lahir?"
"Lho, kok."
"Sudah nggak sabar keluar."
"Normal?"
"Tak mungkinlah. Belum cukup umur."
"Ku kira ..., sempat kepikiran, meragukan kesetiaanmu pada kak Andre. "
"Astaghfirullah Rima, Naudzubillah min dzalik."
__ADS_1
"Sekarang, gimana S2-mu. Lancar?"
"Alhamdulillah, ini lagi ujian."
"Semoga sucses, Tante Rima."
"Terima kasih. Habis ujian aku ke situ."
"Boleh. Aku tunggu."
"Oh ya, Nur. Dulu itu ... sudah kamu sampaikan ke kak Ulya."
"Kamu masih mengharapkannya?"
"Nggak bolehkah?"
"Nanti kalau berjumpa sampaikan sendiri."
"Berarti belum kamu sampaikan."
"Sudah. Untuk jawabannya biarlah kak Ulya sendiri yang menyampaikan."
"Aku bisa dengar suara ponakanku?"
"Maaf tante Rima, nggak bisa. Masih di inkubator."
"Ya sudah. Sampaikan salam aku ke kak Ulya ya ...."
"Baiklah."
"Sudah kasih tahu papa?"
"Belum, aku takut papa nanti kaget. Cucunya kok cepet lahirnya."
"Nggak apa-apa, Nur. Kita percaya sama kamu, kok."
"Ya, nanti papa aku hubungi. Sudah ya ... ini waktunya kasih asi ke jagoanku. "
"Oke. Assalamualaikum ...."
"Wa alaikum salam ...."
Alhamdulillah, tak lama mama datang bersama kak Ulya. Kak Ahmad kemana ya ....
"Naura, kenapa di luar?"
"Ini Ma, mau kasih asi."
"Kamu nggak makan dulu?"
"Sudah, dari rumah sakit. Tapi masih lapar."
"Ya sudah makan lagi aja dulu."
"Nggak, Ma. Habis ini saja, setelah menyusui mereka."
"Oke, mama tunggu di sini saja."
"Kak Ulya, aku tinggal dulu ya."
"Boleh aku ikut."
"Emmm ... boleh, tapi di luar."
"Siap ... kakak kangen banget sama mereka."
"Devra mana?"
"Masih sekolah. Bukankah ini hari terakhir sekolahnya."
__ADS_1
"Iya bener. "