Mahabbah Rindu

Mahabbah Rindu
BAB 85 : Akmal Menghilang


__ADS_3

Lupakan soal Binti. Bisik qalbu Naura yang tangannya tiba-tiba diraih Ulya saat menyeberang jalan. Sementara tangan yang satunya meraih Devra dalam gendongannya. Membuat pipi Naura yang tersembunyi di balik cadar, bersemu merah. Cuma hanya dapat dirasa oleh Ulya. Nggak ada orang yang tahu.


Ulya tersenyum menatapnya. Namun Naura segera mengalihkan pandangannya, agar tak menjadi semakin gugup.


"Mbak Binti, ayo menyeberang." ajak Naura.


Dia pun mengikutinya, sambil mendorong kereta bayi.


Memang indah, suasana alam di taman ini ketika sore. Banyak yang datang ke sana, baik dengan keluarga ataupun dengan kawan.


Sampai di sana Ulya tengok kesana kemari, seakan ada seseorang yang dia cari. Lalu dia mengangkat teleponnya sejenak, lalu tampak gembira.


"Yang, aku tinggal dulu. Aku ada perlu sebentar saja sama tuan Hani."


Sebelum menjawab permintaan Ulya, Naura tersenyum. Ternyata ... Oh ternyata, di tengah santainya dia masih memikirkan pekerjaan. Tapi mau gimana lagi, resiko punya banyak usaha yang harus dijalankan.


"Ya, Kakanda ku tersayang ...."jawab Naura. Bukan orang yang bikin dia cemburu. Tapi ....


Sebelum pergi, ingin Ulya memberikan kecupan kecil pada istrinya, sebagai tanda terima kasih. Tapi tangan Naura sudah melambai di depan wajahnya. Sebagai isyarat kalau tak memperkenankan.


"Malu ah, Mas."


"Istri sendiri juga." kata Ulya sambil meneruskan niatnya yang sempat tertunda.


Lalu pergi meninggalkan Naura yang malu.


"Mana Akram Akmal, mbak?" kata Naura, untuk mengusir rasa malunya.


Binti segera mendekatkan mereka berdua pada Naura. Yang menyambutnya dengan hangat.


"Anak mama. Sini bermain sama kakak Devra." sambil meletakkankan mereka berdua di tikar kecil yang telah digelar oleh Binti. Agar dapat berguling-guling dengan bebas dan juga merangkak.Beberapa saat, mereka berempat larut dalam kegembiraan.


Sedangkan mbak Binti rupanya sibuk sendiri. Sesekali dia menengok kesana-kemari, seperti ada yang dicari. Tapi tak berani menampakkannya pada Naura.


"Mama, aku pingin bab." kata Devra tiba-tiba.


"Sama, mbak ya?"


Devra menggelengkan kepala. Sambil memegangi perutnya yang sakit.


"Baiklah."


Naura beranjak dari duduknya. Meninggalkan si kembar yang tertawa riang.


"Mbak Binti. Tolong jaga mereka. Aku tinggal dulu."


"Baik Nyonya."


Tanpa pra sangka apapun, Naura meninggalkan baby twins nya bersama pengasuhnya.


Tak berapa lama, setelah Naura pergi, Binti melihat melihat sosok yang dia tunggu. Seorang pemuda yang cukup menawan berjalan sambil melihat dan memperhatikan orang-orang yang ada di taman itu. Sangat terlihat kalau dia sedang mencari seseorang.


"Hai, aku di sini." teriak Binti.


"Hai juga, ternyata kamu di situ, tho?"


Pemuda itu mendekatinya. Dia segera bangkit dari duduk dan menghampiri.

__ADS_1


Lalu duduk dibawah sebuah pohon yang tak jauh dai tempat itu,. sambil mengawasi si kecil dari jauh.


Karena asyik mengobrol, sampai-sampai Binti melupakan tugasnya. Tanpa terasa telah cukup lama dia asyik berduaan. Dia baru sadar telah meninggalkan tugasnya ketika Naura kembali.


Naura mendapati hanya Akram yang ada di atas tikar, meraihnya dengan sayang.


"Binti." panggilnya.


Dia segera lari mendekat, meninggalkan pemuda itu sendirian.


"Ya,Nyonya."


"Lho, Binti. Mana Akmal?" tanya Naura.


Hatinya mulai gelisah ketika Binti datang tak membawa Akmal di tangannya. Dia mengira Akmal bersama dengan Binti. Tapi ternyata tidak.


Binti yang mendapat pertanyaan itu, juga bingung.


"Binti, mana Akmal?"sekali lagi Naura bertanya.


"Nyonya ...."


Binti diam seribu bahasa, tak berani menatap nyonya nya.


"Binti, mana Akmal?"


Mata Naura mulai berkaca-kaca, Diapun bangkit. Meninggalkan Binti yang terpaku. Mencari keberadaan Akmal yang tak tahu sekarang bersama siapa. Ataukah dibawa oleh suaminya. Semoga ....


Dia berharap demikian.


"Mbak, mana adikku?" tanya Devra dengan menggoyah-goyangkan tangan Binti.


Diapun lemas terduduk dan menangis, menyadari kelalaiannya. Lalu meraih Devra dalam pangkuannya.


"Maafkan mbak Binti, Devra." katanya lemah sambil memeluk Devra erat.


Devra berontak, ingin melepaskan diri dari pelukan Binti.


"Aku mau cari adik Akmal " teriaknya.


Dia terus berontak. Dengan sendirinya,dia melepaskan diri dan lari ingin menyusul mamanya yang telah menghilang entah kemana.


Binti segera berlari mengejar Devra


"Devra, jangan lari." teriaknya memanggil-manggilnya.


Devra berlari sangat cepat, hingga Binti harus bersusah payah mencapainya.


Setelah berhasil, dia berjongkok di hadapan Devra.


"Kita cari sama-sama ya ..." ucapnya dengan wajah yang tegang karena tangis.


"Akmal. Di mana kamu, Dik." ucap Devra, membuat Binti semakin merasa bersalah.


Setelah sekian lama, mereka berputar-putar mencari keberadaan Akmal dan juga mama. Akhirnya Binti berhenti.


"Devra, kita kembali ya .... Mungkin mama Naura sudah menemukan adik. "

__ADS_1


"Mbak Binti tadi kemana sich. Kok nggak tahu adik tak ada."


"Maafkan mbak Binti, Devra."


"Nggak. Aku nggak akan maafkan, kalau adik sampai tidak ketemu." teriaknya.


"Ya. Tapi kita kembali dulu."


Tapi rupanya Devra keras kepala. Dia tetap berjalan meninggalkan Binti yang makin tertekan dan hanya bisa menangis. Lalu dia mengejar Devra, meraihnya dalam gendongan.


Dia mencium Devra sambil menangis dan mengajaknya kembali ke tempat semula. Yang diikuti oleh seorang pemuda yang bersamanya tadi.


Tanpa dia sadari, pemuda itu selalu mengikutinya.


"Kenapa kamu ada di sini, ini semua gara-gara kamu." teriak Binti dengan ketus.


Dia diam, tetap saja mengiringinya hingga sampai di tempat semula.


Disana dia mendapati Ulya sedang gelisah. Karena tak mendapatkan seorangpun di sana. Hanya tikar dan kereta bayinya beserta perlengkapannya.


Kemana semua. Tak seperti biasanya Naura meninggalkan sesuatu dalam keadaan berantakan. Dia paling cerewet soal itu.


Dari jauh dia melihat Binti yang menggendong Devra yang menangis. Diiringi seorang pemuda berjalan menuju ke arahnya.


Setelah sampai, segera Ulya meraih Devra dalam pelukannya.


"Ada apa, Sayang?"


"Adik Akmal, Pa." jawab Devra di tengah-tengah tangisnya.


Sedangkan Binti hanya tertunduk tak berani menatap Ulya sedikitpun.


"Kenapa dengan adik Akmal?"


"Adik ... adik Akmal nggak ada, dia ... dia ... hilang."


"Hilang."


Ulya sangat terkejut mendengar penuturan putrinya. Antara bingung, gelisah, marah jadi satu.


"Nyonya di mana?" tanyanya pada Binti yang masih bingung dan ketakutan.


Dia diam dan terisak, tak berani menjawab.


"Mama pergi mencari adik." jawab Devra.


"Sudah, Sayang. Jangan menangis . Kita cari adik." kata Ulya mencoba menenangkan Devra. Meski dadanya bergejolak.


"Kamu, cari anakku sampai ketemu."teriak Ulya pada Binti.


Binti benar-benar tersentak dengan suara majikannya. Tak pernah sekalipun majikannya itu berkata keras padanya. Tapi ini, selain keras juga penuh amarah.


Dia mendongak sebentar. Menyadarkan dirinya.


"Ada apa. Segera cari. Jangan temui aku bila anakku belum kembali." kata Ulya keras.


Berlahan dia pergi dari hadapan Ulya, mengikuti langkah kakinya. Tak tahu harus kemana. Dengan ditemani pemuda yang bersamanya tadi.

__ADS_1


__ADS_2