Mahabbah Rindu

Mahabbah Rindu
BAB 41: Di Pusara Andre


__ADS_3

Apa yang tejadi semua telah tertulis


Hanya keimanan yang membimbing kita untuk dapatkan kebaikan dari itu semua


Baik suka, duka, nestapa, gembira, atau bahagia


Satu ujian dilalui dengan indah


Bukan berarti berhenti


Karena itulah hidup


Agar bisa tumbuh lebih dan lebih


Hingga di ujung perjalanan


Untuk dipertanggungjawabkan


💎


Sinar mentari yang memancar, menembus daun-daun rindang di atas pusaran Andre. Dia memberikan kehangatan. Mengiringi lirih doa tulus dari bibir Naura yang khusyu', mengangkat ke dua tangannya, dengan bimbingan Ulya di sampingnya.


Ingin mereka meninggalkan tempat itu. Tapi kaki seolah berat melangkah. Meski Ulya dan Naura bangkit. Tapi hanya berdiri menunduk, merenung tanpa kata.


Mungkin hanya hembusan semilir angin yang mampu mendengar bisikan lirih dari hati yang merindu. Dari masing-masing jiwa yang memendam rasa.


💗


Mas, rasanya baru kemarin kita bersama


Berbagi cinta, kasih sayang dan keceriaan


Bercerita keindahan dan rasa kita


Sebagai teman, sahabat dan juga sebagai tamu istimewa


Mengetuk pintu mahabbah hingga terbuka


Kita masuk bersama dengan rela


Sesaat itu telah memberikan kesan istimewa


Hingga sering kali aku terlupa bahwa dirimu telah tiada


Tanpa sadar hadirkan dirimu dalam bayang di relung jiwa


Maafkan aku, Mas


Belum puas diriku menemani


Engkau mendahului kami


Damailah Engkau di sana


Insya Allah aku akan mencoba kuat


Membersamai benih cinta kita


Hingga tumbuh seperti yang pernah Engkau bisikkan dalam cinta


💗


Bila kalbu Naura berbisik tentang suami tersayang. Mengabarkan akan hadirnya kehidupan yang kini telah tumbuh dalam rahimnya.


Maka Ulya bercerita seolah-olah sahabat dekatnya ada di hadapannya. Dia mencoba mengungkapkan, tentang apa yanga lama telah dirasa.


🌸

__ADS_1


Terpendam tak ingin seorangpun tahu ....


Tapi sepertinya dirimu telah tahu, Dre. Siapa dia ....


Aku tak marah waktu dia bersamamu


Tapi mengapa begitu cepat tinggalkan dia, Dre.


Dia amat memerlukanmu untuk bersandar.


Dre, sesuai dengan pesanmu. Aku akan menjaganya.


Dan jangan salahkan diriku bila kini aku berkeinginan mengambil milikmu.


🌸


Begitulah bisikan Ulya pada angin, yang menyampaikannya pada awan yang berjalan melintas, memayungi mereka.


Ulya memberanikan diri untuk menggapai tangan Naura. Mengajaknya berjalan berlahan meninggalkan pusara yang kini basah dengan air dan indah segar dengan bunga-bunga yang mereka taburkan.


"Sudah, Naura. Jangan siksa suamimu dengan tangismu." kembali Ulya memberikan sapu tangannya.


"Ya, Kakak. Aku hanya sedih."


Ulya menggelengkan kepalanya lemah. Lalu mengambil sapu tangan itu kembali. Mengusap air mata Naura yang masih tersisa.


"Terima kasih, Kak. Baru kali ini aku bisa mengunjungi pusara mas Andre."


"Ya." jawab Ulya pelan. Tangannya menggapai tangan Naura. Dan memegangnya erat.


Dre, maafkan aku.


Kembali mereka memasuki mobil Ulya.


Dia melajukan mobil pelan-pelan meninggalkan pemakaman itu menuju jalanan yang sedikit ramai meneruskan perjalanana ke kampung Asri, kampung Naura dibesarkan.


Begitu memasuki jalanan kampung yang di penuhi oleh pohon-pohon yang tinggi menjulang. Dengan daun-daun lebat, kesejukannya kini semakin terasa. Meski mentari telah sampai hampir di tengah cakrawala.


Rasanya kesedihan yang sejenak lalu bergelayut menghias wajah Naura kini berlahan pudar. Dan senyum itu semakin sempurna, mana kala mereka hampir berbelok ka arah rumah yang sangat Naura rindu.


Namun saat mobil semakin mendekat, mengapa rasa was-was hadir. Membisikkan sesuatu yang sulit dimengerti. Ada satu pertanyaan yang menjadikan rasa was-was itu semakin nyata.


Sewaktu mobil Ulya memasuki belokan, dimana rumah pak Farhan berada. Membuat Naura bertanya-tanya.


Mengapa banyak orang menuju ke rumahnya?


"Mbak, ada apa? " tanya Naura pada salah seorang tetangganya yang kebetulan lewat di sampingnya.


"Eh mbak Nur. Itu ... ibu mbak ."


Dia tak bisa melanjutkan kata-katanya. Membuat Nur makin gelisah.


Nur dan Ulya terkejut saat tiba di depan rumah pak Farhan. Banyak berkerumun orang. Ulya segera menghentikan mobilnya.


Ulya dan Naura berlari, menerobos masuk ke dalam rumah. Ingin tahu apa akan terjadi.


"Mbak Ika, apa yang terjadi dengan ibu?"


"Maaf mbak, ibu jenengan kelihatnnya digigit ular di kebun."


Terlihat kaki ibu telah membiru. Dan bu Farhan tergeletak lemah. Sepertinya pingsan. Atau racunnya telah menjalar hingga ke ....


"Kak Ulya."


Ulya segera mengangkat tubuh bu Farhan dengan dibantu berapa orang.


"Mbak Ika, masuk dulu. Kamu di depan saja Naura." kata Ulya mencegah Naura memangku bu Farhan.

__ADS_1


Dia benar-benar khawatir terhadap kehamilan Naura. Sedangkan Naura sendiri sering melupakan keadaannya, yang berbadan dua.


Mbok Iyem pindah ke bagian belakan sendiri. Diikuti Aziz, anak haji Shodikin. Begitu Mbak lka duduk, segera Ulya meletakkn tubuh bu Farhan dalam pangkuannya.


"Ayo, Naura."


Terlihat pak Farhan tergopoh-gopoh menghampiri mobil Ulya, ingin ikut juga.


Naura segera berpindah ke belakng menemani mbok Iyem. Sedanghkan pak Farhan menemani Ulya di depan.


Ulya segera menghidupkan mobilnya. Menuju Puskesmas terdekat. Sayang, semua telah tutup.


Mau tak mau Ulya membawanya ke rumah sakit daerah. Dia menjalankannya dengan cepat menuju tempat itu.


Sayang letak rumah sakit agak jauh. Hingga memakan waktu yang cukup lama. Karena ada di tengah kota.


Ketika telah sampai di rumah sakit yang dituju, yang pertama kali keluar adalah Aziz. Cepat-cepat dia meminta tempat tidur beroda untuk meletakkan tubuh bu Farhan.


Dengan dibantu seorang perawat, mereka membawa ke ruang UGD.


"Mbok, temenin Naura."


"Baik, Den." jawabnya sambil menggangguk.


Ulya segera menyusul Aziz ke ruang UGD.


Dia mendapati bu Farhan telah mendapatkan penanganan. Hanya saja terlihat tangannya sudah mulai membiru.


"Bapak boleh tunggu di luar." kata seorang dokter.


Terpaksa keduanya keluar, meninggalkan bu Farhan yang belum sadarkan diri.


Sedangkan di luar, Naura menunggunya dengan cemas.


"Gimana Kak, Ibu."


Ulya hanya diam. Dia tak mau memberikan keterangan apa-apa. Lalu dia beralih pada Aziz.


"Ziz, bagaimana keadaan ibu?"


"Masih ditangani."


Lalu Aziz juga diam. Tak mau lagi bersuara. Membuat Naura makin gelisah.


"Mbak Ika, tadi itu kejadiannya gimana?"


"Maafkan aku Nur. Setelah terima telpon darimu pagi tadi. Tak lama kemudian ibu pergi ke ladang seorang diri. Bapak lagi diajak pak Shodikin keluar sebentar."


"Jam 10 baru aku menyadari kalau ibu belum pulang dari ladang. Aku susul ."


"Saat itu aku melihat ulo weling (sejenis ular derik yang sangat berbisa. Dengan ciri sepanjang tubuhnya bergambar seperti cincin berwarna hitam atau kuning tua cerah) yang cukup besar melintas."


"Kulihat ibu sudah tergeletak. Kulihat gigitan ular di kakinya."


"Berarti itu cukup lama, Mbak."


"Maafkan aku, Nur."


"Sudah jangan saling menyalahkan. Lebih baik kita berdo'a agar ibu selamat." sela pak Farhan.


"Keluarga bu Farhan?"


"Ya, saya."jawab pak Farhan.


"Nak Ulya ikut saya, Nur kamu di sini saja."kata pak Farhan, mencegah Nur yang sudah bersiap mengikutinya. Untuk ikut serta masuk ke dalam ruang UGD, tempat bu Farhan kini dirawat.


Mereka berdua mengikuti perawat yang memanggilnya.

__ADS_1


__ADS_2