Mahabbah Rindu

Mahabbah Rindu
BAB 40: Belanja


__ADS_3

Tak lama Ulya telah sampai di sisi Naura, yang berjalan dengan menunduk. Hingga tak menyadari mbok Iyem sudah berganti dengan Ulya.


Ketika akan menaiki eskalator hampir terpeleset. Tangan Ulya cepat meraihnya, menyanggah tubuhnya dengan satu tangan. Sedangkan tangannya yang lain menggapai tangan Naura .


"Naura, hati-hati."


"Kak Ulya. Terima kasih."


Segera dia menarik tangan dari genggaman Ulya. Baru menyadari kalau Ulya yang ada di sampingnya.


"Maaf, mbok Iyem tadi mau ke belakang. Kamu nggak memperhatikan ya ...."


"Oh ...."


"Keberatan, kakak temani?"


"Nggak, hanya takut merepotkan kakak."


Tak terasa mereka sudah di stand yang diinginkan.


Bersama mereka memilih pakaian untuk bapak ibu Farhan. Berupa baju dan kemeja serta sarung untuk bapak ibu Farhan. Setelah cukup, Naura akan menuju ke kasir, dicegah Ulya.


"Temani aku pilih celana dan kemeja, dan juga baju wanita."


"Persiapan ya, Kak."


"Nggak juga. Cuma kepingin aja kamu pilihkan baju untuk kakak."


"Lalu yang baju wanita untuk siapa, hayo ...."


"Ya, untuk kamu. Bumil." jawab Ulya sambil tertawa ringan.


Nur sedikit terperanjat. Lalu berhenti sejenak, menatap Ulya untuk memastikan.


Mendapat tatapan Nur yang demikian, dia menatap balik dengan cengengesan. Lalu tangannya menarik tangan Naura ke stand diinginkan.


"Oke, baiklah. Tapi lepasin tangan kakak dong."kata Naura tersipu.


" Sepertinya ini cocok."kata Naura. Tangannya memegang baju coklat polos, dengan sedikit variasi pada lengan dan dada. Ulya menggangguk senang.


"Ya, aku suka."


Lalu Nur memilih beberapa baju santai juga.


"Bagaimana yang ini."tanyanya pada Ulya yang hanya memandangi dirinya yang asyik memilih-milih baju.


"Kelihatannya cocok sekali dengan Kakak. "


"Boleh juga. Kamu belum pilih Naura."


Lalu mereka menuju ke stand yang memajang baju wanita beserta pernak-perniknya.


Memang beberapa hari ini Naura kepikiran untuk beli beberapa baju yang lebih longgar. Menyadari bahwa tubuhnya kini tak mungkin lagi mengecil. Adanya akan semakin berisi sehingga beberapa baju menjadi agak kesempitan.


Setelah puas memilih beberapa baju untuk diri sendiri. Mereka berdua melangkah menuju kasir.


Nur mengeluarkan kartu dari dompetnya.


"Sudah nggak usah, pakai ini saja." kata Ulya sambil mengambil kartu dari dalam dompetnya.


"Em ... em ... aku jadi nggak enak sama kakak."


Ulya hanya ketawa kecil melihat tingkah Nur yang sedikit menjadi manja.


"Sekarang sudah pakai kartu, nich ..."


"Kasih papa Sofyan."


"Punya tabungan?"


"Ada."

__ADS_1


"Nomor rekeningnya kasih kakak, ya!"


"Untuk apa, Kak?"


"Kakak hanya melaksanakan pesan suamimu."


"Emangnya mas Andre pesan apa ke Kakak?"


"Kamu nggak ingat Nur. Padahal dulu pesannya juga di hadapanmu."


Nur menggelengkan kepala. Membuat Ulya ikut geleng-geleng kepala juga disertai dengan ketawa kecil.


Nur ... Nur, kamu itu kalau sudah satu hati. Susahnya bukan main untuk berpaling. Bahkan saat suamimu berpesan untuk kita berdua, yang ada dalam dirimu hanya Andre. Batin Ulya bermonolog sendiri.


"Maaf, Bapak Ibu. Silahkan." kata seorang kasiryang ada di dekat mereka.


Selangkah kami maju sambil memandang angka-angka di layar komputer kasir, dan juga meneruskan obrolan yang terjeda.


"Sebentar, Nur ingat sedikit. Itu pesan bukannya untuk Kakak."


"Benar."


"Jagalah yang kau cintai. Kalau tak salah itu." Jawab Nur dengan sedih.


Ingatannya kembali pada bayangan suaminya. Hingga tak sadar ada butiran-butiran embun yang mulai tersusun dari sudut matanya. Lalu tangan kanannya meraba perutnya yang masih terlihat datar.


Nak, yang kuat bersama mama. Agar papamu tenang di sana.


"Maaf, Nur." kata Ulya sambil memberi sapu tangan padanya.


"Nur yang minta maaf, Kak."


Dia menerima sapu tangan dan mulai mengusap ujung matanya.


Untunglah, mbak kasir sudah selesai menghitung belanjaan mereka. Sedangkan yang lainnya sudah selesai pula memasukkan dalam paperbag-paperbag. Ulya segera menyelesaikan pembayaran. Dan juga mengambil belanjaannya, dan Nur mengambil sebagaiannya, masih dengan wajah sedihnya.


"Maafkan kakak, Nur. Kita minum di sana yuk!"


Naura mengangguk. Mereka berjalan ke arah yang ditunjuk Ulya, dengan membawa belanjaannya. Mbok Iyem yang kebetulan menunggu di tempat parkiran, melihat mereka segera menghampiri. Lalu mengambil belanjaan yang tengah dibawa Nur.


Nur mengangguk dan menyerahkan belanjaannya pada mbok Iyem


"Makasih, Mbok."


"Maaf tadi mbok nggak bisa nemeni."


Nur mengangguk pula.


"Mbok, kalau sudah meletakkan barangnya, susul kami di sana!" ajak Ulya.


Seperti biasa, mbok Iyem hanya tersenyum menerima ajakan itu.


Biarlah den Ayu Naura bersama den Ulya, siapa tahu bisa jadi obat den Ayu. Batin mbok Iyem berbisik lirih.


Dia membeli tehcup yang ada dekat parkiran. Lalu masuk ke dalam mobil, mengabaikan ajakan Ulya.


"Apa kamu pingin es cream, Naura."


"Kakak masih ingat kesukaan Nur."


"Oke, aku pesenin. Tunggu sebentar di sini."


Belum sempat Ulya bangkit dai duduknya,seoran pramusaji menghampiri kami.


"Pesan apa , Mas Mbak."


"Es cream satu mangkuk, jus jeruk.Ya itu saja."


"Baik, tunggu sebentar."


Wanita itu berlalu, meninggalkan mereka berdua.

__ADS_1


"Kak Ulya masih sama seperti dulu. Suka jus jeruk."


"Aku ingin mengenang masa kecil kita."katanya ringan.


Nur tertawa lepas. Ada saja, pikirnya.


Tak lama pesanan mereka datang.


Sambil menikmati minuman, mereka melanjutkan obrolannya.


"Ngomong-ngomong, tumben kakak ada di Yogja?"


"Ya, ada urusan sedikit. Selesai mampir njenguk kamu."


"Makasih, sudah berkenan jenguk Naura."


"Bagaimana kandunganmu sekarang. Masih sering mual?"


"Alhamdulillah, sudah nggak pernah."


"Pingsan?"


"Hampir tak pernah."


"Alhamdulillah. Sebenarnya kakak mau kasih tahu, kalau 2 minggu lagi kakak mau ke Turki. Apa kamu nggak pingin ke sana?"


"Benarkah?"


"Umi sama Abba juga kangen sama kamu. Kakak akan senang kalau kamu bisa ikut."


"Ya nanti aku akan tanya tante Tiara dulu. Aman nggaknya. Tapi bolehkah ngajak keluarga."


"Maksudmu, Bapak Ibu Farhan?"


Naura mengangguk pelan, memohon.


"Boleh. Tapi jangan paksa mereka."


"Kayaknya kakak sudah hafal mereka."


"Kamu itu mau ngajak mereka seneng-senang atau menyiksa mereka."


"Ya senang-senanglah. Sepertinya kak Ulya sudah kenal banget sama bapak ibu."


"Gimana kakak nggak hafal mereka. Mereka yang menemani kakak sejak kecil. Sebelum kamu ada."


"Bu Farhan kalau diajak menginap ke villa aba di Malang, selalu badannya panas. Nggak biasa. Gitu."


"He ... he ... he, bener. Kalau ke rumah mbak Nadya juga gitu."


"Makanya aku nggak mau kamu maksa mereka."


"Ya dech."


"Tante Efsun pasti seneng banget kamu bisa pulang ke Turki."


"Kadang aku merasa berdosa sama mama Efsun, nggak bisa meluluskan permintaannya. Untuk tinggal bersama di Turki."


"Sepakat pergi."


"Aku berharap sangat bisa, Kak."


"Sekarang habiskan es creamnya. Atau kakak suapi." Ulya mengambil sendok kecil yang berisi es cream. Lalu menyuapkan pada Naura.


Naura tertegun sejenak menatap Ulya, terbayang wajah Andre di depannya. Diapun melahap suapan es cream Ulya.


Ini yang biasa Andre lakukan padanya ketika bersama.


"Kak, habis ini kita mampir ke pusara mas Andre, ya ...."


"Ya."

__ADS_1


Tiga suapan Ulya berikan pada Naura. Berhenti manakala Naura meminta sendoknya kembali. Dan memakannya sendiri dengan cepat.


Lalu mereka kembali ke mobil untuk melanjutkan perjalanan.


__ADS_2