
Diam-diam Rima mendengarkan pembicaraan antara papa Sofyan dan Mustofa. Berdesir rasa nyaman, secara berlahan menyiram sanubari yang kering dan terluka. Ingin menolak tapi tak bisa dilakukannya. Karena saat ini, dia benar-benar membutuhkan seseorang yang bisa bersandar. Dari kerapuhan cinta yang kini nyata meninggalkannya.
Sejak saat itu, Rima mencoba membuka diri. Apalagi orang tuanya seakan merestui keinginan Mustofa, meski dia belum siap meneriman. Karena dia tak bisa memastikan, sampai kapan dapat menghapus harapan bersama laki-laki yang diinginkannya.
Dan sejak saat itu pula Mustofa lebih punya keberanian untuk menampakkan perhatian yang lebih pada Rima. Bahkan saat mengantarkan keluarga Rima ke bandara, dia pun menyatakan keinginannya itu lansung pada Rima.
"Rima, Sebelum kamu pergi ...."
"Apa, Kak."
"Aku sungguh-sungguh padamu. Maukah kamu suatu waktu jadi kekasih halalku."
Ditembak seperti itu. Membuat Rima tertawa bahagia. Tak sangka ....
Tapi juga tak percaya ....
"Kak, aku amat berterima kasih.Selama di sini kamu selalu setia menemaniku. Sungguh aku merasa nyaman. Tak dapat kupungkiri aku juga merasakan hal sama. Ingin senantiasa bersama. Tapi aku masih ingin melanjutkan sekolahku dulu. Setidaknya untuk S2 ini."
"Aku akan mencoba menunggu, kalau kamu memberi jawaban pasti, bukan sekedar harapan yang tak tentu."
Rima menyembunyikan getar yang ada dalam dada, dalam senyum ceria. Tak ingin dia berterus terang pada Mustofa. Kegeeran tuch orang nantinya ....
Tapi melihat wajah yang penuh pengharapan, tak tega juga ....
Dengan malu-malu diapun menganggukkan kepala.
"Ya, Kak." meski saat ini dia masih ragu.
Tak terkira bahagianya Mustofa. Ingin memeluknya saat itu juga ....
Tapi tidak ... tidak .... Belum halal. Biarlah penantian ini menambah panjang kerinduan, yang akan dia bangun untuk bersama. Agar indah pada waktunya. Dia hanya memandang lekat wajah wanita itu dengan bahagia.
Apa yang dia persiapkan satu hari sebelumnya, akhirnya bermanfaat juga. Segera dia mengeluarkan kotak kecil dari dalam sakunya. Ada sebuah cincin bermata mutiara biru di sana. Cincin yang sangat cantik, yang kemarin Rima idamkan.
Belum juga memberikannya, Rima sudah nyeletuk,
"Kak, cincin itu untukku, kah?"
Subhanallah .... Wanita itu memang diciptakan unik. Dimanapun berada, sedalam apa ilmu agamanya, kalau dengan emas permata, harta benda tertarik juga. Tapi ... tak apalah, asalkan tidak dijadikan semua itu bersemayam dalam hatinya. Cukuplah menjadi penghias diri semata, agar bertambah cantik dan juga menarik. Ada gunanya juga sifat itu, agar menjadi semangat mencari uang.
"Untuk wanita yang mau ketitipkan separuh jiwaku padanya."
Kata-kata yang sudah tak asing lagi Rima dengar. Membuatnya tak bisa menahan tawa.
"Aaasssyyyiiiikkk ...." kata Rima
"Ketawa lagi ...."
"Banyak banget bualan kak Mustofa. Yang nggak tahu pasti terlena dech ...."
"Sudah dech, mau nggak aku sematkan ini di jarimu."
"Dengn senang hati ...."
Wah ... Aku jadi ragu. Sebenarnya Rima itu ada hati padaku, atau hanya inginkan harta ....
Tapi seiring waktu, aku yakin dia bisa belajar. Toh ... wajar, wanita.
__ADS_1
Tanpa ragu dia menyematkan cincin itu di jari manis Rima.
" Bukankah cincin ini yang kemarin Faricha beli sama aku."
"Iya ...."
"Aku kira cincin ini untuk teman Faricha, teman istimewa kakak ....."
"Memang ... dan itu kamu."
Dunia milik berdua, yang lain pada numpang. Kali kata-kata itu cocok untuk mereka berdua. Sehingga tanpa mereka sadari, dua pasang mata memperhatikan tingkah lalu mereka sejak awal. Kadang tersenyum, kadang juga juga was-was ...
"Ma, anakmu ...."
"Anakmu jugakan, Pa. Selesaikan. Kalau perlu tegasin sekalian."
"Kamu nggak keberatan, kan?"
"Aku sich, terserah anaknya ...."
"Kurasa Mustofa benar-benar serius."
"Aku harap."
Tak menunggu mama Erika berkata lagi, karena kalau diteruskan bakalan panjang itu kata-kata. papa Sofyan berjalan mendekati mereka. Menarik sebuah kursi yang ada sekeliling meja yang mereka tempati.
"Nak Mustofa ...." sapa papa Sofyan.
Pasti papa Sofyan nguping pembicaraanku sama Rima tadi. Malu aku ....
Tapi kok papa Sofyan malah senyum-senyum ....
Tampak Rima tertunduk malu, apalagi tangannya masih dalam genggaman Mustofa yang menyematkan cincin itu.
"Lamaran ya ...." kata Papa Sofyan. Dia menatap tajam pada Mustofa. Seketika Mustofa jadi keder. Dan melepaskan jari Rima dari genggamannya.
"Kenapa, Nak Mustofa?"
"Maafkah saya, Pa." dia tertunduk.
"Aku papanya, tak diberi tahu?" kata papa Sofyan sedikit bersungut.
Mustofa menunduk semakin dalam, demikian juga Rima.
Setelah agak tenang, papa Sofyan pun tersenyum.
"Nak Mustofa, apa kamu sungguh-sungguh dengan keputusanmu. Rima itu kadang masih bertingkah kekanak-kanakan. Dan sangat manja. Ditambah lagi dia putri kami satu-satunya. Tentu dia masih banyak memerlukan bimbingan. Apa kamu sanggup untuk itu."
"Papa, sejak pertama, tak ada sedikitpun niat akan mempermainkan perasaan dinda Rima. Mustofa sungguh-sungguh soal itu. Tapi pengetahuan dan pengalaman Mustofa tak ada. Apalagi ingin memulai jalan menuju rumah tangga yang sesungguhnya. Membuat Mustofa lakukan ini. Maafkan Mustofa, Pa."
"Aku mengerti, memang soal rumah tangga tak ada sekolahnya. Pada yang Kuasa hendaklah minta petunjuk agar tak tersesat."
"Baik, Pa."
Selesai dengan Mustofa, papa Sofyan menatap putrinya yang tertunduk malu dengan pipi yang bersemu merah. Dia tersenyum ....
Pada mulanya, Rima ingin sedikit bermain-main dengan hati Mustofa, sekedar melepaskan kekesalan pada cinta pertamanya yang gagal. Tapi mendengar ungkapan kata-kata yang terlontar dari bibir Mustofa. Apalagi langsung diungkapkan pada papanya, membuatnya tak berkutik. Bahkan perasaannya kini berbunga-bunga dan tersanjung.
__ADS_1
"Bukannya papa tak menyetujui kalian, bahkan papa bahagia kamu sudah bisa membuka dirimu lagi. Tapi apa kamu sudah siap Rima ... putri papa satu-satunya." tanyanya lembut sambil membelai rambutnya.
Rima tak menyangka kalau papanya akan bertanya seperti itu. Membuat dirinya agak melongo. Tak siap menjawabnya.
"Kamu sudah menerima cincin itu dari Mustofa. Papa tak ingin kamu mempermainkan perasaannya. Papa lihat, Mustofa bersungguh-sungguh. Untuk menjalin hubungan denganmu. Beberapa hari di sini, papa sudah melihat kalau dia bertanggung jawab. Tak ada alasan untuk menolaknya, kecuali kamu yang tak menginginkannya."
Rima diam ....
"Bila diam, papa anggap kamu setuju."
Rima tak berkutik. Niat ingin sedikit bermain-main, pupus sudah.
Akhirnya, dia menganggukkan kepala.
"Ya, Pa .... Tapi Rima mau selesaikan S2 dulu."
"Itu keputusan tepat putriku .... Untuk S2-mu, bisa diatur."
"Terserah papa."
Papa Sofyan tersenyum dikulum, menanggapi sikap Rima. Bagaimanapun dia pernah muda, tahu bagaimana perjuangannya untuk menaklukan hati pacar halalnya hingga langgeng sampai sampai saat ini.
"Nak Mustofa, papa tunggu kamu dan keluargamu datang ke rumah untuk melamar Rima secara resmi."
Mendapat pernyataan seperti itu, membuat dirinya bersorak kegirangan. Namun hanya dipendamnya. Dia segara menghampiri papa Sofyan dan mencium tangannya.
"Terima kasih, Pa. Segera kami ke rumah papa."
Papa Sofyan memeluk Mustofa, berbisik lirih ditelinganya.
"Sabar ya ... menghadapi putriku. Dia itu seperti mamanya. Mulanya mbulet, akhirnya cinta sekali sama aku."
Mustofa senyum-senyum.
"Makasih, Pa. Dikasih rahasianya."
"Tapi awas. Jangan sekali-kali, kau sakiti anakku."
"Insya Allah, Mustofa akan menjaganya."
Lalu Mustofa melepaskan pelukan itu dengan senyum bahagia.
Sementara mama Erika yang memperhatikan dari jauh, kini mendekat pada mereka. Tak lupa Mustofa mencium tangannya pula.
Restu sudah didapat, tinggal mewujudkannya. Semoga tak ada halangan.
Panggilan untuk segera menaiki pesawatpun terdengar. Rima, papa Sofyan dan juga Erika bergegas menuju arah yang ditunjukkan.
"Jangan lupa Nak, papa tunggu ...." kata terakhir, sebelum pergi.
"Segera, Pa ...." jawab Mustofa.
"Rima ...." panggil Mustofa.
"Ya, Kak."
"Selamat jalan."
__ADS_1
Hanya senyuman manis sebagai jawaban .....