Mahabbah Rindu

Mahabbah Rindu
BAB 73 : Kehebohan Keluarga Naura


__ADS_3

"Sudah, Kak. Sudah cakep." goda Mustofa.


"Oke. Terima kasih."


"Maharnya mana?"


"Sudah ini."jawab Ulya senang. Sambil menunjukkan sebuah kunci. Yang terbungkus rapi beserta gelang mutiara.


"Kak Naura sudah tahu?"


"Kejutan lah." sambil menuruni tangga.


Semua keluarganya sudah berkumpul di ruang tamu. Tinggal menunggu dirinya. Agar dapat berangkat bersama-sama.


Tapi sebelum itu Ulya menghampiri ummi dan abbah untuk mohon restu terlebih dahulu.


"Mi, doakan pernikahan kami."


"Ya Ulya. Umi selalu berdoa yang terbaik buat kalian."


"Abbah."


"Awas kalau kamu lari lagi."


"Nggak akan, Abbah."


"Abbah selalu mendokannya yang terbaik buat kalian. Perlakukan dia dengan baik. Agar kamu dapat kebaikan darinya."


"Baik Abbah."


Setelah memanjatkan doa yang dipimpin langsung oleh abbah, akhirnya mereka berangkat.


"Sudah, kita berangkat." ajak abbah pada seluruh anggota keluarganya. Yang hampir berjumlah 50 orang lebih. Yang kesemuanya merupakan keluarga inti ummi dan abbah. Yang lainnya, nanti akan akan hadir pada saat resepsi yang akan diselenggarakan di sebuah hotel.


🔷


Kesibukan tidak hanya terjadi di rumah Ulya. Tapi juga di rumah Naura. Sejak pagi buta, telah ada teriakan-teriakan kecil yang membuat suasana semakin meriah.


Maklumlah, ada banyak anak kecil di sana. Devra saja sudah bikin heboh, apalagi ditambah dengan si kembar, Noval dan Novi.


Jangan di tanya bagaimana mereka membuat pusing mbak Ifroh dan kak Nadya. Yang harus berulang kali melotot melihat keusilan mereka.


Tidak tahu kalau hari ini penting. Mereka tetap bermain-main, sejak turun dari sholat subuh. Hingga saat periasnya datang, mbak Ifroh harus dibuat pusing untuk mencari Devra. Belum mandilah, belum sarapanlah dan .... masih banyak acara yang akan diselesaikan Devra. Hadeeh ....


Tapi untungnya, ketika Naura turun tangan, Devra lansung menurut. Apalagi melihat mamanya berdandan cantik dengan dibantu oleh seorang perias. Dengan sabar, dia menunggu sampai selesai.


Jagoan kembar juga tak kalah heboh. Tahu kalau hari ini spesial, tak henti-hentinya dia minta perhatian. Tak mau diletakkan di keretanya. Maunya selalu dalam pangkuan. Yang jadi sasaran Ahmad dan Hamdan.

__ADS_1


Alhamdulillah, Ulya cukup mengerti tentang keadaan yang akan terjadi. Dia mengirim baby sister untuk membantu Naura mengatasi si kembar.


Tapi tak ayal membuat jam keberangkatan menjadi molor. Rencana jam 08.00, molor menjadi 09.00.


"Ayo cepat."kata Ahmad memberi komando.


Satu bis mini dia sewa untuk mengangkut keluarganya, Hamdan dan lainnya. Sedangkan dia sendiri, menyopiri mobil yang ditumpangi Naura beserta keluarga kecilnya beserta baby sister si kembar.


Sedangkan Salim menyopiri mobil yang ditumpangi istrinya. Dengan membawa pak Farhan, Nadya beserta krucilnya.


Tiba disana sudah ditunggu oleh keluarga Ulya dan juga penghulu. Karena jamnya molor, membuat pak penghulu hendak meninggalkan tempat. Terlihat abbah merayu bapak penghulu untuk menunggu sejenak.


Sedangkan Ulya hanya berdiri di depan pintu masjid, harap-harap cemas, kalau-kalau ijab qobul ini gagal dilaksanakan.Beruntung, tak lama mobil Naura beserta pengiringnya tiba.


Dengan anggun Naura keluar dari mobil yang dibuka oleh kakaknya. Lalu diiringi si kembar yang dalam pangkuan baby sister yang di bantu oleh Ahmad.


Ummi yang tahu cucunya telah hadir, segera menghampiri dan mengambil Akmal dari tangan Ahmad.


Tak mau kalah dengan Ummi, Nyonya Efsun pun melakukan hal sama. Dia datang menghampiri baby sister itu dan mengambil Akram. (sesama nenek nggak boleh rebutan)


Mereka mengiringi Naura, berjalan ke arah ruangan utama masjid. Yang menggandeng Devra di sampingnya.


Akhirnya baby sister itupun pelan-pelan mengundurkan diri menghampiri rombongan pengiring. Karena pekerjaannya sudah terwakili oleh sang nenek dan nenek. Yang memeluknya dengan bahagia.


Ulya yang menatap calon keluarga kecilnya tersenyum tanpa henti. Segera dia melambaikan tangannya ke arah Devra. Dia sudah tak bisa menahan kerinduannya pada putri kecilnya itu. Yang telah meninggalkannya selama beberapa hari ini.


Benar kata Devra, bisik hati Naura yang menatap Ulya dari balik cadarnya. Membuat jantungnya dag ... dig ... dug, tak menentu.


"Ma, papa manggil. Aku ke sana ya..."


Ingin dia mencegahnya, karena dengan memegang tangan Devra, rasa gugupnya sedikit berkurang.


Tapi belum sempat dia mengatakan jangan, Devra sudah berlari terlebih dulu, menghampiri papanya. Yang memberi pelukan dan ciuman hangat.


Beruntung papa Salim datang menghampiri. Dan menggandeng tangannya yang mulai mendingin. Memasuki ruang utama masjid yang sudah dihias indah , untuk acara ini.


Semua sudah memasuki ruang utama. Dan acara sakral pun dimulai. Tak banyak tahapan yang harus dilaluinya. Sehingga acara ijab qobul pun selesai dilaksanakan dalam waktu singkat. Tak lebih dari sepuluh menit.


Devra yang terus bermanja dalam pangkuan papanya, akhirnya menemani papanya untuk mengucapkan ijab qobul di hadapan papa Salim dan penghulu.


Dengan tertegun dia menatap papanya mengucapkan sighoh qobul. Yang diikuti kata sah penghulu dan juga semua yang hadir di ruangan itu.


"Papa ngomong apa?"


"Kok semua sama berteriak sah." tanyanya.


Mulai dech, bisik hati Ulya.

__ADS_1


"Sekarang mama sudah sah jadi milik papa dan juga Devra."


"Berarti kemarin belum sah gitu?"


Ulya hanya senyum-senyum menatap putrinya itu. Anak pinter ....


Benar-benar Ulya dibuatnya bingung, dengan pertanyaan yang tepat mengenainya. Nach lo ....


"Sekarang beri salam mama, dan ajak mama kemari."


"Oke," jawab Devra senang.


Dia segera berjalan menghampiri mama Naura dan memeluknya manja.


"Mama, kata papa sekarang mama sudah sah sah jadi milik papa dan Devra."


Kamu ini ngomong apa sih, Devra. Bisiknya dalam hati, sambil menyentuh hidung putri kecilnya itu.


Lalu mereka berfoto bersama dengan pak penghulu juga. Keluarga kecil mereka Akmal dan Akram yang dipangku para nenek.


Beginilah kalau duda beranak dan janda beranak bertemu. Banyak yang ikut serta dalam moment mereka berdua.


(Jangan dibayangkan bagaimana mereka melewati malam-malamnya)


Dikarenakan pak penghulu yang harus menghadiri acara ini di lain tempat, diapun berpamitan.


"Assalamu'alaikum ..., silahkan dilanjutkan acaranya." ucapnya sambil berlalu.


"Wa'alaikum salam ...," jawab Kami semua.


Lalu beliau diantar abbah dan papa Salim keluar dari masjid.


Kemudian seremonial lainnya dilanjutkan. Dari pembacaan ayat suci Al Qur'an hingga kutbah nikahnya.


Usai sudah acara ini, semuanya menuju ke halaman belakang masjid. Di situ telah di sediakan tenda-tenda yang menyediakan berbagai menu, siap untuk disantap para tamu.


Terlihat Akram merengek, segera Naura meraihnya. Lalu berjalan ke pojok ruangan meninggalkan para tamu.


"Kenapa Akram, Sayang." ujar Ulya lembut.


"Sudah waktunya tidur siang." kata Naura sambil memberikan asi-nya pada Akram.


"Kak."kata Naura yang langsung mendapat tatapan mata membulat dari Ulya.


"Baiklah, Mas. Tolong suruh mbak Binti kesini bawa keretanya."


"Nach, itu lebih baik." kata Ulya senang.

__ADS_1


__ADS_2