Mahabbah Rindu

Mahabbah Rindu
BAB 71 : Memendam Rindu


__ADS_3

Maksud hati hendak makan, tapi entah mengapa seleranya kini menghilang. Seiring dengan kesunyian yang dia rasakan.


Semakin mendekati hari H, mengapa kerinduannya semakin memperdaya hatinya untuk senantiasa berjumpa dan bersama. Maka ditinggalkannya meja makan dengan rasa enggan dan lemas. Bukan karena apa, tapi tak ada yang mengganggu atau diganggunya.


Tak ingin kesepian di rumah, sesegera mungkin dia membersihkan diri. Lalu menyusuri jalan setapak yang menghubungkan rumah mereka berdua.


Mustafa yang sejak datang senantiasa memperhatikan kakanda tersayang senyum-senyum sendiri. Nich kakak bucin amat,Baru juga ditinggal sebentar sudah rindunya luar biasa. Batinnya berbisik kata yang membuatnya tertawa.


Tapi tak ingin mengganggunya. Dia menatap Ulya dari atas balkon, menyaksikannya pergi meninggalkan rumah dengan tergesa.


Setelah puas, ia mengambil koran yang tergeletak di meja. Baru berhenti manakala ada suara dering telepon dari hp.


Ah, ternyata Rima. Diapun tersenyum. Segera dia mengangkatnya dan menyapa.


"Assalamu'alaikum ..., Kak."


"Wa'alaikum salam .... Tumben, ada apa?"


"Aku belum beli kado buat Nur. Bisa antar nggak?"


Pucuk dicita, ulampun tiba. Hatinya berpantun ria, berharap inginnya yang tersimpan akan menjadi nyata. Seseorang yang hendak jadikan halal untuknya.


"Oke, aku juga belum siapin kado untuk kakak."


"Yaudah, kita pergi sama-sama."


"Ok, tunggu sebentar."


Mustafa tak ingin melepaskan kesempatan yang datang tak terduga. Dengan cepat diraihnya baju tebal dan juga syal. Sedikit berlari menuju mobil terparkir di depan rumah.


Kalau dipikir-pikir, ternyata dia tertular juga penyakit bucin sang kakak. Tanpa sadar, bibirnya pun menyungging senyuman, mentertawakan diri sendiri. Sambil melajukan mobil di jalanan menuju apartemen nya, tempat Rima dan keluarganya menginap.


Sesampainya disana, dia sudah ditunggu di depan Apartemen nya oleh gadis Indonesia. Siapa lagi kalau Rima. Umurnya sich tak terpaut jauh. Hingga mudah untuk akrab.


Merekapun menikmati sore dengan puisi lembayung senjanya.


🔷


Lain Mustafa, lain pula Ulya.


Sesampainya di rumah Efsun, dia mendapati Hamdan di beranda belakang.


"Assalamu'alaikum ...,Kak Hamdan."


"Wa'alaikum salam .... Gimana kabarmu?"


"Baik, Kak."


"Terima kasih. Tanpa undangan dari kamu tak mungkin aku bisa ke sini."


"Nggak apa-apa, Kak. Akhir-akhir ini aku sering melihat Nur diam, seperti merenung. Mungkin kangen sama kalian." ujarnya sambil melihat ke dalam rumah. Mungkin yang di rindu ada di dalam dan melihatnya. Lalu keluar menemuinya.


Kan tak mungkin, begitu saja dia masuk. Bukan rumahnya.


Hamdan menyimpan senyum ketika melihat gelagat Ulya. Bukannya dia tak tahu kalau Ulya ingin bertemu Naura. Tapi, dia ingin sedikit menggodanya.


"Hai kenapa kamu berdiri. Ayo duduk!" ajaknya.


Ulya tak bisa menolak. Dengan gelisah dia duduk menemani Hamdan ngobrol.

__ADS_1


"Tadi aku lihat ada gadis kecil. Itu putrimu?"


"Oh, itu Devra. Ya benar dia putriku."jawab Ulya sekenanya. Habis nggak konsentrasi.


"Kamu duda, tho. Baru tahu aku."


"He ... he ...."


"Jadi ini ceritanya duda dapat janda."


"Kak Hamdan ada-ada saja." jawabnya tanpa menatap Hamdan.


Dalam hati ingin tertawa tapi tak tega.


"Kok lemes?"


"Ya, belum makan."


"Ya sebentar, aku ambilkan. Kita makan di sini. Sambil menikmati salju turun."


Naura, kenapa kamu tak keluar-keluar sih. Dia memijit-mijit pelipis nya.


"Kamu pusing?"


"Nggak apa-apa."


Ah mungkin sebentar lagi Naura mau keluarkan. Menghidangkan makanan, batinnya memanggil.


Belum sampai Hamdan masuk, Ifroh sudah keluar. Membawa minuman dan makanan kecil.


"Tuan cari nyonya?" tanya Ifroh dengan polosnya.


Hem ... hem ... hem .... Hamdan berdehem menghentikan kata-kata Ulya.


"Kita makan dulu."


"Bener." jawab Ulya tergesa.


"Saya siapkan dulu, Tuan." jawab Ifroh.


"Kita makan di sini,Mbak."kata Hamdan.


"Ya, Tuan. Makanan saya bawa ke sini."


Rasanya ingin marahi itu, kakak ipar. Habis dari tadi sepertinya kita nggak boleh ketemuan. Tahu kaya gini, nggak aku undang ke sini. Habiskan biaya, malah bikin kita ....


Astagfirullah ... maafkan daku Tuhan, telah tergoda untuk menghapus keikhlasan dalam hati.


Tak lama, Ifroh datangnya dengan membawa makanan di napan. Menghidangkannya di atas meja.


"Silahkan, Tuan."


"Makasih, Ifroh."


"Ya Tuan, Ifroh ke dalam dulu."


Sebenarnya makanan itu cukup berselera, tapi kalau tak ada ..., jadi tak berselera lagi. Dengan enggan dia mengikuti Hamdan, mengambil nasi beserta lauk pauknya.


Dan yang membuat hati ini bertambah sebel dan makin hilang nafsu makan, eh ... tiba-tiba si Ahmad ikut nimbrung. Setali tiga uang, ini pasti, gerutunya.

__ADS_1


"Hai, Ulya. kamu di sini tho?" sapa Ahmad.


Dengan terpaksa dia melanjutkan makannya. Daripada harus meladeni calon kakak iparnya yang resek itu.


"Sebagai tuan rumah yang baik, aku temani makan, ya." katanya sambil mengambil kursi di samping Ulya. Tapi Ulya tak menyahuti juga.


Meski demikian, tetap saja dia mengambil makanan itu. Kan ini rumahnya, kenapa juga minta ijin. Aku tuan rumah, dia tamu. Pikirnya sambil menatap Ulya dengan senyum-senyum.


Hamdan yang sedang asyik menikmati hidangan, ikut tersenyum juga. Menikmati wajah gusar Ulya yang sudah tampak sejak dia datang. Dia makin tak berkutik.


Ada teman untuk menggoda calon adik ipar, bisikan samar yang terlintas di angan Hamdan.


Selesai juga, acara makan-makannya. Tetapi orang yang dicarinya, belum menampakkan batang hidungnya. Kok bisa sih, Naura nggak keluar-keluar. Bisik hati yang sedang merindu.


Beruntung Devra melintas di hadapannya.


"Devra, sini Sayang."


"Ada apa, Pa." jawabnya bingung. Sepertinya dia tergesa-gesa.


"Mama mana?"


"Carilah sendiri, Pa. Aku lagi main petak umpet sama Novi dan Noval." jawabnya sambil berlari bersembunyi di balik pintu.


Wajahnya makin gusar. Tapi Hamdan dan Ahmad tak mempedulikannya. Mereka asyik ngobrol sendiri. Sesekali melirik pada Ulya.


"Maafkan anak-anakku, Ahmad. Bikin kacau rumahmu."


"Tenang saja Kak.Hamdan. Aku menikmatinya. Dan aku senang. Dan Devra tak ganggu aku lagi. Karena sudah ada mereka."jawab Ahmad santai.


Masa kanak-kanak yang menyenangkan, gumamnya Ahmad.


"Tapi papamu nggak terganggu?"


"Paling kalau dia terganggu, dia akan mengurung diri di kamar. Buktinya tidakkan. "


"Terima kasih."


Tak terasa berbincang-bincang di beranda ini bisa menghabiskan waktu. Dan baru berhenti, manakala terdengar suara azan dari masjid, di kompleks ini.


"Kita ke masjid, yuk."ajak Ahmad.


"Benarkah, oke. Aku ajak bapak dulu."


"Ayo, Ulya. Jangan bengong. Surup-surup, kesamber syetan lho, kalau kamu nglamun seperti ini." kata Ahmad menggoda.


Mereka mengikuti Ahmad melewati tengah rumah. Di tengah langkahnya,Ulya berharap dapat bertemu dengan Naura.


Tapi, sampai dia di beranda depan, dia tak menemukan orang yang dicarinya. Ah sudahlah ....


Dia berpasrah pada nasib yang sekarang mengiringinya. Me ... ra ... na. 😔


Tata hati, tata niat untuk melangkah pada Yang Maha Pemberi Kasih. Agar tersampaikan rasa rindu ini pada saatnya yang tepat.


Nanti kan bisa vidiocall, menjelang tidur. Ulya .... Stop.


INGAT


Allahu Akbar ....

__ADS_1


__ADS_2