Mahabbah Rindu

Mahabbah Rindu
BAB 23 : Persiapan


__ADS_3

"Naura, kamu nggak apa-apa?"kata Ahmad cemas.


" Nggak apa-apa,memangnya ada apa Kak?"


Melihat wajah Ahmad yang demikian, membuat Nur cemas juga.


"Aku ketemu Ulya di jalan. Katanya, Kamu baru saja mengalami percobaan penculikan. Benarkah itu, Naura?"


" Alhamdulillah ada kak Uya yang menolong Naura. "


"Syukurlah."


"My wife, come here?"


Nyonya Efsun mendekati tuan Salim. Lalu mereka masuk ke dalam rumah, berbisik-bisik sebentar.


" Kak, ada apa dengan daddy. "


"Tenanglah. Tak ada apa-apa. Daddy hanya khawatir kalau itu kejadian lagi."


Tak lama kemudian, nyonya Efsun menghampiri Nur.


"Naura, kita ke kamar sebentar."


"Ada apa, Mom."


"Daddymu itu macam-macam. Pakai nggak percaya kalau kamu itu putrinya. Kebetulan hasil DNA belum keluar."


Sambil berjalan ke kamar Nur. Nyonya Efsun bertanya berbagai hal tentang dirinya yang mungkin sangat pribadi.


"Naura, kamu punya tanda lahir Nak?"


"Kata ibu, punya. Cuma aku tak bisa melihatnya."


"Nach, itu tanda utama kamu itu putriku. Coba mommy periksa."kata nyonya Efsun ketika mereka sudah di dalam kamar.


" Malu, Mom."


Nyonya Efsun tersenyum.


"Sama mommy?"


"Letaknya rahasia banget, Mom."


"Atau kamu tak ingin daddymu yang menikahkanmu?"


"Kok gitu sih, Mom."


"Hasil DNA-mu belum keluar. Jadi satu-satunya jalan adalah dengan melihat tanda lahirmu?."


"Mom."


"Menurut saja pada mommmy. Untuk kebaikan kita bersama. "


"Letaknya di pangggul bawah, bentuknya hati."


"Ya , Mommy melihatnya "


Lalu Naura merapikan bajunya kembali.


"Kamu masih canggung, Sayang. Padahal ini mommymu sendiri."


"Maafkan Naura, Mom."


Nyonya Efsun memeluk Naura.


"Nggak apa-apa, Mommy mengerti."


Mereka berjalan keluar kamar sambil berbincang-bincang.


"Mungkin besok, mommy sudah tidak di sini lagi."


"Kok?"


"Daddymu mau beli rumah di sini. Untuk hadiah pernikahanmu. Sementara kami tinggali dulu."

__ADS_1


"Oh, kukira mommy mau pulang. Naura masih kangen."


"Sebentar, mommy mau ke daddymu. Kakakmu saat ini juga mau balik ke Turki."


"Berarti nggak bisa menyaksikan Naura menikah."


"Kan sudah ada daddy, Sayang. Nanti waktu resepsi datang."


"Sementara dia mengurus perusahaan daddymu di sana," imbuhnya.


"Nur, siapkan kue untuk kakak."


"Hem, mommy tunggu di depan."


Nyonya Efsun menuju ke ruang tamu, sedangkan Nur menuju dapur. Tak perlu waktu lama untuk menyiapkan oleh-oleh untuk Ahmad dan pak Arman. Lalu dia sudah kembali ke depan.


"Adikku sayang, jaga diri baik-baik. Besok hari pernikahanmu."


"Ya, Kak."


"Kakak pergi dulu."kata Ahmad. Tak lupa dia menghadiahi kecupan kecil di pucuk kepalanya.


"Daddy juga mau pergi. Sampai jumpa besok."


Tuan juga melakukan hal yang sama.


"Assalamu'alaikum ..."


"Wa 'alaikum salam ..."


Mereka bertiga meninggalkan Nur dan juga nyonya Efsun yang memandang dengan senyuman, hingga menghilang di ujung pelataran.


Kemudian keduanya melanjutkan aktifitas yang sempat tertunda.


Membantu kak Nadya dan juga bu Farhan untuk menyiapkan hidangan nanti malam, yaitu kue dan juga masakan. Yang dibantu oleh bebrapa tetangga di sekitar rumah mereka.


Nyonya Efsun menghampiri mereka. Bercengkrama sekaligus membantu mereka membuat kue-kue untuk nanti malam.


"Mommy mbak Nur pintar, rapi sekali membungkus koci-kocinya." kata mbak Ika, tetanggaku.


"Aku suka Indonesia, disini macam-macam kulinernya. Dan enak-enak," jawab nyonya Efsun.


"Nur jagonya, Nyonya. Sejak SMA sudah terima pesanan. Bahkan dibawa juga ke sekolah."


"Dan juga dititipkan ke toko-toko juga."


Entah mengapa mbak Ika nggak bisa menghentikan perkataannya.


Sejenak nyonya menghentikan kegiatannya, menatap mbak Ika dengan diam.


Bu Farhan menjadi tidak enak hati dengan semua itu. Apalagi kemudian nyonya Efsun mencuci tangannya dan meninggalkan mereka semua menuju ke kamar Nur.


Bu Farhan dengan tergesa menyusul nyonya Efsun.


"Maafkan kami Nyonya, tidak bisa memberikan penghidupan yang baik untuk Nur."


"Ibu tidak bersalah. Nggak ada yang salah dengan semua ini. Hanya saya tidak sanggup membayangkan semua itu."


"Aku tidak tahu harus bagaimana untuk menebus semua itu pada Naura."jawab nyonya Efsun dengan mata berkaca-kaca.


" Dan kami mungkin tak bisa menggantikan semua yang kalian berikan pada Nur."


"Nyonya jangan berkata seperti itu. Nur itu anak kami. Kami tak menginginkan apapun kecuali Nur kecil bisa tumbuh dengan baik."


"Kalian sungguh orang yang baik. Kami amat berterima kasih. Apalagi sampai menikahkannya pula."


Bu Farhan masih diam.


"Kalau kalian memerlukan apa-apa, katakan pada kami."


Dengan malu bu Farhan berkata,


"E... maaf nyonya. Untuk baju buat ijaban Nur besok, saya belum pesankan."


Mendengar itu, nyonya Efsun menjadi tertawa.

__ADS_1


"Kalian memang benar-benar orang tua Naura. Aku, mommynya bisa sampai lupa."


"Maaf nyonya."


"Jangan khawatir, insya Allah terselesaikan. Aku mau temui Naura dulu."


"Kalau begitu saya berterima kasih sekali, Nyonya."


"Saya yang seharusnya berterima kasih."


Keduanya keluar dari kamar Nur menuju dapur, yang sudah dinanti Nur dengan cemas. Khawatir kalau-kalau mommy Efsun salah faham terhadap bu Farhan, akan kata-kata yang disampaikan mbak Ika.


"Naura, come here. I want to talk."


"Ya, Mommy. Pakai bahasa Inggris lagi. Gagal dech Naura jadi guru."ujar Nur saat sudah dekat dengan nyonya Efsun.


"Putri mommy emang ..."


Dia cubit pipi Nur yang ada di balik cadar.


"Gini Naura, besok kamu pakai baju apa untuk ijaban di KUA?"


"Aku telpon Rima dulu."


"Siapa?"


"Calon adik ipar. Adiknya mas Andre."


"Oh ..."


Sejenak Nur menghubungi Rima melalui hp yang dia punya. Tak lama kemudian terlihat Nur yang menatap nyonya Efsun dengan tertawa dan membulatkan matanya.


"Sudah diurus sama Rima, periasnya juga. Ba'da subuh mereka ke sini. Tapi ..."


"Pembayaran?"


"Sudah diurus sama mas Andre."


"Lalu?"


"Bonus untuk Rima."


"Wuaalaaah ... adik iparmu matre juga. Beres, nanti Mommy yang transfer."


"Terima kasih, Mom," kata Nur mencium pipi nyonya Efsun.


"Sudah sana, bantu ibumu."


"Mommy nggak marah."


Nyonya Efsun hanya geleng-geleng kepala melihat putrinya yng sudah mau menikah tapi masih saja centil dan juga manja.


"Justru mommy bangga."


Siang beranjak malam. Hingga acara doa itu selesai dilaksanakan.


Demikian juga khotmil Qur'an yang dilakukan di rumah Andre.


Semoga besok lancar ya ...


💎


Pagi-pagi buta, setelah sholat subuh dilaksanakan. Orang yang dijanjikan Rima telah datang. Tak ayal membuat Nur gelabakan. Mana belum mandi lagi.


"Mbak Hesti, tunggu disini sebentar." kata Nur mempersilahkannya duduk di ruang tamu.


Dia segera berlari menuju kamarnya, mandi. Maunya cepat-cepat, tapi perutnya pagi ini sepertinya tidak mau diajak kompromi. Kadang ingin pipis, kadang seperti mau bab. Merepotkan sekali. Hingga berulang kali Nur harus bolak-balik ke kamar mandi.


Bahkan dia hampir saja lupa kalau harus membersihn dirinya dengan air sirih dan bunga melati yang sudah di siapkan oleh bu Farhan. Mungkin efek gugup yang berlebihan.


Selesai juga dia mandi, kini siap untuk dirias mbak Hesti. Eh ... telponnya berdering. Rupanya dari mas Andre. Ada apa gerangan?


___________________


Readers yang budiman, mohon dukungannya berupa like, vote atau saran agar author bersamangat dalam berkarya.

__ADS_1


__ADS_2