Mahabbah Rindu

Mahabbah Rindu
BAB 83 : Engkau Kekasihku


__ADS_3

Saat Ulya datang, si kembar dalam keadaan tertidur pulas di dalam box nya. Dia mendekati si kecil, tapi tak berani menyentuhnya. Belum cuci tangan dan kaki. Takut menularkan kuman yang terbawa dari luar. Imunnya masih belum terbentuk sempurna. Tentu masih rawan.


Tapi kalau pada mahluk cantik yang ada di sebelah sana, pasti dia tak tahan untuk segera menyentuhnya. Biarpun badan masih lepek sekalipun. Kan dia sudah besar. Imunnya lebih kuat kalau ada virus yang datang. Terutama virus segede gini. He ... he ....


Dalam keadaan bagaimanapun, Naura terlihat manis di matanya. Segera dia mendekati, lalu memberi kecupan kecil di pipi. Membuat Naura mengeliat sesaat.


Dia menikmati reaksi Naura yang membuatnya gemas. Sayang, badannya masih lepek dengan air laut, nggak nyaman.


Segera dia menuju kamar mandi, membersihkan diri. Tak lama dia telah kembali dengan tubuh segar. Dengan sebuah handuk membalut tubuhnya.


Dengan tenang dia menuju almari, untuk mengambil baju ganti. Dan segera memakainya. Tak lupa memakai wangi-wangian yang segar ....


Tanpa dia sadari sepasang mata, memandang dengan tersenyum. Lalu terpejam lagi karena malu.


Setelah dirasa nyaman, dia mendatangi ranjang, di mana istrinya tampak memeluk guling. Berlahan dia menarik guling itu. Membuat Naura berdebar-debar. Karena sejak tadi, dia terbangun. Namun tak berani membuka mata ....


Dia sentuh istrinya dengan lembut. Dan menyibak helai rambut yang menutupi wajahnya nan ayu. Dan membiarkan dirinya terpesona dalam pemandangan yang menyegarkan mata.


"Yang, kamu nggak pura-pura tidur, Kan?"


Yach .... ketahuan dech.


Naura membuka matanya dengan senyum tipis di bibirnya yang merah merekah. Membuatnya makin tergoda.


"Mas, sudah pulang tho?"


"Ya, sudah. Kangen kepingin ketemu kamu." rayunya menghanyutkan jiwa. Tak apalah ... sudah halal.


"Gombal mukiyo."teriaknya lirih dengan mata membulat sempurna. Dan tangan mencari-cari guling yang telah disingkirkan Ulya.


"Senang atau senang."kata Ulya. menggoda.


"Menyebalkan."


Tangan Naura memukul ringan dada kekasihnya.


Sakit sich iya. Tapi dia senang.


Dia sambut pukulan itu dengan tertawa saja. Sampai Naura menghentikan sendiri aksinya. Dan membenamkan kepalanya di dadanya yang bidang.


"Sudah?"


"Mas. Kok goda terus sich."


"Kenapa emang." jawabnya sambil mencium rambut Naura.


Membuat Naura tertunduk malu dan juga nyaman. Bagaimana tidak ... sedangkan Ulya tak mau melepas pelukannya sekalipun. Sehingga kehangatan dapat dia rasa di sekujur tubuhnya. Yang juga merindukan belaian lembut kekasih tersayang.


"Mas, bolehkah aku tahu apa yang ...."


Belum selesai dia berkata, Ulya sudah membungkamnya dengan ciuman hangat. Hingga terlupa apa yang ingin diungkapkannya.


Angannya melayang bersama dengan sentuhan lembut yang diterima. Tak ingin berlari, tapi dia mengimbangi dengan balasan yang sama.


Awal yang manis untuk mengarungi samudra asmara yang telah lama terpendam. Kini hendak diurai dalam mahligai kasih sempurna dan berpahala.


...

__ADS_1


....


"Apa yang pingin kamu katakan tadi, Yang?" ujarnya, setelah mencium kening istrinya. Dan masih membiarkan kepala Naura bersandar di bahunya.


"Itu ... tentang Mustofa."


Nafasnya berat berhembus, menyadarkan pada luka yang dia derita. Meski tampak tangguh di mata Mustofa, Tapi tak demikian dengan wanita yang telah dia percayakan hatinya.


"Maafkan Naura, Mas."


"Tak apa ... kamu berberhak tahu apa yang ada di hati mas. Tapi jangan dustai mas. Bagaimanapun juga mas manusia biasa yang kadang lelah dengan beban yang harus mas tanggung. Apalagi dengan hati."


"Sebenarnya apa yang terjadi?"


"Sulit mas melepaskan Devra, tapi itulah kenyataannya."


"Maksud, Mas. Devra putrinya Mustofa?"


Ulya hanya diam, menatap Naura yang mulai menitikkan air mata.


"Kenapa menangis?"


"Kurasa itu tak adil. Kakak yang selalu ada untuk Devra. Tapi Mustofa mau mengambilnya begitu saja."


Ulya menatap bening mata Naura, tertegun.


"Bibir ini tadi bilang apa ya?" kata Ulya sambil menyentuh bibir Naura, yang menatapnya dengan kesedihan.


"Jangan panggil mas dengan sebutan kakak. Karena sekarang kamu tidak kecil lagi, apalagi sudah berputra. Cocoknya jadi kekasih Mas."


"Ya, Sayang."ucap Naura dengan tersipu malu di dada Ulya.


"Mas ...."ingin Naura berteriak dengan sikap Ulya yang membuatnya gemes juga. Akhirnya dia hanya memainkan jemarinya di dada suaminya dengan merajuk dan manja.


"Ada apa, nggak rela?"


Dia tak menjawab, masih memain-mainkan apa yang ada di dada suaminya. Membuat Ulya semakin mendekapnya erat.


"Kita bisa bikin lagi."


"Gitu dech. Ke situ juga muaranya." Terlihat Naura cemberut.


"Lho nggak apa-apa, kan. Mumpung masih muda, saat mereka membutuhkan , aku masih ada?" kata Ulya sambil tertawa menggoda istrinya.


"Ya ... ya ... aku ngerti kok." jawab Naura terus terang. Yang segera mendapat pelukan erat suaminya.


"Gitu dong. Tapi Sayang boleh kok menunda dulu program Adik Devra. Asalkan yang aman."


"Pakai kb kalender ya?" ujarnya sambil mengedipkan mata dengan manja.


"Boleh. Tapi aku nggak nanggung kalau kamu yang lupa apalagi pura-pura lupa." kata Ulya yang disambut dengan satu bulu tercabut dari akarnya.


"Aww ... "teriak Ulya lirih, takut membangunkan jagoan kecilnya.


Naura makin cemberut.


"Adanya sich mas yang ...." Satu ciuman kecil dia berikan di bibir istrinya.

__ADS_1


"Apa?" kata Ulya. Dia menatap Naura dengan gembira penuh kemenangan.


"Sudah, jangan sayang pikirkan masalah itu. Tuhan pasti mentakdirkan sesuatu itu selalu dipenuhi dengan kebaikan. Percaya, nggak?"


Naura mengangguk meski masih dengan wajah cemberut manja.


"Rasanya berat berpisah dengan Devra."


"Tak mungkin kita bisa melepaskannya. Sampai Mustofa bisa menerangkan pada Devra siapa dirinya."


Yang pasti pr bagi kita untuk menerangkannya pada Devra."


"Bisa?"


"Tak mungkin. Kalau itu dia lakukan atau kita lakukan, sama saja dengan menghancurkan Devra. Kamu faham maksud mas."


Tampak Naura berfikir lama.


"Itu berarti, dia sama sekali nggak bisa ambil Devra dari kita."


"Devra lahir dalam pernikahanku dengan Hagya, mamanya Devra. Lalu dia hanya berbekal hasil DNA."


"Lalu?"


"Kita hanya bisa mengajari Devra memanggil papa padanya, tak lebih. Selanjutnya tergantung Mustofa."


"Yang pasti Devra akan terguncang, jika mengetahui yang sebenarnya. Apa kamu tega?"


Naura menggelengkan kepala.


"Aku harap Mustofa juga berfikir demikian."


Terlihat Naura masih bingung dan sedih memikirkan masalah ini.


"Sudah-sudah, jangan kamu pikirkan. Yang pasti Devra masih dalam keluarga kita. Dengan 2 papa dan 2 mama."


"Yang, kita mandi bareng, ya!"


"Lha, nanti yang jaga Akmal dan Akram siapa?"


"Sebentar saja kok, Yang." kata Ulya sambil memeluk erat Naura.


Belum juga mereka turun dari ranjang, Akmal dan Akram menangis bersamaan.


"Nach, itu mereka bangun." ujar Naura sambil merapikan rambutnya.


Dengan sedikit berlari Naura mengambil Akram untuk disusuinya. Sedangkan Akmal sepertinya tak sabar menunggu gilirannya.


"Aku sabar menunggu, kok." sahut Ulya sambil meraih Akmal dalam ayunannya. Namun tak bisa menghentikan tangisnya.


Akhirnya dengan bantuan Ulya, Naura bisa menyusui mereka bersama-sama. Sehingga mereka kembali tertidur pulas.


...


...


....

__ADS_1


Jangan lupa vote dan likenya.


coment atau saran juga boleh


__ADS_2