
Saat di pesawat helikopter, Ulya mengirimkan banyak wa kepada Mustofa.
[Kalau Rima kamu ajak ke pesawat, nantinya kalian malah nggak mau turun. Lebih baiknya kamu antar keluarganya sampai pintu masuk saja]
[Maksudnya gimana]
[Lha emang, pengantar nggak boleh masukkan]
[Pinter ....]
Ginilah kak Ulya, selalu saja ngeledekin terus. Bikin kesel.
[Kakak ini ada aja.]
[Bukannya gitu. Belum saatnya Istrimu tahu kerasnya kehidupan kita. Aku aja belum bisa membuka ini dari yayangku. Bukannya aku tak berani. Aku masih ingin berlama-lama berbulan madu sama yayang dan anak-anak. Dan kurasa di pesawat ini tempatku berbulan madu. Jangan ganggu ya ....]
[Idih .... Mau nambah lagi ceritanya.]
[Hehehe ....]
[Sudah. Kakak mau ngomong apa tho?]
[Aku titip Ifroh. Ngerti maksudku kan?]
[Ya, Kak. Nanti aku bilang ke papa. Biar bisa kerja di perusahaan papa.]
[Oke ... Selamat menikmati malam pertama.]
Aish .... Pada akhirnya gitu dech.
[Assalamu'alaikum ...] tulisan akhir Mustofa.
Dengan sedikit dongkol Mustofa menutup handphone-nya. Tanpa menunggu salamnya terjawab.
Tak berapa lama, mobil rombongan Abbah telah berhenti di depannya. Tampak papa Sofyan keluar dari mobilnya. Segera Mustofa menyambutnya dengan mencium telapak tangannya. Papa Sofyan menyambutnya dengan pelukan hangat.
"Bagaimana keadaan Devra?"
"Sudah baikkan, Pa. Sekarang sudah dibawa kak Ulya ke bandara Halim."
Sedangkan Rima berdiri dengan bersandar di sisi mobil. Menanti Mustofa melihatnya. Ada sedikit kegelisahan yang Rima rasakan, manakala melihat Mustofa hanya mengobrol dengan papanya, tanpa memperhatikan dirinya yang menanti sapaannya.
__ADS_1
Untungnya, papa Sofyan termasuk mertua yang tanggap ... atau sebaliknya.
"Nak Mustofa, papa capek. Kamu aja yang nyetir." Sopyan segera menuju sisi lain dari mobilnya. Meninggalkan Mustofa yang pandangannya tertuju pada wanita yang kini sudah sah jadi istrinya .
"Mas. Aku sangat khawatir waktu Mas nggak bisa datang."
"Sayang, maafkan Mas." bisik Mustofa saat sudah sebegitu dekat dengan Rima.
Tak dapat dipungkiri kalau dirinya juga galau, manakala tak bisa hadir dalam acara ijab qobul mereka. Ingin segera memeluknya, tapi masih ada mertua. Malu ah ....
"Mas ...." Rima mencoba memanggil dengan manja. Yang membuat getar-getar lembut di jiwanya. Dan yang pasti angannya mulai mengembara tak tentu. Tapi apa daya, banyak pasang mata yang sedang memperhatikannya.
"Ya, Sayang." jawabnya, tak kurang tak lebih. Sekedar menentramkan kekasih halalnya.
"Kita lanjutkan ngobrolnya nanti saja ya .... Sudah tertinggal jauh sama abbah."Rupanya Mustofa ingin menghindar. Dia membuka pintu depan. Yang membuat Rima kecewa, dan segera berbalik badan, membuka pintu yang kedua.
Cup. Satu ciuman kecil mendarat di pipi, membuat dirinya tersipu malu. Mungkin begini sikap mas Mustofa. Lebih suka memberi kejutan ....
Membuat angannya melayang ...
"Masuklah." kata Mustofa dengan membuka pintu itu dengan sempurna. Dengan bahagia Rima memasuki mobil itu. Mama Erika dibuatnya senyum-senyum dengan tingkah laku putrinya. Manja plus norak ... norak .... Lalu pura-pura matanya terpejam. Biar mantunya nggak malu. Mertua pengertian ....
Setelah Rima masuk, diapun menutup pintunya. Baru kemudian, menuju ke tempatnya. Di samping papa Sofyan, dibelakang kemudi. Dengan cepat dia menghidupkan mobilnya, mengejar mobil abbah yang melaju kencang menuju jalan bebas hambatan. Tak lama kemudian dia sudah bisa menyusul mobil abbah. Dan kini mereka sudah berjalan saling beriringan dengan kecepatan penuh pula. Maklum di jalan tol ....
Mustofa menghentikan mobilnya. Lalu menghampiri mobil abbah yang hampir memasuki pelataran bandara. Tak lama, abbah pun keluar beserta keluarga menghampiri keluarga papa Sofyan. Mereka mengantarkan besannya hanya sampai pintu gerbang. Setelah melepas kepergian mereka hingga menghilang dari pandangan, Mustofa mengambil alih mobil abbah. Sedangkan papa Sofyan kembali di mobilnya sendiri.
"Nak Mustofa kita nginap di hotel saja. Papa sudah capek banget."
"Baik, Pa."
Papa Sofyan sudah kembali mobilnya, namun entah mengapa Rima tak juga datang kepadanya. Bikin Mustofa celinguan. Apa minta disamperin ya ....
Ah peduli amat ....
Mustofa kembali lagi ke mobilnya. Pura-pura tak peduli. Sedangkan Rima bingung antara ikut papa Sofyan atau ikut lelaki yangh kini jadi suaminya. Dirinya menantikan Mustofa mengajaknya. Tapi ditunggu lama, tak juga Mustofa menghampiri. Dengan enggan dia masuk ke dalam mobil papa Sofyan.
"Rima, kamu nggak ikut suamimu?"
"Mas Mustofa nggak ngajak."
"Ya ... kalau nggak ngajak, kamunya yang ke sana. Samperin."
__ADS_1
"Yang bener saja Papa ini ... Rima malu, lah."
"Sama suami sendiri?"
Rima diam, tak bisa jawab. Ingin juga gitu, tapi ....
Kalau dipikir-pikir tak salah juga.
"Sudah keluar sana. Papa juga mau berduaan sama mamamu."
"Idich Papa ...."
"Ya, kan Ma."
"Hem ...."
Erika sich tak peduli, matanya sudah benar-benar nggak bisa diajak kompromi. Dia biarkan saja suami dan anaknya berdebat. Dia ingin menikmati kantuknya dengan tenang.
Rima mencoba mengambil nafas panjang, dengan memejamkan mata. Lalu menghempaskan dengan cepat dan kuat. Huah ....
Dia menarik panel pintu mobilnya, mencoba saran papa Sofyan. Dengan niatan untuk nyamperin suaminya lebih dulu.
Bersamaan dengan itu, Mustofa juga melakukan hal yang sama. Dia juga keluar dari mobilnya, nyamperin Rima duluan.
"Sayang, kamu ikut mas aja ya ...." Dia menghampiri Rima lebih dulu. Pucuk dicita ulampun tiba, segera saja Rima memberikan senyuman yang termanis sebagai jawaban.
"Habis nggak enak juga, nggak ada yang nemeni nyetir. Bisa-bisa ngantuk dan ...."
"Jangan diteruskan, nanti kejadian." jari telunjuk Rima langsung menutup bibir Mustofa. Membuat kata-katanya terhenti seketika. Untuk beberapa saat, Mustofa membiarkan itu tetap seperti itu. Dia menatap dalam manik hitam milik Rima. Mata bertemu mata, membuat pandangan mereka terkunci.
Rima akhirnya menyerah. Tak mampu lagi, memandang mata biru milik Mustofa. ditambah dengan senyum menawannya. Membuat debar jantungnya tak karuan. Dirinya tertunduk malu, menarik tangannya pelan-pelan. Namun berhenti manakala tangan Mustofa meraihnya dan mencium jari tangannya. "Sayang ...."
"Mustofa, papa nitip Rima ya ...."
Papa Sofyan ini, mengganggu saja. Iri kali, lihat menantunya lagi bermesraan. Yang pasti papa Sofyan malu lihat anaknya bermesrahan tidak pada tempatnya.
"Tenang, Pa." jawab Mustofa santai, sambil menatap kepergian mobil mertuanya entah kemana.
Baik Mustofa maupun Rima enggan memasuki mobil. Untuk sejenak mereka berdiri bersandar di samping mobil. Mungkin masih merasa sayang kalau melewatkan indah malam ini dengan rembulan dan bintang yang bersinar cerah, menghias langit biru. Detik detik berlalu, menit demi menit bertambah, namun semua terlewat dalam kesunyian. Bukannya tak mau buka suara, tapi saat ini Mustofa ingin menikmati wajah ayu kekasih halalnya, yang semakin cantik di bawah remang rembulan.
Lama-lama, Mustofa tak tahan juga dalam kesunyian.
__ADS_1
"Yang, kita cari penginapan yuk. aku capek ....."