
Dengan sekali lambaian, mbak Binti, baby suster si kembar, datang dengan membawa kereta dorong.
"Sekarang mbak Binti makan dulu. Biar ibu sama saya." kata Ulya.
Dia menyuruhnya pergi, agar bisa menikmati kebersamaan keluarga, sebagai mana mestinya. Yang selama ini, dijalani hanya kepura-puraan, agar tak menyakiti putrinya.
Dia memandang Naura lekat, sambil tersenyum. Sedangkan Naura tak menyadari, karena sibuk dengan Akmal. Kelihatan sangat lapar. Dia menyusui putra dengan kasih sayang. Tak peduli ini hari istimewanya. Yang membuat Ulya kagum dan juga kasihan.
"Sayang, kamu nggak lapar?"
"Sangat lapar. cuma nggak bisa makan."
"Aku ambilkan."
Naura mengangguk.
Ulya pergi mengambil makanan. Tak lama dia kembali dengan satu porsi makanan dalam piring besar.
"Aku suapi ya?"
Dari balik cadarnya dia tersenyum dan mengangguk.
Memang perut Naura benar-benar lapar. Dengan 2 baby yang masih menyusu, Sebentar-sebentar dia akan merasa lapar. Maka dengan cepat dia melahap setiap suapan yang diberikan Ulya.
Tengah asyik menyuapi Naura, Devra datang dengan membawa minuman jeruk.
"Papa, aku juga dong." ujarnya sambil duduk manis di samping Naura.
"Diletakkan dulu itu."kata Ulya.
Dia meletakkan minuman itu, di meja yang ada di depannya. Lalu membuka mulutnya lebar-lebar, menerima suapan yang papanya berikan. Bergantian dengan Naura.
"Untuk papa, mana?" kata Naura di sela-sela gilirannya.
"Lihat kalian makan, papa senang."
"Tapi papa juga harus makan, biar sehat." imbuh Devra.
"Baiklah, tapi kalian harus sabar menunggu giliran."
Devra dan Naura hanya tertawa. Bertiga mereka bergiliran makan dengan suapan dari papa Ulya.
Tanpa mereka sadari banyak pasang mata melirik pada mereka. Ada yang tertawa, ada yang iri juga. Tak terkecuali Mustofa dan Ahmad.
"Lihat adikmu!"kata Mustafa.
Ahmad senyum-senyum saja.
"Kamu iri ya ..."
"Begitulah, mana belum punya lagi?"
"Nyindir ya .... Aku tuch ... masih bahagia menjadi jomblo. Jadi nggak ngaruh kaya begituan."
"Bukan. Maksudnya diriku, Ahmad."
" Lha itu, yang kemarin kamu gandeng itu siapa."
"Oh, itu. Adik iparnya istrinya kakak."
"Adiknya almarhum Andre?"
"Ya."
"Kamu ada hati nggak?"
"Ya. Kurasa akan sangat bahagia kalau bisa mempersuntingnya."
"Yaudah, lamar langsung kenapa?"
"Itulah yang aku nggak bisa."
__ADS_1
"Masak pakai dicomplangi segala?"
"Kalau ada yang mau ngecomblangi!"
"Wah nantang. Aku ngecomblangi nanti, tapi jangan menyesal kalau dia naksir sama aku."
Mustafa tertawa lebar. Meninggalkan Ahmad, menuju tempat kak Ulya.
"So sweet, kalian."
Ulya malah melihatnya tajam, tak ingin di ganggu. Orang sudah halal, dan sah. Masak diiri sama orang.
Akhirnya Mustofa tahu diri, meninggalkan Ulya yang sedang memanjakan keluarganya.
"Kak. Itu tamunya sudah mau pulang."katanya sambil berlalu pergi.
"Ya, ya." jawab Ulya sebel.
Dia tetap melanjutkan, menyuapi Devra dan Naura. Lain halnya dengan Naura, kedatangan Mustofa cukup mengganggu. Hingga dia menghentikan makannya.
"Sudah Pa, aku kenyang."
" Itu untuk Devra dan papa." ujar Naura sambil meletakkan Akmal yang sudah tertidur ke dalam kereta.
"Sudah, jangan diperhatikan. Adanya kamu nanti yang kelaparan."
"Nggak kok."jawabnya.
Kalau dipikir-pikir, ada benarnya juga kata-kata Mustofa. Para tamu kelihatan sudah menunggu. Mereka berdiri ngobrol. Rupanya ingin segera pulang.
"Baiklah." Dengan cepat Ulya menghabiskan makanan yang masih tersisa.
"Devra, papa haus. Boleh ini untuk papa?''
Mulanya, dia diam. Lalu mengiyakan dengan tersenyum dan menganggukkan kepala.
"Boleh, nanti ganti ya ...."
Sedangkan Naura pergi mencari Akmal. Tengok kesana-kemari. Rupanya dia masih dalam gendongan nenek Efsun.
"Ma, mana. Sudah waktunya minum asi dan bobok." kata Naura
"Sepertinya gitu. Makanya dari tadi kok rewel ...." sambil menyerahkan Akram dari pangkuannya.
"Eyang, aku makan dulu, ya ...."
"Ya, cucu eyang yang sholeh." kata mama Efsun menyentuh pipi Akmal lembut. Sebelum meninggalkannya bersama Naura.
Setelah kenyang, Naura menidurkan di samping kembarannya. Meninggalkan keduanya bersama mbak Binti. Dia menghampiri Ulya mulai menyambut mereka yang mau berpamitan.
Satu per satu keluarga besarnya meninggalkan tempat itu. Kini tinggal keluarga pak Farhan, Ummi dan abbah.
"Sayang, habis ini kita ke rumah itu ya."
Naura terdiam sejenak.
"Anak-anak?"
"Tentu sama-sama mereka, Sayang."
"Apa kita menginap?"
"Ya."
"Tapi?"
Naura agak bingung juga. Masalahnya dia belum siap untuk itu. Popok-popok babynya, baju ganti Naura juga, susu buat si kembar dan juga Devra, dan lain-lain.
"Jangan khawatir, sudah aku siapkan semua di sana."
"Baiklah."
__ADS_1
Ulya pun mengajaknya berpamitan pada ummi, abbah dan keluarga Naura lainnya yang masih tersisa.
"Assalamu'alaikum ...."
"Wa'alaikum salam ...." jawab semua.
Mereka memasuki mobil Ulya yang cukup besar. Yang kemarin baru dibelinya. Bukan lagi mobil sedan. Tapi mobil yang muat untuk keluarganya, yang saat ini sudah berjumlah lima.
"Ayo, mbak Binti. Kita pergi." ajak Naura.
"Baik, Nyonya."
Dia mengekor di belakang mereka, sambil mendorong kereta si kembar.
"Devra di depan ya, sama papa."
"Iya, Pa."
"Biar adik di belakang sama mama dan mbak Binti. "
"Ok, Papa sayang." jawab Naura sambil mencandai Akmal yang sudah terbangun.
Mendengar kata sayang dari bibir istrinya, membuat Ulya tersenyum.
"Let's go." teriak Ulya setelah semua berada dalam mobil.
Berlahan dia melajukan mobil itu. Meninggalkan pelataran Islami Center, menuju jalanan. Yang telah ramai dengan kendaraan, meski tetap lancar.
Sambil menyaksikan indahnya pancaran mentari, yang menyibak alam dengan sempurna. Mengusir hawa dingin yang terbawa hembusan angin. Meski tak lagi disertai butisan-butiran salju.
Mungkinkah hari ini musim salju telah berakhir? Karena sejak semalam butiran putih itu tak lagi turun.
"Mas, sekarang memasuki musim semi kah?"tanya Naura.
Ulya tersenyum kecil, lalu menoleh pada Devra.
"Devra bisa jawab, Sayang?"
"Ya mama ... masak nggak tahu sich. Kalau salju sudah nggak turun, itu berarti musim semi."
He ... he ... he ...
Naura senyum-senyum sendiri mendengar jawaban putrinya. Mana dia tahu, kapan berakhirnya musim salju sebagai awal musim semi. Kan baru pertama kali tinggal di Turki. Tapi tak mungkin itu dia ungkapkan pada putrinya.
Tanpa mereka sadari Ulya telah membelokkan mobil mereka ke jalanan yang lenggang tapi beraspal. Sejauh mata memandang hanya ada hamparan perkebunan anggur dan buah-buahan lainnya.
"Wow, anggurnya ...." teriak Devra, yang suka sekali dengan anggur.
Ulya hanya tertawa melihat Devra. Dia tahu bahwa putrinya itu suka sekali dengan buah anggur. Setiap musim semi tiba, dia akan sering menghilang dari rumah. Pergi ke rumah Ahmad. Untuk, mencicipi anggur pertama yang dipetik di musim semi.
"Kita berhenti, Pa. Aku mau buah anggur itu." ujarnya dengan bola mata membulat sempurna.
"Sebentar lagi sampai, Sayang. Kita bisa menikmatinya di rumah kita."
"Benarkah."tanyanya antusias, membuat Naura tersenyum melihatnya.
Tak ada lima menit mereka telah sampai di rumah yang cukup besar dan megah. Dan memiliki halaman yang luas dan asri.
Satu lagi, ini yang diharapkan Devra adanya buah anggur di halaman rumah.
...
...
....
SELAMAT MEMBACA, dengan bahagia ......
Jangan lupa like, vote dan sarannya.
__ADS_1