
Pak Sofyan meninggalkan mereka semua. Dia keluar ruangan bersama Aziz menuju ke bagian administrasi untuk menyelesaikan pembayaran.
"Makasih, pak Sofyan atas bantuannya."
"Ya."jawab pak Sofyan singkat.
Mereka pun berjalan dalam kesunyian menuju ke ruang bu Farhan.
Semua telah siap untuk membawa jenazah bu Farhan pulang. Mbak Ika telah selesai pula membereskan semua.
Semua mengiringi Jenazah bu Farhan hingga sampai di pelataran. Dan masuk ambulance.
🔷
Di dalam mobil, Naura diam membisu. Sesekali dia mengusap matanya dengan sapu tangan. Tetes demi tetes air matanya meleleh. Dengan sedih dia menghubungi Ulya.
"Kak, Ibu."
"Ya, Naura. Ada apa dengan bu Farhan. "
"Ibu telah pergi." jawab Naura.
"Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Ya Naura, kakak akan balik lagi."
Ulya segera menghentikan mobilnya. Padahal perjalanannya sudah mencapai separuh jarak dari tujuan. Lalu dia memutar kembali mobilnya menuju ke Klaten.
Dari dalam mobilnya, dia menghubungi mama Efsun yang ada di Turki.
"Ya, Ulya. Terima kasih kabarnya. Segera aku ke Indonesia bersama suamiku."
"Assalamu'alaikum. ..."
"Wa'alaikum salam wr wb. "
Àku sudah menduga bahwa bu Farhan tak mampu bertahan dengan racun yang ada di dalam tubuhnya. Tapi aku tak menyangka kalau akan secepat ini dia pergi. Semoga kamu tabah dan ikhlas melepaskannya, Naura.
Ulya sampai di Klaten sudah hampir tengah malam. Sehingga dia tak bisa langsung ke rumah duka. Takut mengganggu istirahat tuan rumah. Dia menginap di hotel terlebih dahulu.
Baru keesokan harinya dia menemui keluarga bu Farhan. Yang disambut oleh kak Hamdan, suami mbak Nadya di depan rumah.
Setelah berasa basi sejenak, dia berkata.
"Mas Hamdan, saya pingin ke pusaranya."
"Ayo, aku antar."
Belum sempat mereka beranjak dari tempat duduknya, Nyonya Efsun dan tuan Salim tiba.
"Assalamu'alaikum. ..."
"Wa'alaikum salam. ..."
"Tuan dan Nyonya." sapa Hamdan.
Keduanya segera berdiri menyambutnya.
Sedangkan dari dalam rumah, Naura setengah berlari begitu mendengar suara yang sudah dikenalnya.
"Mama, Deddy."
Naura memeluk mereka berdua dengan wajah lebih cerah. Meski masih terlihat dua tiga tetes air mata, namun sudah tak ada lagi kesedihan yang di raut mukanya. Bukan karena telah hilang rasa yang tersimpan, tapi mencoba mengikhlaskan apa yang terjadi.
"Sayang, Bagaimana keadaanmu sekarang."
"Alhamdulillah baik dan sehat."
"Masuk dulu, Ma."
Keduanya masuk ke ruang tamu, meninggalkan tuan Salim di luar bersama Hamdan dan Ulya.
Tak lama kemudian Ulya dan tuan Salim beranjak pergi, meninggalkan rumah menuju ke tempat pemakaman. Yang terletak jauh dari perkampungan. Agak mendekati hutan. Dengan diantarkan Hamdan.
Sementara nyonya Efsun melepaskan rindu pada putrinya. Dengan ditemani keluarga dan kerabat pak Farhan secara keseluruhan yang belum kembali ke tempat tinggal mereka sendiri. Sekaligus menyatakan bela sungkawa pada mereka.
Setelah pak Salim kembali dari pemakaman. Naura menemuinya, bersama dengan mama Efsunn. Yang kebetulan disana ada juga Ulya
"Mama, Daddy, kak Ulya kita sarapan dulu,Yuk."
Ulya langsung menyahuti.
__ADS_1
"Makasih, Naura."jawab Ulya sungkan.
Terpancar kekesalan di wajahnya.
"Kak, nggak baik menolak permintaan tuan rumah."
"Bukan begitu, Naura. Kasihan kak Nadya, tamunya masih banyak. Masak harus di dapur terus. Kasihan kan, sudah kehilangan lalu terbebani, dengan menyediakan makanan untuk kita."
"Benar kata-kata Ulya, Naura. Bukannya kami tak mau, tapi tak seharusnya kami datang justru menjadi beban bagi kalian."
"Tante, Om. Mumpung lagi di sini, bagaimana kalau kita makan gudeg. Makanan khas sini."
"Baiklah, Dad. Tapi Naura ikut."
"Hem ... maunya."
"Bukan begitu, Dad. Naura ada perlu sedikit."
"Ayo." ajak tuan Salim.
"Sebentar, Naura mau pamit sama mbak Nadya dulu."
"Ya. Daddy tunggu."
Naura segera masuk, berpamitan. Tak lama kemudian, kembali.
"Siap, Dad."
"Om pasti lelah. Naik mobil saya saja."
"Itu yang om tunggu."
Ulya dan Naura tersenyum mendengar jawaban daddynya. Dengan santai, mereka melangkah pergi mengikuti Ulya, menuju mobilnya.
"Bahrul, gimana sekarang usahamu?"
"Masih merintis, Om. Tapi alhamdulillah sudah banyak yang mempercayakan proyek-proyeknya ke kita."
"Syukurlah."
"Memangnya kaka Ulya, usaha apa?"
"Bidang Arsitektur. Tapi masih merintis."
Naura tersenyum lebar.
"Mam, Dad, kak Ulya. Dengar baik-baik ya .... Kalian akan kedatangan tamu kembar."
"Benarkah?"
"Ya."Naura mengangguk bahagia.
"Kakak senang sekali, selamat ya .... Calon ibu."
"Makacih. ..." ujar Naura percis logat kanak-kanak. Sedangkan tangannya yang satunya membelai lembut kandungannya.
Tuan Salim dan Nyonya Efsun saling melirik melihat cara bicara Naura dan Ulya, yang kelihatan ada camestri. Sedikit lupa bahwa disamping mereka ada mereka berdua.
"Dad, kita mau punya cucu kembar, nich." teriak nyonya Efsun sambil mengecup kepala Naura.
"Thank yuo, Mam."
"I always miss your presence.
take good care of them."
"I will be happy to gaze at the world if grandparents love me."ujar Naura sambil mengelus perutnya.
"of course we love you, my grandchildren."
"Naura, kapan kamu bisa ikut kami. Kami merindukanmu." kata Efsun memohon.
Naura menunduk lama, seperti berfikir keras.
"Mama, maafkan Naura selama ini. Naura masih nggak bisa jauh dari ibu. Naura masih sering merindukannya. Tapi sekarang Naura tak tahu lagi. Ibu sudah tak ada."
"Mungkin saatnya kamu bersama mama dan daddy sekarang, Naura."
"Aku ingin sekali, Mam." ucap Naura, ada nada kerinduan yang selama ini dipendamnya.
__ADS_1
"Apalagi saat ini."
"Ya, Naura. Mama mengerti."
"Bagaimana, Kak?"
"Kakak malah sejak dulu, ingin kamu bersama om dan tante. Saatnya kamu bahagia Naura."
"Lalu papa?"
"Mereka akan mengerti Naura."jawab Ulya dengan masih konsentrasi mengemudi.
"Ulya, Devra sering datang ke kami, menanyakanmu ."
"Devra?" Naura agak terkejut,waktu daddynya
menyebut nama itu.
"Ya Om, aku juga kangen sama dia. sudah hampir 3 bulan aku nggak pulang. Banyak yang harus ditangani di sini."
"Rencananya minggu depan, ngajak adik Naura juga."
Nyonya Efsun dan tuan Salim senyum-senyum saja. Entah kata itu disengaja atau tidak, mana tahu.
"Kapan kamu jadi kakaknya Naura, Rul." kata nyonya Efsun.
"Eh, maaf tante."
"Aku kok jadi curiga?"
"Bukan begitu, Tante."
" Waktu kecil Naura sudah tinggal di rumah abah. Jadilah Bahrul punya adik. Dia itu tante suka ngacak-ngacak kamar. Dan kalau Bahrul dari luar, pasti nanya oleh-oleh. Kalau nggak dapet, hlah.... ngambeknya luar biasa."
Dengan enteng, Ulya menceritakan semua masa kecilnya bersama Naura. Membuat Naura kesel bin sebel. Rahasianyanya terbongkar di hadapan mama dan daddynya.
Sedangkan mama Efsun dan daddy Sofyan tertawa saja mendengar cerita tentang putri kecilnya dulu, yang tak bisa Membersamai kala itu.
Tiba di rumah makan yang khusus menjual gudeg, mereka berhenti.
"Mari, Om Tante. Disini saja."
"Indah kali bangunannya."
"Rumah makan ini punya teman saya, Om. Dan ini rancangan pertama saya."
Tuan Salim manggut-mangut, mengagumi arsitektur bagunannya.
"Tak sangka kamu lebih berkembang di sini."
"Alhamdulillah ...."
Sementara tuan Salim dan nyonya Efsun masuk, lalu Ulya memesankan makanan untuk mereka.
Namun Naura masih enggan. Dia berdiri memandang rumah es cream yang ada di sebelah.
"Naura?"
"Om Tante. Silahkan duluan." kata Ulya
Dia mendekati Naura yang berdiri mematung di depan pintu.
"Kamu mau es cream?"
"Apa peduli kak Ulya sama aku, bukankah kakak sedah punya Devra?" kata Naura sambil berlalu menuju rumah es cream seorang diri.
Benarkah dia cemburu ....
Ulya garuk-garuk kepala yang nggak gatal.
_____________________________________
Readers yang budiman. ...
Beberapa hari tak bisa up.
Menemani anak-anak daring sampai drop.
Tapi akhirnya bisa up juga meski agak sedikit sakit.
__ADS_1
Selamat membaca ...
Jangan lupa like dan vote nya . he ...he ...he ....😘😘😘