Mahabbah Rindu

Mahabbah Rindu
BAB 67 : Keinginan Mustofa


__ADS_3

"Untuk sementara ini, biarlah Mbak Ifroh di sini saja.Untuk keamanan dan penyembuhan, serta proses hukum selanjutnya." kata Herman.


"Ya, aku percaya padamu." jawab Ulya.


"Bolehkah aku menemuinya sejenak." Mustofa mencoba menyela.


"Tak apa."


Tanpa disuruh keluar, Ifroh telah keluar dengan bu Suci.


"Terima kasih, Kak. Tanpa bantuan dari kakak, aku tak tahu harus bagaimana." kata Ifroh terisak.


"Sudah, jangan sedih. Kalau sudah selesai prosesnya, kembalilah ke abbah. Dia pasti gembira."


"Ya Kak."


"Apa kamu perlu mengirim uang untuk keluargamu."


"Terima kasih Kak. Mereka baru saja mengirimnya."


"Sudah kamu cek."


"Boleh pinjam hp-nya lagi, Kak."


Mustofa memberikannya, disambutnya dengan tersenyum senang. Beberapa saat dia berkomunikasi. Sekarang wajahnya terlihat bahagia. Dan menutup hp itu dengan bahagia pula.


"Alhamdulillah, sudah sampai."


Lalu dia menyerahkan hp itu pada Mustofa.


"Ini Kak, terima kasih."


"Tidak, ambillah. Untukmu." kata Mustofa.


"Benarkah."


"Ya."


"Terima kasih sekali Kak."


"Berterima kasihilah sama kak Ulya, dia yang membelikan untukmu.''


''Terima kasih, Tuan.''


''Ya,'' jawab Ulya singkat.


''Sementara ini saya hanya bisa memantau saja. Kalau ada apa-apa, tolong kabari kami." kata Ulya.


"Di situ sudah ada nomorku dan Mustofa."


"Insya Allah, Tuan.''


Setelah itu mereka semua berdiri, memasrahkan Ifroh pada staff kedutaan, Suherman. Lalu berpamitan pulang.


"Tolong kalau ada apa-apa, kabari kami."


"Insya Allah. Jangan khawatir, kami akan mengurusnya sampai selesai. Karena itu tanggung jawab kami." jawab Suherman.


"Kapan-kapan mampir ke tempatku!" kata Ulya


"Dengan senang hati," jawabnya.


"Assalamu'alaikum ...."


"Wa'alaikum salam ...."


🔷


Seminggu setelah itu, proses hukum Ifroh langsung memasuki masa persidangan. Sesekali Mustofa datang mendampinginya. Sekalian mengecek perkembangan kasusnya dan kesehatan Ifroh .

__ADS_1


Sedangkan Ulya masih fokus dalam pekerjaannya yang menumpuk. Ditambah dengan persiapan pernikahan dan resepsi yang akan diselenggarakan keluarganya.


"Bagaimana Mustofa, sudah ada putusan." tanya Ulya saat bertemu di kantor.


"Nanti jam 2 siang, baru akan diputuskan."


"Syukurlah." ujarnya, dengan tidak mengalihkan pandangan pada leptop di depannya.


"Tentunya tuan Fath tak ingin masalah ini berlarut-larut. Karena bisa jadi akan jadi berita besar kalau tercium awak media."


"Bisa jadi."


"Bagaimana dengan putranya, apa masih di penjara."


"Tidak."


"Kenapa kok bisa keluar."


"Katanya, dia membawanya ke rumah sakit jiwa?"


"Benarkah?"


"Tak tahulah. Sepertinya dia tak mau putranya di penjara."


"Dan akhirnya putranya bebas. Itu yang diharapkan. Lagu lama." gumamnya Ulya tenang.


"Untunglah pengacara yang kakak tunjuk, lihai sekali. Meskipun putra tuan Fath, tak dipenjara. Dia ingin melihat surat kesehatan anaknya tuan Fath sebagai pendukung bukti kalau anaknya gila."


"Kelihatannya tuan Fath juga lihai. Surat seperti itu bisa dibuat." timpal Ulya.


"Sampai saat ini tuan Fath belum bisa menunjukkan. Tak tahu apa yang terjadi."


"Karena itu harus ada ada rekomendasi dari aparat berwenang. Sukurlah kalau mereka tak mau disuap. "


"Kita doakan saja yang terbaik. Aku sendiri sebagai warga Turki malu atas tindakannya."


"Aku juga."


"Aku nanti mau mendengarkan sidang putusannya. Jam berapa sekarang?"


"Sudah hampir dhuhur."


" Kita makan bekal dulu baru sholat. Lalu kita menuju ke sana."


"Setuju." jawab Mustofa gembira.


Tak lama Ulya mengeluarkan bekal yang dibuatkan Naura. Selain untuknya, tak lupa pula dia menyiapkan untuk sepupunya.


"Kak Naura pinter banget masak. Makanya kakak jatuh cinta."


"Kalau itu jangan ditanya." kata Ulya menyombongkan diri.


"Seminggu lagi, aku mau menikah. Sudah kamu siapkan kado untuk kakakmu tersayang ini."


"Mau tak kasih tiket honeymoon, kayaknya ... nggak mungkin. Karena Kak Naura pasti nggak mau meninggalkan putranya." kata Mustofa cengengesan.


"Ada saja kamu," seru Ulya.


"Tenang aja, Kak. sudah aku siapkan."


"Oh ya, Mustofa. Kok bisa Ifroh lari ke apartemenmu."


"Tak tahu, Kak. Mungkin karena dia masih mengingat diriku. Kurasa."


"Ke GR-AN banget kamu tuch."


He ... he ... he ....


"Sudah kamu itu jangan macam-macam, semua wanita dikasih perhatian. Semua mengharap baru bingung tuch."

__ADS_1


"Kayak kak Ulya."


"Aishhh ... kakak kan tegas. Ya ... ya. Tak ... tak."


"Ya, akhirnya Rima merana.".jawabnya.


"Belain ya,"goda Ulya.


"Kalau ada hati, dekati lah papanya. Pasti kamu dapatkan."


"Bantulah, Kak."


"Kamu kemanakan itu Kulsum."


"Kalau ini aku teges. Tidak ... ya tidak."


"Bener?"


Entah kenapa dia ingin menggoda adik sepupunya itu.


"Benar-benar tidak."


"Dia jalan sama orang lain, kamu cemburu ...."


"Aku laki-laki, Kak."


"Nach, gitu dong. Jadi cowok yang tegas."


"Aku mulai belajar, Kak."


"Aku senang. Tapi kalau kamu menginginkan Rima, siap nunggu?"


"Tak tahu. Takutnya dia beralih."


"Mumpung papanya di sini, begitu juga dianya. Dekatilah!"


"Jadi kakak kasih restu aku."


Ulya menganguk senang.


"Dia wanita cerdas, mandiri, dan baik. Kakak suka kalau kamu bisa dapati dia. Justru aku kasihan sama Rima nya kalau dapati kamu."


"Merendahkan sekali."


Makan sambil berbincang-bincang menyebabkan makanan itu habis tak terasa, hingga tak tersisa sebutir nasipun.


Setelah membasuh tangannya di wastafel yang ada di ruang sebelah dan mengelap nya hingga kering, keduanya turun ke bawah menuju masjid yang ada di lingkungan itu, sambil membawa rantang yang telah kosong.


Tak berapa lama, terdengar azan dikumandangkan oleh salah satu karyawan yang memang sudah ditunjuk oleh Ulya sebagai takmir masjid di lingkungan kantornya.


Hampir seluruh karyawan meninggalkan pekerjaannya. Menuju tempat yang satu. Yaitu tempat sujud, Masjid Ar Rohmatul Hidayah. Demikian namanya ketika awal bagunan itu didirikan.


Sejenak melepas penat tubuh dan lelah jiwa, dalam menjalani setengah perjalanan kehidupan di hari ini. Hendak mengaitkan hasrat, keinginan dalam kalbu agar sesuai dengan petunjuk dari yang Maha Kuasa. Hingga perjalanan ini menjadi bermakna baginya dan sekitarnya.


Serta melaporkan segala tindak raga yang bersumber pada niat yang ada dalam dada. Yang ternyatakan dalam tingkah bermakna ataukah sia-sia. Dan kini sudah saatnya menyerah pada yang maha Kasih dan Sayang. Kita tinggal menunggu akan rahmat-Nya untuk kedepan.


Usai sudah bertafakur dalam sholat atau setelahnya. Dalam wujud pujian dan do'a pengharapan yang telah tertata ataupun ternyata secara spontan karena bisikan yang mendalam. Lahir dari keikhlasan hamba pada Penciptanya.


Satu, dua, tiga, empat dan lima. Rangkaian yang saling berkaitan dalam kehidupan. Di hitungan ke dua ini aku berada. Telah kuarai inginku padaNya. Dan mohon bimbingan pada langkah selanjutnya. Karena masih ada tiga, empat, lima dan selanjutnya.


Setelah hampir semua karyawan telah meninggalkan tempat itu, Ulya dan Mustofa baru beranjak dari tempat sujudnya.


Merekapun keluar menuju parkiran. Memasuki mobil Ulya bersama-sama, pada pintu yang berbeda, kiri dan kanan.


Tak lama, Mustofa menjalankan mobil itu meninggalkan parkiran menuju jalanan yang tak lenggang, menuju tempat persidangan Ifroh. Tak jauh dari lingkungan pemerintahan kota itu.


...


...

__ADS_1


...


....


__ADS_2