
"Rupanya ada yang kamu sembunyikan pada kakak, ya ...."
"Hanya masalah kecil kok, Kak."
"Jangan bohong ...."
"Bolehkah aku bilang ...." ingin kuungkapkan, tapi masih ragu dan malu.
"Kok berhenti?" ujarnya sambil bercanda dengan Akmal dan Akram yang ada di kereta dorong.
" Eeemmmm ... aku sayang Kakak." rasanya malu banget. Apalagi reaksi kak Ulya segera menghentikan candanya. Melihatku sejenak sambil tertawa.
"Benar, nggak nyesel. Aku sudah tua lho, 35 tahun."
"Kakak ....! Nur sungguh-sungguh. "
"Mamamu sekarang sudah pinter ngerayu rupanya."
Dia makin tertawa lebar.
"Sudah ya, papa berangkat." ujarnya sambil berdiri dan mendekati Nur yang masih setia memegang kereta dorong itu.
"Kakak juga sayang Nur. Ada apa?"
"Eeeee ... Apa kakak tak akan ninggalin Nur seandainya ada wanita yang suka sama kakak."
"Kamu nawari Kakak?"
"Bukan ... bukan,"
Ulya makin senang memandang Nur yang mulai salah tingkah.
"Lalu?"
"Rima ...."
Ulya sedikit mengeryitkan dahinya.
"Maksudmu?"
"Tak tahulah."
"Kakak mengerti maksudmu. Biar kakak nanti yang undang papa Sofyan dan Rima, kalau kamu tak berani."
"Makasih Kak."
"Mau tak mau mereka harus mengerti."
Rupanya kamu masih memikirkan Rima, Nur. Bisik batin Ulya.
"Sudah, aku berangkat. Jangan ajak mereka keluar dulu. Di luar dingin."
"Baik, Kak."
Diluar memang udara sangat dingin, karena salju sudah mulai turun meski masih sangat tipis.
"Jangan nakal, jaga mamamu. Oh ya aku titip Devra. Belum bangun?"
"Belum."
"Titip ya ...."
"Ya."
"Assalamualaikum ...."
"Wa alaikum salam.:
Mengapa aku masih meragukannya. Bukankah selam ini nyata-nyata kak Ulya mengungkapkan padaku. Nur memandang lega Ulya yang pergi meninggalkannya.
Setelah bayangan Ulya menghilang, Nur kembali membawa baby ke ruang belakang, hendak memandikannya dengan air hangat.
💎
Aku tak menyangka kalau papa Sofyan akan datang secepat ini. Baru kemarin kami membicarakan. Hari ini mereka minta dijemput di bandara. Al hamdulillah ....
Dan kini tiba-tiba saja mereka sudah ada di hadapanku.
__ADS_1
" Assalamu'alkum, Nur. Mana cucu papa."
"Papa, wa'alaikum salam."
Nur menghampiri papa dan mama Sofyan, lalu mencium tangannya.
"Sedang bobok manis, Pa."
"Pa, Ma, masuk dulu. Aku buatkan minuman."
Sejenak berkutat di dapur, kubuatkan mereka minuman hangat, lalu menghidangkannya di hadapan mereka.
"Rima nggak ikut, Ma?"
"Tadi ikut mobil Ulya. Entahlah, kok belum sampai." Nur tersentak sejenak, lalu kembali tenang.
"Mana mamamu?"tanya mama Erika.
"Maksud mama, mama Efsun ?" Nur mencoba meluruskan.
"Ya," kata mama Erika agak bingung juga. Untunglah Nur menangkap kebingungan mama Erika.
"Mama ada di rumah. Ini rumahnya kak Ulya. Abbah dan Ummi sudah balik ke Oman. Karena Abbah kerjanya di sana."
"Rumahnya Nur ada di belakang rumah ini."
"Kamu tinggal sama Ulya?"
"Abbah dan ummi menginginkan Nur tinggal di sini. Tapi Nur sering pulang juga. Kan rumah Nur dekat. Tak jadi masalah."
Obrolan kami terhenti, saat Devra tiba-tiba menghampiriku.
"Mama, siapa mereka?"
"Itu grandpa dan grandma.Beri salam pada mereka, Sayang."
"Assalamu'alaikum, Grandpa."
"Assalamu'alaikum, Grandma." kata Devra mencium tangan keduanya secara bergantian.
"Siapa namamu, Nak?" tanya mama Erika.
Devra menengok Nur, tidak tahu harus jawab apa. Karena nggak ngerti dengan bahasa yang mama Erika gunakan.
"Ma ...."
Untunglah mama Erika segera faham dan mengganti bahasanya.
"What your name?"
"Devra, Grandma."
Devra meninggalkan mama Erika. Dia bermanja pada Nur dan duduk di pangkuannya.
"Putri siapa nich?" tanya mama Erika,"Putri nan cantik ini."
"Devra, itu ditanya sama grandma."kata Nur sambil mengelus kepala Devra yang baru bangun tidur.
"Papa Ulya dan Mama Naura."
"Nur?!"
Mama Efsun dan papa Sofyan menatap Nur penuh tanda tanya. Naura hanya senyum-senyum saja.
Dibuka apa nggak ya ....
Ah, dibuka aja ....
"Devra, kamu mandi dulu sana. Biar nanti kalau papa pulang bisa sun Devra yang sudah segar."
Tanpa disuruh dua kali , dia turun dari pangkuan Nur, meninggalkan mereka semua.
Setelah Devra menghilang, baru Nur buka suara.
"Dia putri kak Ulya dari pernikahan sebelumnya."
"Jadi Ulya sudah pernah menikah."
__ADS_1
Naura mengangguk.
"Lalu mamanya Devra?"
"Meninggal sejak melahirkan dia."
"Dia cocok banget sama kamu Nur."
Mungkin ini saat yang tepat untuk memberitahu mereka tentang rencana pernikahan kami. Mumpung Rima tak ada.
"Ma, Pa, Nur mohon do'a restunya."
"Untuk apa, Nur?"
"Dua minggu lagi kami akan melangsungkan pernikahan."
"Cepat sekali, mama kok baru diberi tahu, Nur."
"Maafkan Nur, Ma." kata Nur sambil menunduk.
"Nggak apa-apa, Nur. Mama malah seneng. Cucu mama punya papa yang tak lain sahabat papanya dulu."
Nur terdiam mencoba mencerna kata-kata mama Erika barusan.
"Mereka bersahabat sejak masa SMP, dan masih terhubung meski sudah berjauhan. Hanya saja Ulya tak pernah mengabarkan kalau dia sudah menikah."
"Sewaktu Ulya kembali ke Indonesia , Ulya sering ke rumah mama."
Air mata mama Erika berlahan menetes tanpa dapat di cegahnya. Membuat Nur juga ikut terbawa suasana. Teringat kembali pada Andre saat terakhir-terakhir akan meninggal. Dia selalu menyebut nama kaka Ulya. Ternyata keduanya sahabat dekat.
Mata Nur yang beningpun semakin bening dengan adanya embun yang mulai terkumpul di pelupuk, hanya menunggu sesaat untuk menetes.
Papa Sofyan yang sedang khusyu mendengar, sekarang matanya pun tampak sembab, memendam kesedihan yang belum hilang.
Semua sejenak larut dalam kenangan hingga suara Akmal dan Akram membangunkan mereka semua.
"Maaf Ma, jagoaan-jagoan mama bangun."
Nur beranjak dari tempat duduknya menuju kamarnya yang ada di lantai atas.
"Mama ikut." Tanpa dapat dicegah dia mengikuti Nur meninggalkan papa sendirian di ruang tamu.
Untunglah tak lama Ulya dan Rima datang.
"Assalamu'alaikum ...."
"Wa'alaikum salam ...,"jawab papa Sofyan.
"Lho, Pa. Kok sendirian. Mana mama."kata Rima nyerocos, kebiasaan.
"Lihat cucunya."
"Maafkan Naura, Om." kata Ulya.
"Nggak apa-apa. Sebenarnya papa juga kangen. Kamu suruh mereka bawa ke sini nggeh!"
"Mungkin lagi disusui, Om. Tunggu saja sebentar." kata Ulya sambil menghempaskan tubuhnya di kursi yang empuk,di depan papa Sofyan.
"Kamu kok lama banget datangnya?"
"Itu, Om. Rima minta muter-muter dulu ke masjid biru."
"Lalu?"
"Kami agak memutar, agar bisa melewati jalan yang melalui Masjid biru itu. Itu juga pakai rame sama Rima. Dia minta turun pingin lihat-lihat dulu. Nggak Ulya turuti , Om. Ulya capek. Akhirnya nurut juga, ikut Ulya pulang."
Papa Sofyan geleng-geleng kepala sama putri satu-satunya itu, manja banget sama Ulya. Inginnya dia menjodohkannya dulu. Tapi Ulya sudah menetapkan pilihannya. Semoga Rima bisa nerima.
"Sebentar, Rima. Aku ambilkan minum dulu."
"Makasih, Kak."
Dia mengungkapkannya hampir memeluk Ulya kalau saja dia tidak segera lari, pergi menghindar.
"Dasar, baru saja berapa bulan di negeri paman sam, sudah berubah adabnya."
"He ... he ... he ...," jawab Rima tertawa. Dia tak tahu kalau ada sepasang mata melihatnya dari lantai atas, dengan menggendong seorang bayi di tangannya.
__ADS_1