
Benar saja. Maksud hati yang tak sampai, kini mulai dirajut kembali. Menjelang matanya terpejam dia mengangkat hp untuk menghubungi Naura.
Namun sudah beberapa kali nomor itu dipencet, tak diangkatnya juga.
Aduh, dimana sich kamu Naura, bisik hatinya mencari-cari.
Dengan terpaksa, diletakkannya hp itu di nakas yang ada di samping ranjangnya. Dan meninggalkannya begitu saja sampai dia tertidur.
Tengah malam, ketika matanya sudah terkatup rapat dan sempurna, angannya sudah berada alam mimpi, hp-nya tiba-tiba berbunyi. Karena lelah dan harus menjaga stamina nya untuk kegiatan esok hari, dia tak mendengarnya. Terlupa dengan hasrat rindu yang di ungkapkan pada salju yang turun di senja itu.
Hingga malam itupun terlewat dalam mimpi saja. Tersadar kala akhir malam menjelang fajar akan muncul menyibak kabut yang masih pekat.
Ada dua maksud yang ingin dia ungkap, satu untuk yang ada dalam bayangan kerinduan. Sedangkan yang lainnya adalah kerinduan pada yang memberi Cinta.
Maka diambilnya air wudhu, bersuci dengan sempurna.Untuk menjawab keduanya.
Setelah selesai, dan masih ada waktu sebelum azan subuh, Ulya membuka HP, ada panggilan yang tak terjawab.
Ah, rupanya kita sama. Gumamnya sendiri dengan senyum-senyum bahagia. Biar nyambung, wa saja. Kasihan kalau telpon, nanti membangun si baby twins ku yang bikin gemas.
[Sayang, nanti pulang ya ...π]
Tak sangka akan cepat terbalas.
[π€. Aku sudah pulang. Ini kan rumah orang tuaku]
Jawabnya bikin orang sebel saja.
[Maksudnya ke rumahku,Abbah]
Kalau ditunggu, lama jawabnya. Kalau nggak di tunggu cepat.
[Kok lama jawabnya]
Baru kemudian, ada notif masuk.
[Aku masih kangen bapak.Kapan lagi bisa ketemuπ]
[π€ Lagian kita itu belum halal kan]
[Awas setelah iniπ]
[Vidio call ya ]
[Jangan, anak-anak nanti bangun]
[Foto merekalah, aku juga kangen]
Tak lama kemudian 2 gambar masuk.
[Ini mereka]
[Sudah, mau nemeni tidur anak-anak]
[Assalamu'alaikum. ...]
[Wa'alaikum salam ....] jawab Ulya.
Setelah menutup hpnya, tak lama kemudian terdengar dari arah masjid kompleks, kumandang azan subuh. Ulya segera bersiap-siap hendak kesana. Melaksanakan sholat subuh berjamaah.
π·
__ADS_1
Pagi hari, saat Ulya dan Mustofa sarapan. Abbah dan Ummi datang bersama dengan paman dan bibi Emire, adik ibunya Ulya. Orang tua Mustafa.
"Assalamu'alaikum, Paman Bibi."sambut Ulya meninggalkan meja makan menuju mereka yang sudah memasuki ruang tamu. Memeluk mereka dengan hangat. Demikian juga dengan Mustofa.
"Wa'alaikum salam, Alhamdulillah kamu sudah membuka hatimu kembali."
"Ada saja bibi ini"
"Mana calon istrimu, aku ingin berkenalan." kata bibi Emire.
Dijawab senyum saja oleh Ulya.
"Mana Devra, Nur juga." tanya Ummi.
Pasti yang ditanyakan Akram dan Akmal.
"Pulang Mi." jawab Ulya sedih. Sambil memasang raut muka yang dilipat-lipat.
Tapi malah membuat Ummi dan abbahnya tertawa meski tidak lebar-lebar amat.
"Sukurlah."
"Kok. Ummi sama Abbah gitu."
Mustofa yang melihat itu, juga ikut tertawa.
"Ulya ... Ulya ... belum juga jadi istrimu sudah kamu kekang gitu."
"Habis dia pernah melupakan aku , Mi. Sebagai hukuman gitu."
"Itu juga karena sikap kamunya. Sok-sok nolak, waktu abbah melamar untukmu. Sekarang saja sok perhatian. Pakai diajak ke sini. Padahal kalian belum halal. Untungnya ada ummi, putri ummi gitu lho. Kalau tak, mungkin sudah keblabasen kamu."
"Ummi masih ingat dengan yang terjadi dengan mamanya Devra."
Mendengar itu Mustofa menunduk sedih, tapi disembunyikan dalam senyumnya.
Maaf aku, Kak. Dia berbisik sedih pada hati saja.
"Sudah sana pergi, keburu siang." usir ummi.
"Ya Mi. Maaf bi Emire aku tinggal dulu. Nanti sore aku ajak ke sini. Bibi bisa kenalan."
Langsung ummi menyahutnya.
"Nggak usah. Nggak baik Kalau ada yang tahu kalian keluar menikah dari rumah ini secara bersama-sama."
"Maksud ummi?"
"Biarkan Nur di sana sampai kalian menikah."
Gleekkk.
Ulya menelan ludahnya sendiri, bingung dengan pernyataan yang baru saja keluar dari mulut umminya. Itu berarti rinduku makin berat nich.
"Tapi nanti kita mau ke butik. Mencoba baju yang sudah kita pesan kemarin. Bisa ketemu." jawab Ulya senang.
"Nggak boleh. Suruh saja orang butik ke rumahnya Nur."
Deg ....
"Ummi tega."jawab Ulya bersungut , merajuk. Persis kayak anak kecil. Sampai-sampai umminya menahan tawa.
__ADS_1
Tapi diturutinya juga kata orang tuanya. Tanpa membantah, dia pun mengangguk. Meski dengan muka sedih dan kecewa.
"Ayo, Mustofa."ajak Ulya kesal, cepat-cepat pergi biar nggak makin sedih.
Mustofa pun mengikutinya.
"Mama, Papa. Mustofa pergi dulu."
"Assalamu'alaikum ...."
"Wa'alaikum salam. ..."
Setelah keduanya menghilang. Emire mendekati Ummi.
"Terima kasih, Kak. Kamu rawat anakku hingga jadi orang seperti ini."
"Belum, Emire. Belum menikahkan."
"Aku hanya bisa ucapin terima kasih tok."
"Sudah jangan kamu pikirkan."
"Sekarang aku tunggu di meja makan. Setelah itu, bantu aku mempersiapkan sesuatu untuk ijab qobul."
"Ya, Kak."
π·
Begitulah hari-hari yang harus dijalani Ulya. Tanpa keceriaan sama sekali. Mana Devra tak mau pulang pula. Dia lebih senang di rumah Naura. Ada temannya yang bisa diajak bermain.
Ditambah pula dengan sikap Naura yang cuwek bebek kalau ditelpon. Kadang nggak diangkat, kadang diangkat tapi dijawab singkat-singkat.
Sepi amat hidup ini. Nggak ada tangisan Akmal dan Akram. Nggak ada celotehan Devra, nggak ada teriakan Naura kalau sedang digoda Devra.
Setiap kaki ini mau keluar ke rumah Naura, Ummi selalu siap siaga di samping pintu. Minta ijin, jawabnya hanya satu TIDAK.
Dan abbah juga ikut-ikutan mengatur pula. Mustofa suruh jadi supir pribadiku, kemanapun aku pergi selalu dia ikut. Padahal kita punya mobil sendiri-sendiri.
Pertama dengar peraturan abbah gitu, oke-oke saja. Bisa diajak kompromi, angannya senang. Tapi ternyata dugaan salah. Dia malah menerapkan aturan abbah sangat ketat dan protektif sekali. Sehingga nggak bisa mobil ini berbelok sedikitpun ke rumah Naura.
Resek dan menyebalkan semua, gerutu setengah marah pada diri sendiri.
Kenapa sich semua orang pada peduli sama aku. Aku ini sudah besar tahu.
Dia berteriak-teriak sendiri dalam kamar yang biasa Naura berbaring di sana. Ya ... kamarnya sendiri. Yang kini ditinggalinya lagi, setelah Naura pergi.
Itulah satu-satunya tempat dimana dia sedikit bisa mengobati rasa rindunya. Ditatapnya langit-langit kamarnya hingga matanya terpejam dan mengantarnya bertemu pada yang dibayangkan. Selamat mimpi ... he ... he ... he .....
Hingga tak terasa tiba di hari ini. Hari yang selama ini dinanti-nanti. Yaitu hari untuk mendapatkan Naura secara halal. Melalui ijab qobul yang akan dilaksanakan di masjid yang ada di lingkungan Islami Center di kota itu.
Dengan senyum sumringah, dia berdiri di depan kaca dengan memakai setelan jaz berwarna putih tulang dengan kopyah senada. Tak lupa memakai dalaman hem lengan panjang putih bersih.
...
...
....
SELAMAT MEMBACA!...
Jangan lupa like, vote atau sarannya ...πππ
__ADS_1