Mahabbah Rindu

Mahabbah Rindu
BAB 90 : Kakak/Kekasih (untuk yang sudah menikah)


__ADS_3

Setiap kutatap wajah Akram, selalu terbayangkan wajah Akmal. Yang kutahu wajah keduanya sedikit berbeda. Akram lebih mirip dengan mas Andre, dengan bola mata hitam. Dan kulit sedikit agak sedikit gelap. Sedangkan Akmal yang kuingat mempunyai bola mata kecokelatan dengan kulit lebih terang.


"Sekarang kamu di mana, Nak?" tampak sadar Naura berbisik lembut dengan kata itu, saat sedang mengayun Akram dalam buaiannya.


Mumbuat Akram tertidur lagi, setelah makan dan mandi di sore itu.


"Mbak Ifroh, titip Akram." kata Naura sambil meletakkan ke dalam boxnya.


"Jangan khawatir, Nyonya.''


Terlihat Ulya mondar-mandir di depan kamar Akram. Yang membuat Naura agak bingung juga.


"Mas, ada apa?"


"Nggak gitunya, kamu lama kali."


"Ini aku kangen sama dia, ingin menidurkannya dulu."


"Sesore ini?"


"Pembawaan setelah kenyang, Tidur. Masih bayi. Jangan diiri lah, Kak."


"Aku sih makin senang."jawab Ulya sambil menarik tubuh Naura dalam pelukannya.


Naura membiarkannya. Karena dia juga sedang galau. Kalau sudah gini, dalam pelukan suaminya, dia akan menjadi tenang. Naura bersandar di dada suaminya. Dan menikmati kecupan sayang.


Tapi saat ini berbeda. Sepertinya Ulya punya hasrat yang lama terpendam, hingga terdengar detak jantungnya yang berpacu kencang. Begitulah nada itu terdengar di telinga Naura.


"Ah maafkan, Mas." kata Ulya sambil berlalu dengan cepat menuju kamar. Meninggalkan Naura yang masih berdiri terpaku.


Naura segera mengejarnya menuju kamar mereka.


"Kak, ada apa?" tanyanya manja. Membuat hasrat Ulya makin menggebu.


"Kenapa kamu panggil mas, kakak lagi?"


"Entahlah. Aku ingin seperti itu. Mengingatkan pada masa kecil kita dulu. Saat aku bisa bermanja padamu." ujar Naura yang memeluknya dari belakang.


"Hanya sebagai kakak, bukan sebagai kekasih. Makanya lebih dari 2 bulan kamu terlupa, aku kekasihmu." Ulya menarik nafas berat. Ingin mengusir hasratnya, tapi kali ini tak mampu.


"Aku rindu kau perlakukan sebagai kekasih." ucapnya lembut.


"Mas, maafkan aku." kata Naura semakin mempererat pelukannya. Dan kembali menangis di punggung suaminya.


"Maafkan Mas juga."kata Ulya sambil berbalik menghadap Naura. Tanpa kata lagi, Ulya menghujani Naura dengan ciuman hangat di bibir Naura.


"Sayang, I miss you." kata-kata itu dia ucapkan disela-sela ciuman hangatnya.


Memang semenjak kehilangan Akmal. Dia seakan-akan lupa dengan kewajibannya sebagai istri. Dia teramat larut dalam kesedihan.


Saat inipun Naura masih enggan. Namun dia membiarkannya Ulya melepaskannya hasrat. Lama kelamaan diapun terbawa larut oleh hasrat bercinta yang Ulya inginkan.


🌹Berlalulah senja dalam indah


🌹 memupuk semai yang lama terpendam


💗 Mengurai cinta dalam lautan asmara


🌹Memberi warna dalam kehangat


🌹Akan indah dalam ikatan keharmonisan.


"Makasih, Sayang." bisikan lembut, Ulya ucapkan, setelah melepas hasratnya.


"Maafkan aku, Kak."


"Setelah aku menyentuh seperti itu, kamu masih panggil 'Kak'?"

__ADS_1


"Apa nggak boleh, Sayang?" kata Naura di dalam pangkuan Ulya yang sedang bersandar di kepala ranjang.


"Hemmmm ...."


"Entahlah, bila ada masalah, rasanya ingin aku kembali ke masa kecil. Kayak Devra nggak ada beban."


"Jadi kamu terkenang masa kecil kita."


"Ya." jawab Naura sambil menganggukkan kepala.


"Ya, nanti kita mampir ke rumah itu."


"Benarkah."


"Kakak juga rindu."


"Makasih, Sayang."


"Moga kabar yang kemarin kakak terima benar adanya."


"Tentang Akmalkah?"


"He ... eh."


"Tapi masih samar."


"Di mana dia?"


"Tapi dia tak di negara ini lagi."


"Maksudnya?"


"Berdoalah, dan jangan lelah."


"Kalau sudah urusan dengan negara lain, memang agak sulit. Tapi kakak akan berusaha."


Ulya tak melepaskan begitu saja ciuman istrinya. Diapun membalasnya dengan amat mesra. Karena membangkitkan keinginan bercintanya lagi.


"Mas."


"Mas, masih rindu sayang. 2 bulan kau biarkan diri ini merana."


Tapi sayang, tiba-tiba pintu kamar diketuk.


"Ma ... ma ... aku dah siap. Mama papa lama banget sich."


Baik Ulya maupun Naura saling pandang. Sesegera mungkin merapikan dirinya masing-masing.


"Nah, gini kalau janji sama anak-anak . Nagih terus." Jawab Ulya. Disambut tertawa kecil Naura. Ulya segera berlari ke kamar mandi terlebih dahulu, sebelum Naura menuju pintu.


Setelah beberapa saat baru Naura menyahut.


"Ya, tunggu dulu. Sebentar mama sama papa lagi siap-siap." kata Naura begitu pintu di buka.


"Bisa tunggu di perpustakaan, Sayang."


"Nggak, aku tunggu sini aja." kata Devra sambil menuju meja rias mamanya.


"Boleh."


"Ya."


Naura membiarkan Devra bermain-main dengan alat kosmetik yang ada di meja riasnya. Sementara Naura sibuk membereskan sprei kotor untuk diletakkan di mesin cuci. Dan menggantinya dengan sprei baru.


Berselang tak begitu lama, Ulya keluar dari kamar mandi dengan baju handuk melekat di badan.


"Devra kok di sini."

__ADS_1


"Nunggu papa mama lama. Nggak selesai-selesai." jawabnya tanpa menoleh. Sibuk melukis bibirnya dengan lipstik yang mama Naura punya. Ulya hanya meliriknya sesaat, lalu mengambil baju, balik lagi ke kamar mandi.


Selesai dari kamar mandi, kebetulan Naura telah kembali. Dia hanya tertawa kecil menatap putrinya yang nampak serius.


"Sudah, sudah cantik kok." kata Naura menoleh sekilas ke arah Devra sebelum masuk kamar mandi.


Sedangkan Ulya masih belum beranjak dari pintu kamar mandi.


"Gini rasanya punya putri.''


"Jangan kaget."


"Aku sangat menikmati. Seperti bundanya."


"Maksudnya Hagya."


"Ya bukanlah. Tapi yang ini."sambil memberikan kecupan kecil di pipi Naura yang kebetulan berpapasan dengannya.


Ulya segera membereskan baju-baju yang akan dibawa dan juga baju Naura. yang memang sudah tertata di atas ranjang. Tinggal memasukkannya ke dalam koper. Sudah selesai semua, tinggal menunggu istrinya yang sedang menikmati mandinya. Sudah menjadi kebiasaa kalau mandi biasa berlama-lama.


Untuk mengusir kebosanan dia mengambil bacaan, yang selalu ada di almari kecilnya. Duduk bersandar di ranjangnya. Sampai istrinya keluar kamar mandi.


Setelah sekian lama, baru Naura Keluar dengan tubuh yang sudah berbalut baju santaidengan rambut yang masih basah.


"Sebentar, Mama mau keringkan rambut dulu."


"Devra sudah?"tanya mamanya.


"Dah." sambil menunjukkan hasil riasan pada mamanya.


Sebenarnya Naura ingin tertawa, takut Devra kecewa. Gimana nggak mau tertawa. Itu riasannya bak ondel-ondel.


"Bagus." kata Naura.


"Tapi sini, biar mama rapikan." Naura menghapus beberapa riasannya Devra yang tampak tebal.


"Nah gini cantik. Tapi meski tanpa riasan, Devra tetap cantik." kata Naura sambil mencium pipi Devra.


"Sekarang ganti mama."


"Mama cepat ya ...."


"Ya ...."


Belum sempat beranjak dari tempat tidur, tiba-tiba handphone Ulya berbunyi.


"Assalamualaikum wr.wb."


"Wa'alaikum salam ...." jawab seseorang yang ada di ujung sana..


"Ada apa, Mus?"


"Kak, nanti aku nyusul."


"Lha yang urus perusahaan siapa."


"Aku hanya ingin melamar Rima saja minggu depan."


"Ya boleh."


"Siapa, Mas?"


"Mustofa ... Dia mau menyusul kita minggu depan. Mau melamar Rima."


Seketika wajah Naura agak pucat.


"Ada apa yang?"

__ADS_1


Naura diam .....


__ADS_2