
Mengapa air mata ini menetes tanpa ijin dulu.
"Mama," Nur memeluk mama Erika dengan erat tanpa berkata-kata.
"Maafkan Andre, Sayang."
Erika membelai lembut rambut Nur yang terurai.
"Mengapa saya harus memaafkan mas Andre, Ma." kata Nur tanpa melepas pelukannya.
"Kamu rela, Nak." Erika menatap Nur bahagia.
"Insya Allah, Ma."
Dia balik menatap mama Erika dengan senyum tulusnya.
"Tak sangka Andre meninggalkan putri mama yang luar biasa ...."kata Erika tanpa basa-basi.
" Istirahatlah. Cepatlah sehat untuk Andre kecil mama, untukmu juga."
"Makasih, Ma."
"Selamat, Naura. Tante ikut bahagia."
"Makasih Tante Tiara."
"Tante yang akan awasi kamu, mau tak mau."
"Ya dech."
"Ini tante kasih obat vitamin, biar nggak mudah mual. Dan jangan banyak pikiran."
Nur hanya senyum-senyum mendengar kata-kata tantenya Andre itu.
"Sekarang istirahatlah. Nanti habis kerja tante balik ke sini. Aku pergi dulu."
"Assalamu'alaikum ...."
"Wa alaikum salam ..., terima kasih tante."
"Da ... da ... Andre kecil."
Candaan tante Tiara membuat Nur dan Erika tertawa.
Setelah tante Tiara menghilang di balik pintu, tak lama Rima masuk sambil senyum-senyum menatap Nur, membentangkan tangannya memeluk Nur dengan hangat.
"Selamat kakak ipar."
"Apa-apa an sich." jawab Nur cemberut.
Mama Erika meninggalkan mereka yang asyik bercengkrama, seakan 2 sahabat yang baru saja bertemu.
"Ya kan. Sekarang kamu kakak ipar aku."
"Aish ... tak suka ah ... "
"Kakak hebat, dia ninggalin yang berharga banget." dengan centil Rima menyentuh perut Nur yang masih datar.
"Awas tante Rima kalau tak mau gendong."
"Beres. Jangan nakal kasihan mamamu, jangan minta macam-macam."
Mereka mengajak berbincang-bincang dengan calon bayi yang kini sudah ada di perut Nur.
"Aku kok jadi curiga. Kamu yang ngatur dulu itu ya?"
"Itu?"
"Heeemmmm, pura-pura lupa lagi."
"Hai ... hai aku belum pernah nikah. Mana kutahu."
"Lalu?"
"He ... he ... itu Mama. Aku hanya bantuin."
__ADS_1
"Sama aja."
"Kamu marah?"
Nur hanya senyum-senyum, lalu menjitak kepala Rima pelan.
"Dasar."
Lalu mengambil apel yang ada di atas mejanya, mengupas dan memakannya dengan lahap.
"Masih mual, Nur?"
"Alhamdulillah. Sudah tidak lagi. Tadi habis diberi obat sama tante Tiara."
"Maafkan kami, Nur."
"Berilah kesempatan pada kami untuk menebusnya."
"Menebusnya, gimana?"
"Gantikan aku, selama aku pergi. Temani mama."
"Lho kok?"
"Minggu depan aku mau berangkat ke Amrik."
Naura hanya senyum-senyum menahan tawa. Yang hampir-hampir membuatnya tersedak.
"Enaknya di kamu dong."
"Maafkan aku, Nur."
Entah mengapa tangan Rima tak berhenti melukis di perut Naura. Membuatnya risih. Nur meloloti Rima.
"Ya ... nanti aku pikirkan. Hentikan tanganmu. Geli tahu." sambil mengibaskan tangan Rima.
"Rasanya gimana hamil?"
"Hus ... kamu ini mikir apa. Belajar dulu mumpung ada kesempatan."
"Ya, Kakak ipar."Sambil mengedipkan mata, menggoda Nur.
Sejenak Nur termenung. Wajahnya terlihat sedih menatap Rima. Tapi dia masih lemah untuk mengatakan. Rima yang menyadari perubahan sikap Nur menatap sedih juga.
"Nur, apa yang kau pikirkan?"
"Nggak apa-apa."
"Terus teranglah. Mungkin aku bisa bantu."
"Kira-kira mama mengijinkan nggak ya. Aku mengambil beasiswaku."
"Kamu tahu kan. Kalau itu cita-citakan sejak lama."
"Menurutku itu baik. Cuma hati-hati sama keponkanku."
"Jangan khawatir."
Rima memelototinya. Gimana nggak khawatir. Beberapa kali pingsan, lalu sering muntah-muntah, susah makan.
"Insya Allah tak apa-apa. Gitu kata tante Tiara. Awal-awalnya memang seperti ini. Perubahan hormon."
"Terbukalah sama mama. Kamu sudah jadi bagian keluarga ini Nur. Apalagi kakak sudah menitipkan sesuatu yang berharga padamu. Kamu berhak atas harta kakak terutama untuk ini."
Mendengar itu, tetesan bening keluar dari sudut mata Naura. Ada kenangan-kenangan yang melintas dalam angannya. Bayangan Andre kala bersama, meski hanya sesaat.
Dengan lembut dia membelai perutnya sendiri.
Putraku, ijinkan mama belajar ya Sayang.
"Maafkan aku, Nur."
"Nggak apa-apa."
Dan lagi Rima menyentuh perut Nur. Seperti tak sabar melihatnya menjadi nyata. Padahal juga baru berumur 4 minggu. Masih berupa gumpalan daging.
__ADS_1
Mereka asyik berbincang-bincang hingga tak menyadari 3 pasang mata sedang memperhatikan. Mama Erika, mama Efsun dan juga Ulya.
"Naura, bagaimana keadaanmu?"
Mama Efsun menghampirinya, memeluknya dengan terharu. Hingga air matanya tak bisa dicegah untuk keluar. Naura segera menumpahkan kesedihannya yang di rasa pada mama Efsun. Membuat semua yang di ruangan itu meneteskan air mata pula. Ulya yang selama ini menyembunyikan air matanya, kali ini pun dibuat berdaya.
"Mama ...."
"Ya Naura. Mama tahu kamu pasti kuat."
"Ma, aku rapuh ma ...."
"Jangan bicara itu, itu bukan dirimu."
Dia membelai rambut Nur dengan kasih sayang. Akhirnya mereka semua meninggalkan mama Efsun bersama Naura.
"Naura, mungkin ini waktunya mama bisa lebih dekat denganmu."
"Maksud mama."
"Kami sangat merindukanmu, tinggallah di Turki bersama deddy, kakakmu dan mama."
Naura terdiam lama, menundukkan kepala.
"Ma, sekarang aku sedang hamil."
"Tak apa Naura. Kami sangat gembira."
"Tapi, Ma."
"Ijinkan kami bersamamu, Naura."
"Bukan begitu, Ma. Aku juga ingin melanjutkan kuliah. Kebetulan bea siswaku kemarin diterima."
"Di sini, dan di Jepang. Hanya saja aku ambil yang di sini. Agar lebih dekat dengan rumah."
Efsun diam. Dia menatap putrinya dengan kerinduan. Ada bayangan kesedihan dalam raut wajahnya, yang tak mampu dia sembunyikan. Tapi sepertinya dia tak punya daya. Mungkin saat ini dia terlalu egois mengajaknya bersama.
Putriku kapan kamu mengerti, aku merindukanmu.
"Mama, aku sangat ingin bersama mama, daddy dan juga kakak."ujar Naura sambil menangis.
"Mama mengerti, Sayang. Tapi kalau Naura lebih tenang di sini. Mama tak mengapa. Mama terserah keputusanmu."
"Tapi Naura pastikan ke sana dalam waktu dekat ini. Mungkin kalau usia kandungan Naura sudah kuat."
"Terima kasih, Naura. Kamu sedang bersedih tapi kamu bisa memikirkan orang lain."
"Mama pasti capek, habis perjalanan jauh. Tidurlah di sini Ma, disamping Naura. Seperti dulu."
"Anak mama manja kali."
"I miss you, Mama."
"Hemmm....me too, Sayang."
Dia mengecup dahi putrinya sejenak. Lalu membiarkan Naura berbaring.
Belum sempat memejamkan mata, Ulya datang menemuinya.
"Assalamu'alaikum ...,Naura."
"Wa alaikum salam, Kak. Silahkan masuk. Kak."
"Sudah berbaring saja. Kakak hanya ngembalikan ini."
Dia menuju ke meja kecil yang ada di samping tempat tidurnya.
"Eh, terima kasih. Kak."
Beberapa hari ini memang dia tak berpikiran tentang hpnya. Tak pernah mencarinya. Hingga agak kaget juga waktu Ulya ke tempatnya dengan membawa hp miliknya.. Ternyata selama ini dipegang Ulya.
"Bagaimana keadaanmu sekarang."
"Alhamdulillah, sudah lebih baik dari pada pagi tadi."
__ADS_1
"Selamat sekarang kamu jadi seorang ibu."
"Masih lama Kak."