
Memasang Perhiasan dan Hasrat
"Mas pilih hotel ini, dekat dengan laut. Sesuai dengan keinginanmu, Sayang."
"Terima kasih, Mas."
Naura masih diam. Sepertinya dia masih ragu untuk keluar dari mobil.
"Ayo," ajak Andre, sambil mengambil koper yang ada dibelakang.
"Sayang tak suka?"
"Suka."
Naura mengikuti Andre turun dari mobil.
Berdua mereka memasuki hotel itu, bergandengan tangan dengan mesra.
Setelah melakukan chek in di resepsionis dan menerima kuncinya, mereka menuju ke kamar tersebut.
Yang dipilih Andre memang kamar yang benar-benar eksklusif. Suatu kamar yang sangat luas dan artistik. Dan yang paling penting memiliki beranda yang menghadap ke laut.
"Kok bingung, ayo masuk. Percaya sama Mas dech. Nggak bakalan mas nyelakaimu, Sayang."
Nur menatap Andre dengan tersenyum, lalu mengikuti Andre melangkah memasuki kamarnya. Lalu dia duduk di pinggir ranjang.
Sedangkan Andre berjalan di sisi sofa, meletakkan kaper kecil. Dan berjalan mendekati Nur.
Meski Nur masih gugup dan bingung, tapi di berusaha bersikap tenang. Manakala Andre sudah duduk di sisinya.
Baru sedetik Andre duduk, pintu kamarnya diketuk seseorang dari luar.
"Maaf. Ini pesanannya Tuan." kata pelayan itu hendak memasuki kamarnya.
"Tidak, tidak, sini! Biar aku yang bawa."
"Oh maaf, Tuan."
Dia mendorong meja troli yang berisikan masakan. Memberikannya pada Andre yang membawanya ke dalam ruangan. Kemudian menutup pintunya kembali.
Dia tak ingin pelayan hotel itu mengetahui istrinya.
"Siapa Mas?"
"Pesanan makanan untuk kita."
Dia mendekati Nur yang mulai membuka cadar dan juga jilbab yang dipakainya. Lalu mengurai rambutnya yang indah, hitam, ikal, panjang sepunggung di hadapannya.
Baru kali ini, Andre bisa melihat wajah istrinya secara sempurna dengan rambut indahnya. Membuat hati dan matanya terguncang.
Masya Allah, bidadari surga di hatiku. Hanya itu yang bisa dia ucapkan di hatinya.
"Sayang, perhiasan yang mas beri tadi kamu bawa?"
__ADS_1
"Tadi Rima yang beresin, mungkin dia letakkan dalam koper."
"Soalnya dia tadi menuju mobil mas sebelum kita berangkat."
Andre membuka koper itu. Dia hanya senyum-senyum dan tertawa kecil manakala melihat isi dari koper. Tak mengira mama dan adiknya akan 'ngerjain' mereka berdua.
"Ini nanti sayangku nggak 'girap-girap', melihat ini semua," Andre bergumam lirih. Tak ayal Nur mendengarnya.
"Ada apa, Mas."
"Nggak ada apa-apa."
Andre segera mengambil kotak perhiasan itu dan menutup kembali kopernya.
"Alhamdulillah, Rima memasukkannya dalam koper kita."
Nur yang sudah melipat jilbab dan cadarnya, meletakkan dalam almari yang ada dikamar itu. Dia berbalik menghampiri Andre yang kini duduk di sofa, dengan memegang kotak perhiasan itu.
"Mas, pingin lihat sayang memakainya."
Nur tersenyum ceria. Membuat jantung Andre hampir-hampir keluar dari tempatnya.
Karena sejak di pantai sampai akan memasuki kamar ini, belum sedikitpun Nur tersenyum. Adanya tegang dan takut.
Ah mungkin karena dia seorang wanita yang menyukai perhiasan. Maka ketika melihat perhiasan, matanya berbinar-binar.
Dan senyuman Naura mengembang, mengungkapkan rasa bahagia di hatinya.
Tahu kaya gini tadi aku bawain sekilo emas, intan, berlian, mutiara. Agar aku bisa melihat senyumannya selalu. Ungkapan khayal Andre yang terpesona senyum Naura, ditambah lirikan bola mata yang kecoklatan membuatnya semakin tak bisa mengontrol naluri laki-lakinya.
Nur mengangguk tak peduli. Bola matanya masih tertuju pada kotak perhiasan itu.
Pada mulanya Andre mengambil cincin bertahta berlian biru. Hendak menyematkan ke jari manis kirinya. Tapi karena sudah ada cincin pertunangannya, diapun memindahkan terlebih dahulu ke jari manis kanannya.
Meski Andre merasakan tangan Nur dingin dan gemetaran. Tapi terlihat Nur senang.
Maka saat Andre mencium tangan itu.
Nur tak lagi tegang bahkan tersenyum. Entah itu senyum geli atau hanya ingin mentertawakan sikapnya.
Membuat Andre bersemangat untuk memakaikan perhiasan yang lainnya.
Demikian juga saat memakaikan gelang dia juga melakukan hal yang sama. Tak ada penolakan dari Nur.
Maka saat dia memakaikan anting-anting di telinganya, dia lebih berani.
"Sayang, selama ini nggak punya anting?"
"Punya, cuma kemarin dipakai buat bayar wisudaan. Terpaksa dijual."
"Oh."
Dia menyibak rambut Nur. Menyematkan anting-anting itu, di telinga Nur sebelah kanan.
__ADS_1
Terlihat leher Nur yang putih bersih, membuat hasratnya meronta-ronta. Beruntung dia masih bisa menahannya. Dia hanya menghadiahi gigitan kecil di telinga Naura.
"Mas."
"Hadiahnya untuk memasangkan," jawab Andre tertawa. Ada rasa takut juga dalam hatinya kalau-kalau Naura kembali menangis.
Ternyata Naura tertawa manaka terlihat di cermin. Rupanya dia sedang mengagumi dirinya yang cantik memakai anting itu.
"Sebentar, mas pasangkan yang kiri agar lebih cantik."
Digigit nggak nangis berarti boleh. Andre makin senang.
Maka saat memasangkan anting-anting sebelah kiri, Andre makin berani. Tak hanya di gigit, tapi dilumat dan dimain-mainkannya pula.
"Mas, geli tahu."
"Habis mas gemes lihat telingamu."
"Bagaimana sekarang, suka?"
"Mas kasih Naura mahal banget. Apa nggak mubadzir?"
"Untuk bidadari mas, mas ikhlas. Dan itu belum seberapa. Asalkan adik nggak lari dari mas."
Nur tertawa mendengar pernyataan Andre.
Mana mungkin dia lari, bisa dimarahi sama ibunya, bu Farhan. Yang mengajarkan satu untuk selamanya.
Mungkin saat ini bayang-bayang Ulya masih sering melintas diangannya. Tapi sejak Andre telah berikrar, dia mencoba menatap yang kini menjadi suaminya.
"Mas, untuk orang miskin dan anak yatim sudah mas sisihkan?"
"Jangan khawatir. Mas seperti ini juga karena do'a-do'a mereka. Adik bisa lihat di sekretaris mas nanti," kata Andre sambil menyibak rambut ikal Naura yang menutupi lehernya. Karena ingin memasang kalung dengan liontin berlian biru itu.
Meski dia mencoba untuk tahan terhadap godaan di hadapannya, yaitu leher yang jenjang dan putih milik pacar satu-satunya dan telah menjadi halal untuknya.
Tapi aroma wangi melati yang tercium, benar-benar membuat mabuk hasratnya. Maka begitu selesai memasang kalung di leher Naura, dia semakin erat memeluk tubuh Naura.
"Sayang, tubuhmu wangi sekali. Seperti bunga melati."
"Ya, pagi tadi sama ibu suruh mandi bunga melati sama daun sirih," jawab Nur sejujur-jujurnya, membuat Andre tersenyum.
"Aku amat suka."
Andre sudah tak bisa melanjutkan kata-katanya. Dia hanya mengikuti hasrat kelaki-lakiannya. Menciumi leher kekasih halalnya dengan penuh hasrat cinta hingga meninggalkan jejak-jejak yang tak sedikit.
Meski pada mulanya ada rasa takut yang sangat. Naura diam, mencoba meresapi apa yang diinginkan kekasihnya. Hingga dia tak merasa telah berada dalam samudra cinta yang Andre cipta.
Saat Andre mengendongnya ke ranjang dengan pakaiannyang sudah berantakan, dia tak bisa menolak. Apalagi Andre memperlakukan dengan lembut dan penuh kasih sayang. Hingga dia merasa, dialah paling dicinta oleh kekasih yang selalu merindukannya.
Saat demikian hanya khanyal yang membimbingnya. Untuk bisa merasa apa yang kini Andre perbuat padannya.
Sedangkan cinta Andre saat ini hanyalah tertuju pada hasrat yang meronta-ronta, yang sekian lama terpendam.
__ADS_1
Yaitu hasrat yang hanya bisa terpuaskan bila ada penyatuan jiwa dan raga antara keduanya.