Mahabbah Rindu

Mahabbah Rindu
Dengan Vidio call


__ADS_3

"Nur, jangan bikin aku tambah khawatir lah."


Meski Naura merasa janggal, tapi disembunyikan kegelisahannya itu, tetap selalu tersenyum.


"Kan penghulu baru saja datang, dan tak akan pergi sampai maghrib tiba kan?"


"Iya sich ...."


"Dag ... Dig ... Dug ...ya ...."


"Kamu itu, Nur."


Tak lama ada suara handphone Naura berdering. Segera dia mengangkatnya. Dari Ulya .... Semoga kabar baik.


"Assalamu'alaikum wr.wb, ada apa Mas?"


"Hem ..."


"Ya ..."


"Oke. "


"Aku keluar sebentar, Rima."


Tanpa menunggu jawaban, Naura bergegas ke halaman belakang, agar dapat berbincang-bincang dengan leluasa dan jelas. Rima memandang keperginnya derngan kebingungan dan kecemasan.


"Assalamu'alaikum ...., Hallo."


"Wa'alaikum salam ...., aku minta tolong. Mama tenang ya ..."


"Sebenarnya ada apa, Pa?"


"Mobil yang membawa abbah dan keluarga mungkin sekarang sudah mau sampai. Tapi mobil kami tumpangi tak bisa sampai."


"Kenapa?"


"Kami kecelakaan."


"Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun."


"Lalu bagaimana keadaan kalian?"


"Nanti saja ceritanya. Tapi bisakah mas minta tolong."


"Minta tolong apa?"


"Tenangkan Rima. Mustofa tak bisa ninggalin Devra. Dia terluka parah."


"Devra terluka?."


"Sudah ditangani. Yang penting sekarang Rima. Dia pasti terpukul kalau Mustofa tak datang."


"Adakah cara lain, Mas."


"Ini sudah mas bujuk untuk tetap berangkat. Tapi sepertinya berat. Salah satunya cara via vidio call, insya Allah bisa. tapi nanti akan diwakili abbah."


"Ya, Mas. Lalu apa yang bisa Naura bantu?"


"Sementara, tenangkan Rima dulu."


"Abbah sudah diberi tahu."


"Sudah, nanti Abbah yang akan bicara sama papa Sofyan."

__ADS_1


"Ya, Mas."


"Selanjutnya aku pasrah ya, Yang."


"Aku usahakan, Mas."


"Assalamu'alaikum ...."


"Wa alaikum salam ...."


Untuk beberapa saat Naura berdiam. Bagaimanapun berita ini membuatnya sedih. Setelah bisa menguasai dirinya, Naura kembali ke kamar Rima. Dengan harap-harap cemas, Rima menunggu Naura. Berita apa yang sudah diterimanya. Apalagi raut wajah Naura tampak gelisah, meski senyum selalu menghias bibirnya.


"Ada apa, Nur."


"Bukan apa-apa, hanya mungkin mereka harus datang terlambat."


"Mengapa?"


Tak ingin membuat sahabatnya gelisah, dia hanya tersenyum.


"Mungkin sebentar lagi akan datang."


"Alhamdulillah ..."


Setelah beberapa saat, Naura mendengar ada rombongan mobil yang datang. Dia melihat dari balik cendela untuk memastikan siapa yang datang. Ada 3 buah mobil yang kini parkir di bawah pohon palem. Yang keluar pertama adalah Abbah ....


Syukur alhamdulillah .....


"Siapa Nur?"


"Rombongan Abbah dan bibi Emire."


Seketika bibir Rima menyungging sebuah senyuman. Wajahnya mulai menampakkan ketenangan.


"Kabar apa?" Rima kembali gelisah.


Naura diam, tak tahu harus memulai dari mana. Tapi dia mencoba mengumpulkan keberanian untuk mengabarkan berita yang baru saja diterima. Akhirnya dengan berat hati Naura mengatakannya ....


"Kendaraan yang kendarai kak Mustofa dan kak Ulya mengalami kecelakaan."


Wajah Rima seketika menjadi pias. Dia menutup mulutnya, tak bisa berkata apa-apa.


"Nur ...."


"Tenanglah, dengarkanlah dulu."


Rima tertunduk sedih, matanya mulai sembab. Tangan dan kakinya mulai gemetaran dan berkeringat dingin.


"Mustofa hanya luka ringan. Hanya saja Devra luka parah, perlu penanganan. Mereka tak bisa meninggalkan Devra begitu saja."


"Itu berarti kak Mustofa tak mungkin datang?"


"Tak mungkin datang, bukan berarti membatalkan pernikahan ini.Sudah diwakilkan ke abbah."


Tak ada kata yang keluar dari bibir Rima. Dia hanya diam menunduk ...


Sampai mama Erika dan juga bibi Emire menemuinya.


"Rima ...., sabar ya ndduk."


Dia duduk di samping Rima, membelai kepalanya yang kini telah rapi tertutup jilbab putih dengan hiasan benang keemasan disekelilingnya. Dan juga mahkota kecil, menambah manis penampilannya saat ini. Sedangkan bibi Emire hanya bisa memandang sedih calon menantunya itu.


"Mama ...." ucap Rima. Dia memeluk calon mertuanya itu tanpa sepatah katapun keluar dari bibirnya. Rima tertunduk, bingung dan sedih. Bibi Emire hanya membelai lembut kepalanya.

__ADS_1


"Kamu baik-baik saja , Rima."


"Ya. Ma..."


"Kita pakai vidiocall, kamu siap?"


"Mungkin ini yang terbaik, Ma."


Kini semua lega, Rima bisa menerima keadaan ini. Tak lama dia mengambil leptopnya, agar bisa terhubung dengan semuanya. Baik dengan orang-orang yang ada di ruang tengah. Dimana ada papa Sofyan, pak penghulu, dan para tamu telah berkumpul. Dan juga bisa menatap Mustofa yang sekarang masih di rumah sakit.


Tampak pada layar, persiapan yang dilakukn oleh Ulya dan Mustofa yang menghadirkan dokter dan perawat, untuk menjadi saksinya. Di ruang tengah, terlihat lebih siap. Papa Sopyan sudah menghubungkan vidiocallnya dengan televisi layar lebar yang dia punya. Meski di sana ada Akram dan Akmal, tapi semua aman terkendali. Mereka bermanja pada Ummi, dan selalu tersenyum manis, tak mengerti apa yang terjadi. Syukurlah ....


"Bagaimana pak Sofyan, bisa kita mulai?"


"Insya Allah."


Lalu dia menghadap layar, berkomunikasi dengan Mustofa yang wajahnya kini terlihat tegang.


"Bagaimana nak Mustofa, sudah siap?"


"Insya Allah." jawab Mustofa yang mencoba bersikap setenang mungkin.


"Suara sudah terdengar jelas semua."


"Jelas." jawab hadirin yang hadir, baik yang ada di rumah pak Sofyan maupun yang ada di rumah sakit.


"Tapi biarlah ijab qobulnya diwakili abbah saja."


"Baiklah."


Pak penghulu memberikan mikrofonnya pada papa Sofyan untuk melakukan proses ijab qobulnya.


Papa Syofyan, "Saya nikahkan dan kawinkan Rima Setyawati binti Sofyan dengan Mustofa Assegaff dengan mas kawin seperangkat alat sholt dan perhiasan 24 karat senilai satu milyar dibayar tunai."


...


...


"Bagaimana saksi, sah."


"Sah." jawab mereka serentak. Baik para undangan yang ada di samping pak Sofyan, maupun dokter dan perawat yang berdiri di samping Mustofa.


Alhamdulillah, acara utama dapat terselenggara dengan lancar. Terlihat kebahagiaan di wajah semua yang hadir. Rima terharu hingga tak bisa menahan air matanya. Dia mendapatkan ucapan selamat dan pelukan dari mamanya, mama Emire dan juga Naura.


Demikian pula dengan Mustofa, ada kebahagiaan di wajahnya. Meski dia tak bisa menutupi kecemasan yang kini melanda. Tapi dia mencoba bersabar mengikuti rangkaian acara yang terselenggara melalui Videocall.


Segera pak penghulu membacakan doa, untuk keberkahan atas pernikahan mereka berdua. Yang diamini semua yang hadir dengan penuh kekhidmatan.


Tante Tiara segera mengambil mahar yang ada di depan penghulu dan mengantarkannya pada Rima. Sekaligus mengucapkan selamat pada keponakannya itu. Yang kini telah melepas masa lajangnya, menuju kehidupan rumah tangga sesungguhnya.


Acara tetap dilanjutkan, dengan adanya kutbah nikah. Untuk memberikan nasehat-nasehat pada mempelai berdua. Meski terkadang antara Ulya dan Mustofa bergantian meninggalkan tempat. Seperti ada yang sangat mengganggu pikiran mereka.


Ini membuat Naura semakin cemas akan keadaan Devra.


Tak ingin berlarut-larut dalam masalah, Naura mencari tempat yang tenang. Agar dapat berkomunikasi dengan Ulya.


"Assalamu'alaikum ...., Mas."


"Waalaikum salam... ada apa?"


"Devra bagaimana?"


"Jangan khawatir. Doakan saja yang terbaik."

__ADS_1


"Mas, ada apa?"


__ADS_2