Mahabbah Rindu

Mahabbah Rindu
BAB 27 : Kubawa Dirimu


__ADS_3

Andre tersenyum simpul, menatap sejenak pada gadis yang masih tertunduk. Dengan malu mengulurkan tangan hendak bersalaman dengannya. Sambil membungkukkan badan. Dia menyambut uluran tangan itu.


Yang tak disangka-sangka oleh Nur, tiba-tiba Andre meraih tubuhnya. Memeluk dengan kuat ke dalam dekapannya. Dan mencium kepalanya sangat lama, sambil memejamkan mata. Seakan-akan tak ingin kehilangan dirinya.


"Mas." bisik Nur lirih. Tak terkira malunya. Apalagi semua mata memandang pada mereka berdua.


"Biarlah, karena sekarang adik milik mas seorang."


Entah mengapa rasa takut kehilangan menyusup dalam pikiran Andre, saat melihat bayangan Ulya ada sekitarnya.


"Ya, Mas. Adik juga tahu."jawab Nur sambil menarik tubuhnya pelan. Namun tak berhasil. Bahkan pelukan Andre semakin erat.


"Ehemm ..., sudah Nak Andre memeluknya?" kata nyonya Efsun, mengembalikan kesadarannya.


Dengan malu-malu, Andre melepaskan pelukannya.


"Tuch ... kan," kata Naura sedikit agak bersungut-sungut sambil melirik dengan ekor matanya yang tajam.


Kalau bukan acara seperti ini, mungkin dia akan lari menyembunyikan diri. Juga menyembunyikan debar jantungnya yang tak mau diajak kompromi.


Tapi kali ini dia berusaha tenang. Agar tak ada yang tahu. Hanya raut mukanya yang tertutup cadar, tak bisa menyembunyikan pipinya yang sedang merah merona.


"He ... he ...," sahut Andre lirih sambil menatap Nur yang hampir salah tingkah.


Mereka berdua sungkem pada nyonya Efsun dan tuan Salim. Kemudian pada mama Erika dan juga papa Sofyan. Lalu dengan khusyu' mengikuti acara selanjutnya.


Ahmad yang amat gembira, mendekati Naura dan Andre ingin mengucapkan selamat begitu khutbah nikah selesai.


"Selamat berbahagia, adikku tercinta."


Ahmad memeluk Naura erat.


"Kakak belum mandi ya, bau!"


"Ini juga demi dirimu."


"Habis ini mandi nggeh."


"Ya ... ya. Semoga samawa dan kakak segera dapat keponakan."


"Kakak."


"Beres Kak," sahut Andre.


Naura hanya menundukkan kepala memandang mereka berdua dengan kesal.


Selesai beramah tamah dan menikmti hidangan yang tersedia. Para tamu satu persatu meninggalkan tempat itu. Menyisakan keluarga pak Sofyan, keluarga pak Salim dan juga keluarga pak Farhan.


Andre mengajak Nur berpamitan pada semuanya.


"Bapak Ibu, nyuwun pangestunipun. Kulo badhe ajak dik Nur."


"Ibu hanya nitip Nur. Dia masih harus banyak belajar. Jangan mudah memarahinya."


"Ibu mbotern usah khawatir. Andre akan menjaganya derngan baik. Andre remen lan sayang kalian adik Naura."


"Ibu percaya."


"Ibu ... hiks ... hiks."


Naura memeluk bu Farhan dengan kemanjaan. Dan menangis di pelukannya.


"Tak usah nangis. Mengko diguyu Novi Noval." kata bu Farhan sambil membelai Nur. Namun akhirnya diapun tak bisa menyembunyikan air matanya. Diapun menangis.


"Sudah, itu suamimu. Ikuti dia, dan selalu bermusywarahlah dengannya, apabila ada masalah."


"Nggeh Bu. Pangestunipun ibu."

__ADS_1


"Ya sudah. Pergilah."


Nur melepaskan pelukannya. Lalu berjalan mendekati mobil daddynya, hendak mengambil koper kecil yang berisikan pakiannya.


"Sayang, mau kemana?"


"Ambil koper."


Andre tersenyum menatap keluguan istrinya.


"Nggak usah."


"Lalu."


Andre meraih tangannya dan menariknya, agar semakin dekat dengannya.


"Mas."


"Aku belum puas lihat kamu pakai ini."


Naura terhenti dan berbalik menatap Andre. Tapi Andre seperti tak peduli. Membuat dirinya ingin bertanya. Tapi Andre segera meletakkan telunjuknya di bibir Naura.


"Sudah aku siapkan."


"Maaf semuanya. Saya duluan," kata Andre dengan mengatupkan kedua tangannya. Naura bersikap sama. Mengikuti ajakan sang suami.


Andre membuka pintu mobil untuknya. Dan tersenyum menatap Nur yang masih terbengong-bengong menghadapi sikapnya.


"Silahkan tuan putriku sayang untuk masuk."


Diperlukan seperti itu, membuat Nur gugup. Namun tak lama, dia tersenyum.


Dia masuk ke dalam mobil dan menata baju lebarnya. Agar tak terjepit ketika pintunya ditutup.


"Sudah, Sayang."


Dengan tenang dia duduk di sisi Naura. Lalu menutup pintu yang ada di sampingnya.


"Sudah siap, Sayang."


"Kemana?"


"Pengambilan gambar untuk prewedding."


"Tapi tak tahulah. Kan kita sudah menikah. Masak prewedding. Pokoknya untuk resepsi, gitulah."


Naura hanya tertawa kecil mendengar omongan Andre. Bertanya sendiri, dijawab sendiri.


"Ku kira apa."


"Emang Sayang mikirin apa?"kata Andre sambil melambaikan tangannya pada semua.


"Assalamu'alaikum, Papa Mama."


"Jaga mantu mama," kata nyonya Erika.


"Tenang, Mama."


Andre mengemudi mobilnya meninggalkan pelataran masjid itu, menuju jalanan.


"Hayo mikirin apa?"


"Nggak mikirin apa-apa."


"Aku bisa tebak. Paling juga mikirnya kalau mas menculikmu untuk dibawa ke hotel gitukan?"


"Mas Andre." satu cubitan kecil dia daratkan ke pinggang Andre.

__ADS_1


"Eeiittt ... Mas sedang mengemudi. Kalau adikku sayang agresif, nanti bisa nabrak nich."


"Biar aku ke belakang saja."Nur merajuk.


Andre memarkirkan mobilnya di tepi pantai yang tersembunyi.


"Masih merajuk?"


Andre meraih tangan Naura. Berlahan mencium kedua tangan itu. Dia bisa merasakan bahwa badan Naura sedang bergetar hebat. Bahkan dia bisa mendengar degup jantung Naura yang bertalu-talu.


Apalagi saat dia memberanikan diri mencium pipinya dengan membuka cadarnya. Mata Naura terlihat sayu, membuat gairahnya liar. Sehingga dia tak bisa menghentikan, manakala ada keinginan untuk mencium bibir merah merekah milik Naura.


Naura hanya diam, tak tahu harus berbuat apa. Itu adalah ciuman bibir pertama yang pernah dia lakukan.


"Mas, ada mbak Hesti."


Naura mencoba menyadarkan Andre yang hampir dikuasai hasrat membara.


Andre melepaskan ciumannya. Dan segera merapikan cadar Naura.


"Pak andre, bisa kita mulai?" sapa mbak Hesti yang sudah berada di sisi mobil mereka, bersama seorang pria yang membawa kamera.


"Bisa. Tolong Iwan ke sana dulu."


"Baik, Pak."


Orang yang dipanggil Iwan itu berlalu meninggalkan mereka.


"Mbak Hesti tolong bantu istriku!"


"Okay."


Mbak Hesti segera memperbaiki make up Naura dengan diawasi Andre.


Tak lama, merekapun siap.


Dengan mengambil latar debur ombak pantai, mereka berfoto ria. Iwan sebagai fotografernya. Kemudian ke lokasi-lokasi lain yang terlihat menarik.


Selesai dengan kostum itu, Andre mengambil paper bag dari bagasi mobilnya. Sebuah diberikan pada Naura. Yang lainnya dia buka.


Bersama dia berganti pakaian di sebuah ruangan yang ada di tempat itu.


"Mas."


Naura sepertinya masih malu untuk berganti pakaian di hadapannya.


"Baiklah."


Dia membalikkan badan membelakangi Naura. Meski hatinya penasaran, ditahan-tahannya juga.


"Sudah?"


"Terima kasih, Mas. Sudah."


Naura memakai baju santai yang berwarna abu-abu, dengan kerudung dan cadar yang senada. Sedangkan Andre memakai kaos dan celana hitam, yang ditutup dengan jas dari bahan budru berwarna abu-abu juga. Namun lebih gelap dari baju Naura.


Merekapun melanjutkan sesi pemotretan. Baik bersama maupun sendiri-sendiri.


💎


Sementara itu, di sisi yang lain dari pantai tersebut, terlihat Ulya sedang duduk. Memandang kosong ke arah ombak yang berkejaran menuju pantai. Tak ada penyesalan di sorot matanya, namun kerinduan yang lama tertanam dalam hatinya tak dapat dia sembunyikan.


"Den Ulya. Mengapa tak berterus terang pada Nur sejak awal, siapa tahu dia mau mengerti. Dan akan menunggu Aden dengan sabar."


___________________________


Readers yang budiman, mohon dukungannya berupa like, vote atau saran agar author bersamangat dalam berkarya.

__ADS_1


__ADS_2