Mahabbah Rindu

Mahabbah Rindu
BAB 44: Baby Twins


__ADS_3

Naura mengambil nafas panjang agar emosinya tenang. Rasanya beban banget dihalangi untuk menjenguk ibunya. Tapi kalau papa Sofyan sudah memutuskan, seperti nya tak ada yang berani untuk melanggarnya. Semuanya sami'na wa atho'na.


Penyusaian diri, harus sabar.


Entahlah, sekarang ini mengapa emosinya sering kali ingin meledak-ledak. Cepat panik, senang, sedih secara bersamaan. Mungkin pengaruh baby? ....


Makanya udtadzahku menyarankan, kalau hamil sering-sering membaca Al Qur'an, agar emosinya terkontrol. Dan itu baik untuk perkembangan baby.


Setelah sholat 'asyar berjamaah, muncul ide di otak ini. Agar boleh ikut menjenguk ibu di rumah sakit.


"Pa, cucu papakan sudah umur 3 bulan di kandungan aku. Mau aku USG. Boleh ya, Pa" kata Naura manja. Untunglah mama Efsun nggak cemburuan dengan mantunya ini.


Pak Sofyan tertawa kecil, teringat sewaktu istrinya sedang mengandung Andre, putra pertama mereka. Manja sekali, banyak maunya dan selalu punya ide untuk mewujudkannya.


"Kaya Andre dulu ya, Ma."


Nyonya Erika senyum-senyum.


"Oke nanti USG sama mama, atau mau diantar nak Ulya?"


"Sama mama saja," jawab Naura. Meski Ulya sudah menyatakan apa yang ada di hatinya, tapi Naura merasa nggak enak dengan Rima, karena sepertinya dia juga berharap.


"Baiklah. Kita berangkat sekarang sekalian jenguk ibumu."


"Benarkah, Ma." kata Nur.


Mama Erika menggangguk. Naura mendekati dan memeluknya dengan hangat.


"Makasih, Ma."


Papa Sofyan hanya senyum saja lihat mantunya nggak kehabisan akal agar bisa menjenguk bu Farhan.


"Bersiap-siaplah."


Nur segera meninggalkan mereka dengan tersenyum senang.


Mama Erika ganti menatap Rima yang terlihat agak lesu.


" Rima kamu nggak ikut, Nak?"


"Aku di rumah saja, Ma. Masih capek."


"Baiklah."


Rima pun menyusul Naura menaiki tangga ke lantai dua. Dimana kamarnya berada.


"Nanti asinannya aku habisin nggak apa-apa ya, Nur? "


"Nggak apa-apa. Besok kita bikin lagi kok."


"Sudah mulai berkembang nich."


"Ya.Soalnya ada beberapa toko yang minta dikirimi lagi." kata Nur sambil berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Yang diikuti oleh Rima pula.


Tinggalah mereka bertiga, yang menunggu Naura mempersiapkan diri.


"Om tante, insya Allah 2 minggu lagi, saya akan ajak Naura ke Turki. Saya lihat dia rindu keluarganya yang di sana." kata Ulya memecah kesunyian yang terjadi di antara mereka.

__ADS_1


Papa Sofyan memandang terkejut dengan permintaan Ulya.


"Wah, nak Ulya kalau bukan keluarganya, om nggak bisa melepaskan Naura."


"Ulya mengerti,Om. Nanti akan saya sampaikan ke keluarganya."


"Maafkan, Tante dan Om. Nak Ulya."


Rima yang mendengar tidak sengaja pembicaraan orang tuanya dengan Ulya, ingin nimbrung juga. Dia berjalan cepat ke arah mereka. Dan duduk di samping papa Sofyan dengan manja.


"Pa, kalau Nur ke Turki, aku boleh ikut dong!"


Rima memohon pada papa dan mamanya, dengan manja, agar meluluskan permintaannya.


"Baiklah, boleh. Tapi jaga diri baik-baik."


"Makasih, Pa." Dia memeluk hangat papa Sofyan.


"Titip Rima ya .Ulya. Hitung-hitung untuk nemeni Naura dan liburan untuknya."


"Insya Allah, Om." jawab Ulya tak berkutik. Maunya pergi dengan Naura saja, sekarang malah pergi rame-rame. Ya ... nasib.


Setelah dirasa tak ada lagi urusan, Ulya berpamitan.


"Om, tante. Saya undur diri dulu."


"Ya ... ya. Silahkan. Jangan bosan mampir, kalau ada urusan di Yogja, meski Andre sudah tak ada."


"Insya Allah, Om."


"Assalamu'alaikum wr.wb."


"Wa'alaikum wr.wb."


Tak lama Naura telah menuruni tangga dengan pakaian rapi, bersiap mengikuti mama papa Sofyan yang akan menjenguk ibunya di rumah sakit.


💎


Setelah sampai di rumah sakit yang dituju. Naura dan mama Erika menuju ke tempat dokter kandungan untuk USG.


Nyonya Erika menemaninya dengan setia. Agar dia dapat melihat sendiri hasil USGnya .


"Bagaimana,Dok?"


"Selamat Nyonya, keadaan bayinya sehat. Tapi sepertinya ... "


"Ada apa, Dok." tanya nyonya Erika cemas, takut ada apa-apa dengan calon bayi yang ada dalam kandungan Naura.


"Sepertinya ini tidak hanya satu. Lihat ini dan ini. Sepertinya ibu Naura mengandung baby kembar." kata dokter sambil mengeser-geser alat yang ada di atas perut Naura.


Tampak dalam layar gumpalan-gumpalan daging yang sudah berbentuk, meski ukurannya masih sangat kecil.


"Benarkah, Dok."


"Insya Allah."


"Terima kasih, Dok." kata mama Erika dengan senang. Dia meluapkan rasa senangnya dengan memeluk dokter Arum erat. Sampai-sampai dokter Arum gelagapan.

__ADS_1


"Iya, Nyonya. Tapi lepaskan saya." ujar dokter Arum mencoba melepaskan diri.


Naura sampai tertawa melihat sikap mama Erika yang demikian.


Lalu dia berganti memeluk Naura, setelah Naura merapikan pakaiannya.


"Makasih, Sayang. Ini hadiah yang indah buat mama dari apapun."


"Sama-sama, Ma. Ini juga hadiah yang indah untuk Naura dari mas Andre."


Sekali lagi mereka melakukan ritual teletabis. Berpelukan ....


Tak terasa mata Naura berkaca-kaca.


Angan ini tak bisa dicegah membayangkan dirimu yang tersenyum membelai putramu yang kini masih di perut ini.


"Naura ...." kata mama Erika membuyarkan bayangan Andre yang sesaat lalu datang.


"Nggak apa-apa, Ma. Naura hanya teringat mas Andre." kata Naura sambil mengusap air matanya yang terlihat menetes, meski hanya dua butir saja.


"Sudah, Dok. Kami pergi dulu. Terima kasih banyak."


"Sama-sama."


Mereka meninggalkan dokter Arum dengan gembira. Melangkah pelan sambil mengobrol ringan.


"Jenguk ibumu, yuk."


"Ya, Ma." jawab Naura gembira.


Belum juga mereka sampai ke tempat yang dituju, papa Sofyan telah datang dengan berjalan cepat ke arah mereka. Terlihat wajahnya agak cemas. Tapi, baik Naura maupun mama Erika tak menyadarinya.


"Sudah selesai periksanya?" sapa papa Sofyan dengan dingin.


"Kabar gembira, Pa. Naura mengandung bayi kembar." ujar mama Erika dengan mata berbinar-binar sempurna.


"Benarkah?" kata papa Sofyan ikut gembira pula. Lupa dengan kesedihan yang sesaat lalu menyelimuti hati dan wajahnya.


Papa Sofyan merentangkan kedua tangannya, hendak memeluk Naura untuk mengungkapkan rasa bahagianya.


Melihat gelagat itu, mama Erika segera bergerak cepat. Menggeser tempat berdiri Naura dengan dirinya.


"Papa!" tegur mama Erika dengan sedikit keras. Membuat papa Sofyan terkejut. Ternyata yang ada dalam pelukannya adalah mama Erika, istrinya. Bukan Naura.


"Maaf, Ma. Aku nggak sadar." jawab papa Sofyan gugup dan tersipu.


"Main peluk aja sama anak mantu."kata mama Erika merajuk dan bersungut-sungut.


Segera saja dia menghadiahi kecupan kecil di dahi dan juga pipi mama Erika. Untuk meredakan amarah mama Erika.


Naura yang melihat mama dan papa mertuany sedang berdrama ria ala Korea, senyum-senyum sendiri menahan tawa.


Tapi rupanya hati mama Erika tak mudah diluluhkan. Dia tak nergeming sedikitpun.


Maka tak ada jalan bagi papa Sofyan menambah kemesrahannya pada mama Erika dengan mencium bibirnya. Lupa kalau ini di tempat umum.


" Papa!"teriak Naura ...

__ADS_1


__ADS_2