Mahabbah Rindu

Mahabbah Rindu
BAB 97 : Bermain dengan si Kembar


__ADS_3

Sekitar jam 3, mereka telah pulang. Noval, Novi dan mas Hamdan.


"Assalamu'alaikum wr.wb., Umi ...."


"Wa alaikum salam ...." jawab Nadya dan Naura hampir bersamaan.


Sekilas lalu Hamdan melihat Naura. Tapi karena fokusnya pada istri dan anak-anak, hingga tak sempat menyapanya.


Naura yang berdiri di tengah ruang, antara ruang tamu dan ruang keluarga, menyaksikan adegan kelurga kakaknya dengan senyum bahagia. Meninggalkan mereka, menuju sofa melanjutkan acara santainya. Mumpung anak-anak masih tidur.


Wajah yang lusuh dan penuh keringat dari kedua anaknya, membuat Nadya kehilangan senyuman. Entah apa yang telah mereka lakukan. Ingin rasanya dia mengintrograsinya segera. Tapi Hamdan telah menghalanginya dengan sapa manis.


"Assalamu'alaikum ... , Umi."


Sebuah panggilan sayang yang mengharuskan Nadya menghampirinya. Ciuman sayang yang mendarat di pucuk kepala, dia dapatkan. Mampu meredakan rasa sebel yang kini menggelitik jiwanya.


"Wa alaikum salam, Bi ...."


Dengan lembut Nadya menyambar tas Hamdan, diiringi senyuman menawan.


Tapi matanya tak bisa tidak, melirik pada ananda-anandanya yang senyum-senyum tanpa dosa.


"Noval Novi, kalian habis ngapain? Sudah sholat belum? Itu wajah lusuh banget, belum sholat ya?"


Tiga pertanyaan sekaligus Nadya lontarkan. Yang membuat Hamdan membelalakkan mata. Kebiasaan lama yang tak mungkin bisa lepas, dari wanita yang kini senantiasa bertamu di rumah cintanya. Tapi yang ditanya seperti tak peduli. Senyum-senyum, lalu berlari cepat ke arah kamar masing-masing. Menyebalkan sekali ....


Untungnya Noval masih sempat berteriak, "Sudah sholat, Umii ...."


Nadya bisa bernafas lega. Lalu membiarkan mereka berlari menuju kamarnya. Baru separuh langkah Nadya ingat sesuatu.


"Kalian berdua, sini sebentar. Kasih salam dulu sama tante."


Dengan segera mereka menghentikn larinya. Melirik dengan ekor matanya, memastikan perkataan bundanya.


"Tante .... " teriak mereka ketika melihat sebuah kepala menyembul di ruang tengah. Mereka berlari kencang ke arah Naura. Menubruk serta memeluk manja. Melihat tingkah mereka berdua, membuat Nadya sedikit kesal.


"Tante, mana oleh-olehnya?" kata si kembar dengan bahagia.


Nach kan, belum juga memberi salam, sudah tanya oleh-olehnya terlebih dahulu. Mata Nadya melotot pada keduanya.


''Noval Novi ucap salam dulu pada tante."


Yang ditegur hanya senyum-senyum tanpa dosa. Tapi menurut.


"Assalamu'alaikum ..., Tante. Mana oleh-olehnya?'' kata mereka dengan santai.


"Ada, ayo ikut Tante."ajak Naura menuju kamar tamu. Dimana dia meletakkan barangnya.


Begitu menerima bungkusan dari Nadya, mereka bersorak gembira.


"Terima kasih, Tante." dan mencium pipi Naura dengan lembut. Lalu sudah dapat diduga, mereka kembali berlari menuju kamarnya. Yang membuat kak Nadya agak bengong juga melihatnya.


"Sudah jangan ambil pusing. Masih anak-anak." ujar Hamdan santai. Sambil menyadarkan badannya di kursi.

__ADS_1


Naura kembali lagi ke ruang tamu, menemui Hamdan, kakak iparnya.


"Assalamu'alaikum ... Maaf Kak."


"Wa alaikum salam, nggak apa-apa."


Nadya meninggalkan mereka sejenak, untuk meletakkan tas kerja Hamdan.


Tak lama kembali dengan membawa minuman dan juga beberapa cemilan ringan agar obrolan mereka menjadi semakin hangat.


"Kapan datang, Nur."


"Tadi pagi."


"Mana suamimu?''


''Mungkin sebentar lagi datang.''


Belum sempat Naura meletakkan punggungnya, terdengar suara teriakan ceria dari kamar Novi.


"Whlaaaahh ..." teriak Novi yang membuat kaget seisi rumah. Paling-paling juga sedang ngagetin Devra yang sedang di kamarnya.


Tapi kali ini, Nadya sudah lebih tenang. Tak lagi mempedulikannya lagi. Hanya Naura yang dibuatnya terkejut. Sehingga detak jantungnya agak sedikit naik.


Entah yang terjadi di kamar Novi. Yang jelas dua teman lama tengah bertemu.


Sedangkan Naura, Nadya dan Hamdan bercengkerama di ruang keluarga.


Lain Novi, lain pula Noval. Dia mendapati adik-adik kecilnya sedang tidur manis, tak tahan untuk menggodanya.


Setelah berganti baju dengan cepat, dia duduk di sisinya. Menggodanya dengan intens. Yang hidung, pipi disentuh-sentuh, badan digoyang-goyang. Tapi yang dijahili masih tidur dengan tenang, tak merasakan adanya gangguan. Semakin membuatnya gemas.


''Bangun ... bangun. Ada kebakaran." bisiknya keras.


Tapi Akram Akmal bukannya bangun, tapi semakin nyenyak tidurnya. Mereka hanya mengeliat sejenak. Lalu tidur lagi. Bahkan satu tendangan kecil harus Naufal terima dari kaki Akram.


"Eh ... nggak mau bangun juga.''


Rasa gemasnya makin meningkat. Segera dia mengambil botol air minumnya. Yang masih menyisakan sedikit air. Dia tuang ke telapak tangannya. Dan memercikkkannya di wajah mereka berdua.


''He ... he ... he ...." tawa jahilnya keluar. Karena yang di jahili, bereaksi.


Sontak membuat Akram Akmal kaget oleh rasa dingin dari air yang mereka rasakan. Menyebabkan keduanya terbangun seketika.


Bibir mereka sudah mulai bergerak, ingin menangis, meski mata masih terkait rapat. Membuat Naufal senyum-senyum atas keberhasilannya menggoda mereka.


Tak lama, terdengar paduan suara yang nyaring. Hingga Naura dan Nadya yang berada di kamar tamupun tersentak. Dia berlari menuju kamar Naufal. Saat tiba, Akrab Akmal sedang bermain bersama Naufal. Syukurlah ....


Tertanya tak hanya pintar membuat adiknya menangis, ternyata dia juga pandai membuatnya tertawa.


Begitu keduanya terbangun, dia mengambil mainannya, dihamparkan di hadapan mereka. Mobil-mobilan, pesawat, lego, semua dikeluarkan. Hingga memenuhi lantai kamarnya.


Sayang, kesenangan Naufal harus berakhir. Dengan kedatangan Novi dan juga Devra. Tanpa permisi keduanya membawa Akram dan Akmal keluar. Mengajak mereka bermain di halaman.

__ADS_1


Ini mengingatkan kembali pada saat keduanya baru saja datang. Akmal Akram tanpa dapat di cegah berjalan menuju gledekan mereka. Dan minta dinaikkan ke atasnya.


Jadilah mereka menarik gledekan. Membawa Akmal dan Akmal mengelilingi kompleks. Hingga tak terasa waktu sore sudah hampir habis.


Sampai-sampai Naura kebingungan mencari keberadaan mereka, untuk dimandikan.


"Noval, Novi, Devra .... cukup mainnya. Mandi dulu." seru Nadya dari ujung gang kompleks.


''Ayo pulang." ajak Naufal yang jadi penarik gledekan itu.


"Oke ... oke ...." jawab Novi dan Devra serempak. Yang dengan setia mendorong gledekan itu.


Untunglah Akmal Akram tidak menolak, saat kendaraan kuno itu berputar ke rumahnya.


Sampai di rumah sudah disambut Naura dengan wajah cemas. Apalagi papa Ulya sudah datang pula.


''Sesore ini belum mandi?" kata Ulya menyambut buah hatinya datang dengan wajah lusuh.


Tapi dasar anak-anak, dipandang dengan wajah itu malah senyum-senyum. Bahkan Devra menceritakan panjang lebar tentang senangnya bermain gledekan bersama Noval Novi dan adik kembarnya mengelilingi kompleks.


"Iya ... ya ... tapi mandi dulu sana. Cut." kata Ulya menghentikan cerita Devra. Untung papa Ulya sabar ....


Devra segera berlari mengikuti Naura dan Ifroh yang membawa si kembar untuk mandi.


Ada saja hal yang dikerjakan krucil kalau berkumpul. Permainan tidak hanya berhenti di sore hari. Namun berlanjut saat selesai isya.


Akmal dan Akram jadi pemanis dalam permainan mereka. Kalau tidak buldosser, maka manjadi raksasa pemakan segala. Termasuk alat permainan yang mereka gunakan.


Sedang asyik-asyiknya membuat istana dari lego. Begitu jadi, datang si kembar, didudukinya.


"Ya ... ya ... ya ....." kata mereka serempak. Melihat usahanya menjadi berantakan. Sedangkan si kembar menebar pesona senyum tanpa dosa.


"Sudah, kita bikin mobil aja."usul Naufal.


"Oke ... oke ...." jawab para gadis di sekelilingnya.


"Mana rodanya?" tanya Devra.


"Iya ... mana ya ...."imbuh Naufal.


"Nach itu ....'' jawab Novi sambil menunjuk mulut Akmal dan Akram yang penuh dengan roda yang mereka cari.


"Adik ...." sahut Devra kesal.


Segera Devra mengeluarkan roda itu dari mulut Akmal Akram.


....


....


....


Selamat menunaikan ibadah puasa. Sedikit kisah ini moga-moga bisa mengurangi rasa lapar kita.💗💗💗

__ADS_1


__ADS_2