Mahabbah Rindu

Mahabbah Rindu
BAB 69 : Dalam Keluarga Ulya


__ADS_3

"Sebentar. Kok Devra sering dengar mama panggil papa, Kakak?" tanya Devra penasaran dengan mata membulat penuh selidik.


Nach ini yang bikin Naura agak-agak gimana gitu, mau menjelaskan. Masa mau diceritakan masa lalu mereka, tak mungkinlah ....


"Harusnya mama panggil apa, Devra sayang?"tanya Naura.


Nyerah dech ....


Ketahuan sering salah kalau panggil Ulya di depan putrinya.


"Eeemmmm ...."


"Panggil sayang saja." usul Ulya menggoda. Sambil mengambil gelas dari tangan Naura.


"Idih, Papa." jawab Devra.


Membuat Ulya membelalakkan mata menatap putrinya dengan senyum. Tak sangka akan mendapatkan penolakan.


Naura tersenyum lebar. 1 poin untuknya saat ini. Ada pembela yang tak terduga. Dan yang terpenting , bisa menutupi debar jantungnya yang mulai tak beraturan.


Karena dia paling takut, kalau-kalau Devra memintanya untuk memanggil sayang. Lidah ini masih kelu. Kan belum sah.


"Cukup panggil papa saja. Kayak teman-teman Devra."


"Baiklah, Mama akan ingat itu."jawab Naura cepat. Agar Ulya tak berkesempatan mengungkapkan ide lainnya. Yang membuat detak jantung ini semakin berdebar-debar ....


"Tapi kalau nggak ada Devra, harus panggil sayang." bisik Ulya.


"Maaf, belum sah Tuan."


"Bentar lagi."


"Tunggu waktu itu saja."


Ulya menyerah. Tak ingin menggodanya lagi. Baby kembar ini lebih menarik. Dia memberikan ciuman hangat.


Dia lupa, Ifroh masih menunggu di pinggir pintu. Memandang mereka dengan tersenyum.


Bahagianya keluarga yang kini diikutinya.


"Oh ya, Ma. Itu Ifroh. Aku titip dia padamu. Agar kamu nggak kerepotan mengasuh putra kita." kata Ulya setelah beranjak dari sisi kereta bayi. Yang membuat si kembar mengeliat. hampir-hampir terbangun, kalau tak ditenangkan Naura kembali.


"Sini mbak, jangan malu." panggilnya.


Ifroh pun mendekat.


"Ini putra-putriku, tolong bantu ya ."


"Ya, Nyonya."jawab Ifroh yang membuat Naura senyum.


"Kelihatannya mbak capek, istirahatlah dulu! "


"Terima kasih, Nyonya."jawab Ifroh.


"Jangan panggil aku nyonya, aku bukan nyonya di rumah ini."


"Hanya belum, sebentar lagi." sahut Ulya.


"Ini Ifroh istirahat di mana, Tuan?"tanya Ifroh.


"Tanyalah sama dia." jawab Ulya menoleh pada Naura.


"Oke, mbak Ifroh silahkan ke kamar yang ada di sana." kata Naura segera.

__ADS_1


Ada-ada saja. Meski aneh di telinganya, diturutinya juga. Nyonya, sebutan yang saat ini membuat dia tertawa.


"Ya." jawab Ifroh. Lalu dia meninggalkan mereka menuju kamar yang sudah dia kenal. Tak lain dan tak bukan kamarnya dulu.


"Kakak nggak balik ke kantor."


"Nach kan, mama lupa lagi."protes Devra. Membuat Naura tersenyum malu.


"Anak papa pinter."Ulya mengecup dahi Devra lembut.


"Assalamu'alaikum ..."Ulya segera keluar, menghindar dari pertanyaan dan pernyataan Devra yang kadang bikin pusing kepala. Biarlah itu jadi pekerjaan Naura saja.


Ya ... melarikan diri. Begitulah ceritanya.


"Wa'alaikum salam ..." jawab Naura dan Devra.


"Mama, kenapa nggak cium tangan papa?" tanya Devra.


Nach kan, ada lagi pertanyaannya.


"Benarkah, mama lupa." jawab Naura sekenanya.


"Sekarang diberesi mainannya ya, mama bacakan cerita. Waktunya bobok siang kayak adik." ajak Naura lembut. Sambil membereskan gelas-gelas bekas minuman Ulya dan Devra.


"Ya, Mam."


Setelah cuci muka dan sikat gigi, Devra dengan patuh mengikuti mama Naura menuju ranjangnya yang dulu. Tak lagi sekamar dengannya. Karena adik sudah lahir.


Akhirnya berhenti juga celoteh -celoteh Devra yang menggemaskan, dengan seiring matanya tertutup. Yang membawanya ke alam mimpi.


🔷


Sambil membelai lembut rambut Devra, angan Naura melayang ke dalam kenangan masa lalu. Ada kerinduan pada orang-orang yang dia sayangi yang ada di kampung halaman, Indonesia.


Sejak kelahiran Akram dan Akmal, keluarganya yang ada di Indonesia belum ada yang ke tempatnya. Membuat kerinduan nya makin menggebu. Tapi dia memakluminya. selain jauh kendala biaya juga.


Kalau keluarga papa Sofyan memang berada


Sehingga bisa ke sini dengan sendirinya, bahkan sejak seminggu yang lalu. Sambil liburan keluarga.


Sekarang sudah beranjak sore, sudah saatnya untuk menyiapkan air hangat untuk si kembar mandi.


Diapun beranjak dari ranjang, meninggalkan Devra yang masih tertidur pulas.


Tapi rupanya Ifroh lebih dulu menyiapkan air mandi untuk si kecil. Bahkan baju gantinya juga.


" Terima kasih ya ..."


"Sudah kewajiban saya, Nyonya."


"Mana anaknya, Nyonya?"


"Iya."


Naura segera mengambil babynya yang masih tertidur, diikuti oleh Ifroh. Untuk menggendong yang satunya.


Saat Ifroh hendak memandikan putranya, Dia menyingsingkan lengan baju. Terlihat luka bakar pada kulit Ifroh meski sudah kering.


"Sudah, Ifroh. Biar saya saja. Nanti kalau sudah benar-benar sembuh, baru bantu saya."


"Nggak apa-apa, Nyonya."


"Jangan membantah." tegur Naura. Kali ini Naura memaki bahasa Indonesia. Yang membuat Ifroh terperanjat sekaligus senang.

__ADS_1


"Nyonya bisa bahasa Indonesia?"


"Saya itu dari Indonesia, Ifroh."


"Benarkah?" kata Ifroh tak percaya.


"Sudah. Jangan bengong. Tolong ambilkan handuknya."


"Baik Nyonya."


Segera dia mengambil handuk yang sudah disiapkan. Memberikannya pada Naura. Yang membalutkannya pada Akram dengan sempurna.


"Sayang, sekarang sama mbak Ifroh dulu ya. Mama mau mandikan saudaramu." kata Naura lembut pada putranya yang menggeliat-menggeliat di tangannya.


" Jangan lupa kasih minyak telon dan bedak, biar hangat."


"Ya, Nyonya."


Dengan telaten, dia mengusap tubuh Akmal dengan minyak telon serta memberinya bedak sehingga wanginya tercium segar.


Naura juga sudah memandikan Akmal pula. Dia memberikannya pada Ifroh, agar mendapatkan perawatan yang sama dengan kembarannya.


"Titip dulu mereka, Ifroh."


"Ya, Nyonya."


Sebelum menyusui Akram dan Akmal, tak lupa dirinya memberaihkan diri dulu, agar segar. Dan si kembar dapat menyusu dengan nyaman.


Sementara itu Ifroh menarik maju mundur kereta bayi tersebut, agar menjadi tenang, tidak rewel selama ditinggal mamanya mempercantik diri.


"Sini Sayang. Gantian ya." kata Naura meraih Akmal dalam pangkuannya. Yang langsung mencari sumber makanannya. Setelah mendapatkan, diapun melahap nya dengan rakus.


Setelah dirasa kenyang, dia meraih yang satunya lagi, agar mendapatkan haknya pula.


"Bangunkan Devra. Nanti kesorean mandinya."


"Ya, Nyonya."


Tidak memerlukan waktu lama, Devra mengikuti kemauannya.


Terdengar bel berbunyi. Tapi dari pintu belakang. Sepertinya ada tamu. Segera Ifroh meninggalkan Devra. Namun sudah didahului Naura yang segera membuka pintu itu.


Begitu pintu terbuka, dia berteriak senang.


"Wa'alaikum salam ..., Ma." kata Naura. Dan memberikan pelukan hangat penuh kerinduan padanya.


"Siapa yang mama bawa?" kata nyonya Efsun sambil menunjukkan wanita di belakangnya.


"Kak Nadya."Teriak Naura yang segera memeluknya erat dan lama.


"Aku rindu, Kak."


"Sama Nur, kakak juga rindu sama kamu."


Tak terasa air mata Nur pun menetes. Sebagai ungkapan bahagia yang dia rasakan.


"Kak Nadya sendiri? tanya Naura, "Mana kak Hamdan.?"


...


...


...

__ADS_1


....


__ADS_2