Mahabbah Rindu

Mahabbah Rindu
BAB 63 : Mustofa (POV)


__ADS_3

"Sudah menangisnya? "


"Siapa kamu?"


"Aku adiknya kak Ulya."jawab Mustofa tenang.


"Apa peduli mu? "


"Tak tahu."


Jawabnya singkat-singkat, sungguh menjengkelkan. Membuat hatiku makin nggak karuan, bisik Rima.


"Kamu nggak sibuk apa?"


"Hemmm ... dibilang sibuk, ya sibuk. Dibilang tak, ya tak."


Sebenarnya ada yang perlu diselesaikan. Tapi bos utama sudah menghandle semua. Nikmati saja kebebasan ini. Apalagi disuruh nemeni gadis cantik adik sahabat kak Ulya. Wah, siapa yang bisa nolak. Tapi ingat, jaga dia ....👹 terbayang wajah kakakku yang tiba-tiba muncul dalam angan. Wich ... serem.


Berlahan diriku menghidupkan mobil. menjalankannya berlahan meninggalkan kompleks perkantoran. Reffresing sedikit tak apa.


Biarlah diriku menikmati waktu ini dengan sebaik-baiknya. Siapa tahu ... he ... he ... he ...


Maksudnya jodoh kawan. Soalnya sama Kulsum, rasanya sudah tak mungkin. Dia hanya mengejar harta doang. Bikin sebel dan sebel. Lu ... pa ... kan.


Ini ceritanya ketemu orang senasib. Sama-sama sedang patah hati.


"Kita mau kemana?"tanyanya tiba-tiba.


"Tak tahu. Ada usul?"


"Kemarin aku banyak rencana. Sekarang hilang entah kemana."


"Ikut sedih mendengarnya."


Rasanya aku ingin tertawa, tapi rasanya kok nggak sopan banget. Orang habis mewek-mewek , malah diketawahin. Akhirnya sebisa mungkin aku tahan.


"Gimana kalau kita main ski atau main skatting."


"Boleh juga nich."


Untung dia setuju. Kalau tak, kita akan berada di jalanan terus tanpa tujuan.


"Baik kita ke sana."


Tak perlu waktu lama, kita sudah sampai di sana. Ternyata sudah ramai, banyak orang. Seperti ada lomba tuch ....


Ingin aku bergabung, tapi gadis disampingku ini sama sekali tak tertarik. Dia menuju ke kedai dan duduk dengan tenang di salah satu beranda.


"Tak ingin main."


"Entahlah, sampai sini moodku jadi hilang."


"Baiklah, aku temenin. Aku pesankan coklat hangat?"


"Boleh." jawabnya malas tanpa menoleh. Pandangannya menerawang jauh entah ke mana. Tak lama, air matanya menetes. Kembali terisak.


Wanita ini emosional sekali, bukan marah lho tapi sensitif banget. Patah hati menangisnya nggak ada berhentinya. Gini kan jadi nggak enak hati, gerutu Mustofa.


Orang yang melihat, dikira aku yang bikin dia menangis. Nasib ... nasib.


Kakak dapat senengnya, aku dapat nggak enaknya. Ibarat makan nangka. Kakak dapat nyampungnya, aku dapat pulutnya. He ... he ... he ....


Pada akhirnya dia menyandarkan kepalanya di pundakku. Nach, kan.


Jantungku bisa berdenyut hebat kalau gini. Belum lagi darahku, bisa bergejolaklah. Normal gitu lho ....


"Menangislah, kalau ingin menangis."


Mulai dech, nggak singkron hati sama mulut. Hati menyuruhku untuk melepaskan dia, biar bisa terhindar dari dag di dug yang bertalu-talu di dada. Tapi mulut malah berkata demikian. Kan akhirnya dia berasa nyaman dalam pelukan. Idiiihh ... tak sopan.


Dan lebih tak enaknya, tiba-tiba saja ada pemain ski yang melintas terlalu dekat dengan kami. Yang menyebabkan ada percikan salju yang cukup banyak ke tubuhku. Untunglah gadis ini tak kena. Aku tak bisa bayangkan kalau dia yang terkena, pasti marahnya luar biasa. Dan pasti aku yang jadi sasaran. hadeh ....

__ADS_1


Tanpa aku sadari ada yang mendatangi kami. Dia seperti geram banget menatap kami. Apalagi gadis ini masih menangis di pundakku.


"Mustofa!"


"Eh, ya." aku menoleh ke sumber suara. Ternyata suara perempuan yang ingin kulupakan. Siapa lagi kalau bukan Kulsum.


Wanita ambisius dan sedikit kasar. Mesti sangat cantik.Hingga banyak yang mengejarnya. Tapi kenapa aku yang ditujunya. Dan akhirnya aku terperdaya. Aku baru sadar yang diincar adalah perusahaan abbah, bukan diriku seutuhnya, ah ... bodohnya diriku.


"Ada apa Kulsum."


"Siapa dia?"


"Apa urusanmu?"


"Kamu?!"


"Ya, dia kekasihku." jawabku sekenanya, agar wanita yang bernama Kulsum segera meninggalkanku.


"Ternyata kamu tak lebih dari seorang play boy, yang banyak memperdaya wanita. Belum selesai urusan kita, kamu telah menggandeng wanita yang lainnya." ucap Kulsum dengan Berapi-api dan kata-kata yang tajam.


Waduh, kok jadi terbalik gini. Ah perduli amat dikatakan play boy.


Ada baiknya juga, wanita ini, entah namanya siapa aku tak tahu. Segera menghentikan tangisnya. Mungkin kaget dengan suara yang menggelegar, yang baru saja didengarnya.


"Duduklah dulu, minum coklatmu." kataku menenangkannya. Aku baru sadar kalau kami belum kenalan.


"Mengapa kamu masih ngurusi aku. Uruslah dirimu sendiri."


"Aku tak terima."


"Bukannya kamu yang minta putus."


Dia langsung terdiam. Berlahan dia meninggalkan kami dengan amat kesal, mungkin juga dalam puncak marah. Tapi aku bisa berbuat apa. Dia telah menghianatiku. Aku hanya bisa menatapnya pergi, berlalu dari hadapanku.


Sebenarnya dalam lubuk hatiku yang terdalam, menginginkan dia. Tapi apa mungkin. Karena dia, aku hampir menghancurkan perusahaan abbah. Itu yang pertama. Yang kedua ternyata dia sudah punya kekasih. Ah, kenapa jadi seperti ini ....


"Maaf, wanita tadi kekasihmu?"


"Kenapa?"


"Sudahlah, jangan dibahas."


"Tidak, aku tak mengerti. Sepertinya kamu masih mengharapkannya."


"Dia sudah punya kekasih."


"Oh, tapi dia mendatangimu. Itu berarti dia masih mengharapkan."


"Aku tak percaya lagi."


"Jujur, aku juga masih mengharapkannya."


"Lalu, kenapa kalian tidak memutuskan bersama."


"Itu tak mungkin. Jangan paksa aku untuk cerita."


"Maaf."


"Tak apa. Minum coklatmu. Keburu dingin."


"Makasih. Tak sangka kita bernasib sama."


"Dan sama-sama masih berharap bahwa dia akan kembali."


Dengan tertunduk sedih Rima menjawab,


"Iya."


Beberapa saat mereka diam sambil menikmati minuman coklat yang terhidang.


"Maaf, dari tadi kita bersama tapi belum kenalan." ujar Mustofa sambil menatap Rima dengan senyuman yang menawan.

__ADS_1


"Ya benar. Aku Rima."


" Mustofa." masih dengan senyum yang tersisa.


"Adiknya kak Ulya?"


"Bukan, kak Ulya anak tunggal. Aku sepupunya, yang dirawat sama abbah sejak kecil."


"Tadi kamu bilang adiknya."


"Oh ya, ya. Secara garis keturunan aku adiknya. Sebab, ibuku adiknya ummi."


"Oh ...."


Jawaban Oh Rima, membuat Mustofa tertawa kecil.


"Oh .... "balas Mustofa menggoda. Tak ayal membuat Rima tertawa.


"Kamu itu ada-ada saja."kata Rima tersipu.


"Nggak gitu, habisnya lucu."


Kalau liat wajahnya saat ini, mungkin orang takkan menyangka, kalau dia habis menangis.


"Hai, kenapa tadi kamu menangis?"


"Sudahlah. Tadi sudah kubilang, kita senasib."


"Kamu sedang putus."


"Aku yang terlalu berharap."


"Mengapa?"


"Dia akan menikah."


"Kasihan dong, kamu."


"Lalu kenapa nangisnya sama kak Ulya. Bisa-bisa Kak Naura cemburu."


"Kamu itu ..., aku tahu Naura takkan cemburu."


"Siapa bilang."


"Sepertinya, kamu kenal banget sama sahabatku, Naura."


"Dia sahabatmu?"


"Ya, Dan dia yang menjadi pengantin dari orang yang aku harapkan."


"Maksudmu, kamu menyukai kak Ulya?"


Rima mengangguk lemah.


"Ka ... si ... han ...."ujar Mustofa sambil senyum-senyum tak tak bisa ditahan.


"Aku tak tahu, kenapa juga kak Ulya jadi rebutan. Sudah duda, tua pula. Apa menariknya ... Aku sampai kalah."


"Ha ... ha ... ha ..." Rima tertawa.


"Bagaimana kalau kita main ski?"ajak Rima


"Itu yang aku harapkan sejak datang tadi. Ayo." ujar Mustofa senang.


________________😊😍😊________________


Readers yang budiman.


Meski Tulisan ini jauh dari kata sempurna namun Author berharap,


bisa mendapatkan apresiasi, meski hanya sekedar like. Apalagi kalau di tambah vote, wah author bener-bener berterima kasih.

__ADS_1


SELAMAT MEMBACA .....


__ADS_2