Mahabbah Rindu

Mahabbah Rindu
BAB 75 : Rumah Baru


__ADS_3

"Pa, ini rumah kita?" tanya Devra. Saat mereka telah keluar dari mobil.


"Hadiah untuk mama. Agar mama selalu bersama kita."


"Mama, nggak pergi lagi, kan?''


"Bagaimana mungkin mama akan pergi, kalau mama punya putri cantik dan baik seperti ini." kata Naura sambil menatap Devra teduh.


"Ya, sudah. Silahkan buka Sayang. Mahar dariku untukmu."


Naura menerima kunci itu, bingung juga. Bagaimana tidak, dia benar-benar tak sangka, kalau Ulya akan memanjakannya seperti ini.


"Bismillahir rohmanir rohiiiiim."


Dengan pasti, Naura memutar kunci itu. Dan ketika pintu itu telah terbuka.


"Assalamu'alaikum ..., Tuan dan Nyonya Ulya. Semoga sakinah, mawaddah wa Rohmah." ucap serempak dari orang-orang yang ada dalam rumah. semua ada 4 orang. 2 laki-laki dan 2 perempuan.


"Wa'alaikum salam ....'' jawab Naura kaget.


"Kalian ini siapa?"


"Perkenalkan. Saya Ummaimah , kepala rumah tangga di rumah ini sekaligus juru masak. Ini Sofi yang bantu bersih-bersih, Itu pak Umam satpam. Dan itu pak Aqil tukang kebun. Selamat datang Nyonya." kata Ummaimah, mewakili mereka semua.


Dia tak mengira kalau suaminya sudah menyiapkan segalanya. Termasuk orang-orang yang akan membantunya, mengurus rumah tangga.


"Sekarang kalian boleh melanjutkan pekerjaan ."


"Baik Tuan."


Mereka semua membubarkan diri. Menuju ke tempatnya masing-masing.


"Terima kasih, Mas."


Ulya tak menjawab. Dia hanya tersenyum sambil menunjuk pipinya. Yang membuat Naura sedikit kesal. menunduk dan tersipu malu.


Dia berbisik, "Ich, malu-malu in. "


"Kok, malu?"


"Di depan banyak orang."


Ulya membalasnya pula dengan berbisik, "Oke aku tunggu."


Sementara Devra sudah berlari membuka satu per satu pintu, mencari-cari kamar yang cocok buat dia.


"Devra,itu kamarmu sayang."


Ulya menunjuk satu kamar di bawah. Devra pun membuka pintu itu. Dan sepertinya sangat senang. Terlihat dari senyum dan mimik mukanya yang bahagia.


"Devra suka, Pa."


Naura akan mengikuti Devra, tapi Ulya menarik tangannya.


"Kamar kita ada di atas."


Langsung mata Naura melotot, namun disambutnya dengan tertawa oleh Ulya.

__ADS_1


"Devra cuci kaki dan muka, sikat gigi. Bobok. Nanti sore kita akan kedatangan eyang Devra semua."


"Benarkah, Pa."


"Ya, asal kali ini Devra mau bersikap manis."Naura menimpali. Kembali dia akan ke kamar Devra. Seperti biasa menemani Devra sebelum tidur. Tapi, lagi-lagi tangannya ditarik Ulya.


"Biar aku yang temenin Devra." bisiknya lembut di telinga Naura.


"Itu."


Diapun mengalihkan penglihatannya pada si kembar. Naura segera mengerti apa yang dimaksud Ulya.


"Mbak Binti, tolong bawa mereka berdua ke kamarnya, ada di atas."


"Ya, Nyonya."jawabnya. Dia mengambil seorang, seorang lagi dibawanya sendiri.


🔷


Kini Devra maupun si kembar telah tidur siang dengan nyenyak. Ulya sudah terlebih dahulu tiba di kamar mereka. Sudah mengganti bajunya dengan baju santai hendak istirahat sejenak. Setelah setengah hari lelah menjalani peristiwa yang bikin deg-degan. Namun membahagiakan.


Tak lama Naura juga menyusul. Dengan pakaian yang masih cantik. Tapi wajah terlihat capek dan lusuh. Sejenak dia menatap suaminya yang sedang rebahan di ranjang. Matanya sudah mulai terpejam.


Pertama yang ditujunya almari. Dan benar, disana sudah tersimpan baju yang seukurannya tergantung dengan rapi.


Diapun membawa baju ganti ke kamar mandi. Beberapa saat balik lagi masih dengan baju yang sama. Dan hanya duduk di depan meja rias.


"Ada apa, Sayang. "


"Itu, ini lho." kata Naura sambil menunjuk resleting bajunya.


Ulya tertawa,''Ye ... ye ... maunya. Bilang aja kalau pingin di sayang."


Menjengkelkan sekali. Orang lagi kesusahan, tapi malah digodain terus. Naura memandangnya dengan sebal. Sambil mencoba kembali membuka resleting bajunya. Tapi tak juga terbuka.


Rasa kantuk nya yang tadi sudah menyerang, kini hilang dengan sendirinya. Dia mendekati Naura dengan tertawa.


"Aku bantu, berbalik lah. Tapi jangan salahkan kalau ..."


Mendengar kata-kata yang ngegantung, malah membuat Naura merinding duluan. Serasa badannya panas dingin. Perasaan yang berbeda. Bukan seperti yang dia rasa ketika masih bersama dengan suami pertamanya. Tapi ini lebih, dan lebih.


Ulya menikmati perubahan raut wajah Naura dengan seksama. Dia membantunya tidak dari belakang, tapi dari depan agar dapat menikmati wajah istrinya yang memerah dan menggemaskan. Termasuk menghindari hal yang akan membuatnya berkelanjutan. Dia laki-laki normal. Hanya sekarang lagi capek.


"Sayang ...."


Bisikan lembut dari kata-kata Ulya, mampu menghanyutkan angannya, hingga ....


"Sudah."


"Terima kasih."


"Gitu doang."


"Lalu."


"Janji yang tadi."


Dengan sedikit malu, Naura melakukan apa yang Ulya minta. Bahkan lebih dari itu.

__ADS_1


"Sudah kan?"kata Naura malu-malu.


Lalu pergi menuju ke kamar mandi meninggalkan Ulya yang masih terbengong-bengong. Melihat tingkah laku istrinya yang menggemaskan.


Sambil tertawa senang Ulya menuju ranjang, melanjutkan aktifitasnya yang sempat tertunda. Hingga tertidur dengan sempurna. Sampai-sampai tak tahu Naura telah kembali dengan berpakaian santai. Merebahkan diri di sampingnya.


🔷


Sore ini teramat cerah dan berwarna. Berlima mereka menikmati dengan rasa syukur yang tak terhingga. Setelah melaksanakan sholat asyar, mereka bercengkrama sambil menikmati buah anggur yang Ulya petik, langsung dari pohonnya. Untuk menemani minum teh bersama.


"Pa, lagi dong."kata Devra.


"Itu juga belum habis."


Devra hanya tertawa. Lalu dengan cepat dihabiskannya anggur yang ada di atas meja. Hingga tak menyisakan sebutir pun untuk mamanya. Agar papa Ulya mau mengambilkan nya kembali untuknya.


"Hati-hati Devra, makannya. Nanti tersedak." tegur Naura.


"Habis enak sih, Ma."


"Iya, ya. Nggak - nggak kalau mama ambil."


Ulya melihat dengan asyik Naura yang sedang memarahi putrinya, tersenyum sendiri. Tanpa mereka sadari dia telah mengambil 3 gerombolan lagi, anggur dari pohonnya.


"Sudah ini, papa sudah ambilkan untuk kalian."


"Waaahhh."teriak Devra, melihat anggur merah yang sangat mengundang selera.


Tengah asyik bercanda ria, tiba-tiba terdengar bel rumah berbunyi.


"Itu pasti oma dan opa." kata Ulya yang bersegera meninggalkan mereka menuju ruang depan. Memang rencananya mereka akan menginap di sini.


"Benarkah, Pa?" tanya Devra senang.


Sewaktu sampai di depan, berubahlah raut wajah Ulya. Ternyata yang datang Ahmad dan juga Mustofa. Tamu yang tak diharapkan datang.


Kenapa mesti mereka yang datang, gerutu Ulya.


"Assalamu'alaikum ...." sapa Ahmad.


"Wa'alaikum salam ...."sahut Ulya jengkel.


Mustofa yang melihat perubahan raut wajah Ulya hanya senyum-senyum penuh arti.


"Kenapa juga kamu datang." kata Ulya tanpa basa-basi.


"Ngejenguk adikku lah.masak nggak boleh." jawab Ahmad pasti.


"Nggak, nggak boleh."


Untunglah, tak lama Naura dan juga Devra, menghampiri mereka. Mau tak mau, antara Ulya dan Ahmad sama-sama mengibarkan bendara putih. Tanda adanya gencatan senjata.


"Kakak, mana mama sama papa?" tanya Naura


...


...

__ADS_1


....


__ADS_2