
Readers yang budiman.
Meski Tulisan ini jauh dari kata sempurna namun Author berharap,
bisa mendapatkan apresiasi, meski hanya sekedar like. Apalagi kalau di tambah vote, wah author bener-bener berterima kasih.
SELAMAT MEMBACA .....
________________😊😍😊________________
cemburu, iya.
Tenang harus.
Itu yang kuperlukan saat ini. Bagaimanapun dia sahabatku, bisik hati kecil Nur.
Naura yang menyaksikan kemanjaan dan keagresifan Rima, hanya bisa menarik nafas panjang, dan membuangnya dengan pelan.
Berlahan dia menuruni tangga, diikuti oleh mama Erika yang menggendong Akram.
"Hai tante Rima, kapan datang?"
"Eh, kamu Nur. Ngagetin aku."jawab Rima tanpa dosa.
Nur segera mengambil kereta dorongnya, Untuk meletakkan Akmal.
"Ma, sini."Maksud hati agar mama Erika tidak kecapaian menggendong si mungil.
"Biar aku gendong,Nur. Aku masih kangen."kata mama Erika kemudian.
Nur senang, karena mama mertuanya sangat sayang pada putranya.
Lalu dia duduk di samping papa Sofyan. Keduanya bercanda dengan Akram. Ternyata membuat cemburu Akmal yang dia letakkan di kereta dorongnya. Dia langsung mengeluarkan senjata andalannya. Menangis keras.
"Eh, Sayang. maafkan mama."hibur Nur, mengambil Akmal lalu menggendongnya.
"Papa, bisa gendongkan?" kata mama Erika sambil menyerahkan Akram.
"Bisa, siapa takut."
"Sini, Nur."
Mama segera mengambil Akmal dari gendonganku. Seketika tangisnya terhenti.
"Rupanya, dia juga mau digendong sama kita, Nur."
Kita asyik bercanda dengan jagoan-jagoan kecil tanpa menyadari kalau kak Ulya sudah selesai mengambilkan minuman untuk Rima, yang masih berdiri mematung, tak tahu apa yang ingin di perbuatannya. Mau gendong si kecil, masih belum berani. Hanya bisa senyum-senyum melihat orang tuanya bercengkrama dengan cucunya dan juga Nur.
"Aduh, jagoan papa kangen sama kakek, nenek, Ya."
Rima yang dari merasa terabaikan, langsung menyambar minuman yang dibawa Ulya, sebelum minuman itu sampai di meja.
"Rima, sabar dikit kenapa sih."tegur Ulya,"Nah tumpahkan."
Terlihat tumpahan coklat mengenai bajunya.
Maksud hati agar Ulya membantu mengelap tumpahan yang mengenai bajunya. Tapi harapannya sia-sia, malah Ulya menghampiri orang tuanya dan bercanda dengan baby-baby Nur. Membuatnya makin kesal.
"Sudah Om, biar Ulya dan Nur yang gendong. Om istirahat dulu." sambil mengambil Akmal dan Akram dari gendongan mertua Nur.
"Sini, Sayang. Papa juga kangen. Sehari nggak lihat rasanya setahun."
"Papa, Mama mau istirahat?"
"Ya, Nur."
"Saya antar, Ma."
Sementara Nur mengantar mertuanya, Rima mendekati Ulya yang asyik bercanda dengan Akram. Ingin dia bercanda dengan keponakannya, tapi alasan utamanya tentu untuk lebih dekat dengan Ulya.
"Hai tante Rima, apa kabar. Gendong dong. Dari tadi bengong melulu."
"Ada-ada saja. Kakak sudah cocok banget punya momongan." Rima berkata sambil tertawa lebar.
"Ya jelas dong, Tante. Sudah beranak satu."
Rima mengeryitkan dahinya.
"Maksud, Kak Ulya."
"Devra, sini sayang."
Beruntung saat itu Devra muncul dari kamar Nur dengan wajah segar, tapi rambutnya belum rapi. Dia menghampiri Ulya dengan membawa sebuah sisir, karet, dan juga kaca kecil.
"Dia putriku,"
__ADS_1
Rima agak terkejut tapi dicoba untuk menyembunyikannya.
"Papa, bantuin dong, aku pingin dikepang. "
"Papa lagi gendong nich. Itu minta bantuan tante."
Ulya menoleh pada Rima yang terlihat gugup.
"Baiklah."
Meski enggan , dia ambil juga sisir dari tangan Devra.
"Sini, Tante bantu!"
Masalahnya dia tak tahu cara mengepang. Karena selain nggak pernah menyentuh anak-anak, rambutnya sendiri sejak kecil dibiasakan pendek, Panjang-panjang hanya sebahu.
Akhirnya Rima hanya menjalin begitu saja, tak berapa lama lepas lagi. Membuat Devra kesal.
"Tante, nggak kayak mama."celotehnya, cukup membuat Rima down.
Ulya senyum-senyum saja. Membuatnya makin senewen.
"Nah, itu mama. Mama, kepangin rambutku seperti kemarin."
Dia berlari Nur.
"Sebentar, mama letakkan adik dulu."
"Sayang jangan cemberut ya. Mama mau bantu kakak Devra dulu." kata Naura sambil meletakkan bayinya di kereta dorongnya dengan berlahan.
Lalu dengan telaten dia mengepang rambut Devra ke belakang dengan kepangan yang rapat.
Setelah berkaca sebentar, dia memamerkannya pada Ulya dan Rima.
"Bagus kan, Papa."
Rima tertawa melihat gaya Devra bak pragawati papan atas.
"Bagus, sini papa beri sun."
Segera saja Devra menyodorkan pipinya pada Ulya.
Muuuaaaccchhh ....
"Sudah papa kerja dulu. Baik-baik jaga adik ya,"
"Ya, Pa."
"Ma, aku pergi dulu."
Dia melangkah mendekati Nur.
"Aku mau ajak Rima, mau jelasin ke dia. Jangan cemburu." bisiknya pada Nur.
"Kakak."
Rima agak bingung juga waktu Devra memanggil Ulya, papa. Lalu memanggil Nur, mama. Ditambah pula Ulya yang tiba-tiba berpamitan dengan panggilan mama ke Nur.
"Mau ikut aku, nggak." ajak Ulya.
"Ke mana."
"Ada yang mau kujelaskan ke kamu."
"Baiklah, aku ganti dulu."
"Kutunggu."jawabnya santai.
"Yuk, Rima. Aku antar ke kamarmu."ajak Nur yang langsung membantunya, mengangkatkan barangnya.
Tak lama kemudian Rima telah kembali dengan baju yang bersih dan rapi.
"Makasih, Nur."
"Ku tinggal dulu."
"Ya Kak. Jaga baik-baik sahabatku."
"Jangan khawatir."
"Assalamu'alaikum ...."
"Wa'alaikum salam ...."
Setelah semua sudah menghilang, Nur kembali pada rutinitas seperti biasanya. Sambil menyiapkan makan siang untuk mertuanya dan juga Ulya dan Mustofa, yang selalu minta dikirim untuk makan siangnya.
__ADS_1
Biasanya berangkat, bekal sudah siap. Tapi kalau ada sesuatu. Maka dia akan mengirimkannya. Diantar oleh Mehmed, suami mbak Fatim.
🔷
"Rima, sejak di rumah, kulihat kamu bengong saja. Ada apa?" tanya Ulya sambil mengemudi mobilnya di jalanan yang cukup ramai namun lancar.
"Itu Kak. Kenapa kakak dan Nur sudah saling panggil papa mama. Sebenarnya hubungan kalian sekarang seperti apa."
"Panggilan mama papa itu, hanya pada saat kita di hadapan Devra. Panggilan Naura ke aku sama dengan kamu panggil ke aku."
"Syukurlah."
"Maksudnya?"
"Berarti aku masih punya kesempatan dong,"jawab Rima terus terang.
"Itu yang mau aku jelasin ke kamu. Aku tak mau menyakiti putriku satu-satunya. Dia sudah menganggap Naura sebagai bundanya. "
"Tapi Kak."
"Aku akan meresmikannya hubungan kami sekalian, agar putra-putrinya kami menjadi tenang."
"Itu putranya kak Andre."
"Aku tahu, dan itu amanah Andre sebelum dia meninggal."
"Berarti kakak hanya menjalankan amanah, nggak cinta kan?"
Ulya mengambil nafas panjang, lalu menghembuskannya berlahan.
"Kakak sudah mengenal Nur sebelum kakakmu mengenalnya."
"Apakah kak Ulya mencintainya?"
"Sejak dia masih kanak-kanak."
"Kenapa kak Ulya membiarkan bersama kak Andre."
"Rumit, Rima."
"Lalu?"
"Sekarang ini kakak mau mewujudkannya."
"Berarti nggak ada kesempatan untuk Rima."
"Kamu jangan marah, Rima. Kakak sayang sama kamu sebagai adik sahabat kakak. Kamu mengerti?"
Rima diam lama, tak tahu harus berkata lagi untuk mengungkap perasaannya. Yang kini jelas-jelas sudah tertutup untuknya.
"Apakah kalian sudah menikah."
"Dua minggu lagi."
"Berarti masih ada kesempatan untukku."
"Kuharap kamu tidak menyakitimu lebih jauh lagi."
"Aku nggak bisa, Kak."
"Dulu Naura juga berkata seperti itu waktu akan melangkah menuju rumah tangga dengan Andre, kakakmu. Tapi lihatlah dia, akhirnya bisa menerima kakakmu dengan sempurna. Bahkan kini telah melahirkan 2 orang putra yang lucu dari kakakmu."
"Kakak tak cemburu?"
"Itu masa lalunya."
"Aku iri dengan Nur, bisa dengan orang yang menerima dia apa adanya."
"Suatu hari nanti pasti akan menemukan jodohmu juga."
"Aku tak tahu, yang aku tahu saat ini sangat sakit."Kata Rima lirih dengan air mata yang tak bisa dibendung lagi. Hingga dia tak menyadari kalau Ulya sudah menghentikan mobilnya di parkiran kantornya.
"Sebenarnya aku mau ajak kamu ke masjid biru dan tempat lain yang kamu inginkan. Tapi sebentar lagi aku ada metting."
"Nggak usah, Kak. Aku nanti makin tak bisa melepaskan kakak."
"Baiklah, biar Mustafa yang nemenin kamu. Gimana?"
"Terserah."
"Tunggulah sebentar. Aku temui Mustofa dulu."
"Aku tak peduli."
Ulya meninggalkan Rima yang sedang terisak di mobilnya ....
__ADS_1