
Sesampainya di rumah, Via melihat Mahen sudah duduk menunggunya di teras. Dengan cepat dia keluar dari mobil dan menggendong tubuh Yara yang sudah tertidur.
Melihat istrinya sudah datang, Mahen langsung menghampiri wanita itu. "Biar Mas saja yang menggendongnya!"
"Tidak perlu, Mas!"
Via terus berjalan masuk ke dalam rumah tanpa menghiraukan ucapan Mahen. Dia masuk ke dalam kamar Yara dan membaringkan putrinya, tidak lupa menarik selimut agar angin malam tidak mengganggu tidur gadis kecil itu.
"Selamat malam, Sayang!"
Cup. Via langsung keluar dari kamar Yara dan menutup pintunya, dia lalu berbalik dan terkejut melihat Mahen ada di belakangnya.
"Sayang, bisakah kita bicara sebentar?"
Via yang sudah akan berlalu dicekal oleh Mahen, dia lalu melihat suaminya itu dengan tajam. "Aku lelah, Mas! Bisakah kau tidak menggangguku?"
Deg. Genggaman tangan Mahen langsung terlepas saat mendengar ucapan Via, sementara Via sendiri segera berlalu ke dalam kamarnya.
Brak!
Via langsung mengunci pintu kamarnya dan bersandar di sana, tubuhnya langsung merosot ke lantai karna merasa benar-benar lemas.
Dia menelungkupkan kepalanya di sela-sela kedua kaki yang terlipat, tidak berselang lama terdengar tangisan yang tentu saja berasal darinya.
Via kembali menangisi apa yang sudah terjadi padanya, bagaimana mungkin suami yang sangat dia cintai tega menduakan cintanya? Di mana letak kesalahannya? Dan bukankah, selama ini hubungan mereka baik-baik saja? Atau malah hanya dia sendiri yang merasa baik, sedangkan suaminya tidak?
Entahlah, Via teralu lemah untuk memikirkan semua itu. Sungguh jiwanya sangat terguncang dengan semua yang terjadi, wanita manapun pasti akan sangat terluka jika mengalami nasib yang sama dengannya.
Tangan Via berpegangan pada dinding dan mencoba untuk bangun, dengan tertatih-tatih dia mencoba untuk mencapai ranjang.
__ADS_1
Via langsung menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang itu, rasa sakit dihatinya semakin terbuka saat sedang di rumah bersama dengan Mahen seperti ini.
"Astaghfirullahal'adzim!"
Beberapa kali Via beristighfar agar hatinya menjadi tenang, dia terus mengulanginya sampai tidak terasa kalau kedua matanya mulai terlelap.
Sementara itu, Mahen yang masih berada di ruang keluarga tampak berjalan ke sana kemari seperti setrika panas. Dia merasa sangat takut dan gelisah melihat kemarahan Via, karna baru pertama kalinya wanita itu marah sampai seperti ini.
"Sebenarnya dari mana Via tau hubunganku dengan Clara? Dan kenapa pula dia bisa sampai tau apartemennya?"
Mahen mengusap wajahnya dengan kasar, dia lalu menghempaskan tubuhnya ke atas sofa. Semua terjadi dengan begitu cepat, sampai-sampai dia kebingungan dengan semua ini.
"Via pasti sangat kecewa denganku, dan aku, aku sudah menyakiti hatinya!"
Rasa bersalah mulai menyelimuti hatinya saat ini, dia menyesal telah jatuh ke dalam hubungan terlarang bersama dengan Clara.
Awalnya Mahen sangat terkejut saat pertama kali bertemu dengan Clara, Wanita itu adalah salah satu karyawan baru yang ada di perusahaan keluarganya setahun yang lalu.
Clara juga salah satu wanita yang sempat dekat dengannya saat masa-masa kuliah dulu, dan usia wanita itu sama dengan Via.
Awal pertemuan mereka, keduanya hanya bersikap biasa saja layaknya atasan dan bawahan. Clara adalah salah satu karyawan dalam divisi keuangan, yang secara tidak langsung akan berhubungan dengannya.
Sejak itulah waktu terus mempertemukan mereka, dan rasa nyaman mulai hinggap dihati Mahen saat Clara mulai berani bersikap manja padanya.
Lambat laun, hubungan itu berkembang menjadi sebuah ikatan sepasang kekasih. Mahen seolah lupa kalau dia sudah menikah, bahkan punya seorang anak berusia 3 tahun lebih. Dia larut dalam kenyaman yang Clara ciptakan, hingga sanggup membuat janji untuk menikahi wanita itu.
"aku akan menikahimu!"
"tapi kau sudah punya istri, Mahen! Bagaimana mungkin kau akan menikahiku?"
__ADS_1
"aku mencintaimu, Clara! Tapi aku juga sangat mencintai Via, mungkin kalian bisa hidup bersama?"
"apa kau gila, Mahen? Bagaimana mungkin kami bisa hidup bersama? Apa kau berniat untuk melakukan poligami?"
"ya, sepertinya aku harus melakukan itu. Aku tidak bisa berpisah dengan Via, tapi aku juga menyayangimu. Kecuali kalau kau tetap ingin menjadi kekasihku!"
"Itu tidak mungkin! Aku tidak mau terus seperti ini, aku juga ingin dikenal orang-orang sebagai istrimu, Mahen! Kalau memang kau ingin poligami, baiklah! Aku akan menerimanya!"
Begitulah percakapan mereka beberapa bulan yang lalu, dia menjanjikan sebuah pernikahan sebagai istri kedua untuk Clara. Namun, dia harus mencari waktu yang tepat untuk memberi pengertian pada istrinya. Dia yakin kalau Via akan menerimanya, karna wanita itu sangat baik dan juga pengertian.
Akan tetapi, semua targetnya meleset. Ternyata Via sudah tau lebih dulu tentang hubungannya dan Clara, hingga menyebabkan wanita itu marah besar.
Saat ini dia harus menenangkan Via, dan mencoba untuk memberi pengertian untuk semuanya. Namun, kalau Via tetap tidak mau menerimanya bagaimana? Apa yang harus dia lakukan? Haruskah dia berpisah dengan Clara?
Entahlah, Mahen tidak bisa berpikir jernih saat ini. Dia lalu pergi ke kamar tamu untuk istirahat, karna dia tau kalau Via pasti tidak ingin diganggu.
Keesokan harinya, Via bangun tepat saat adzan subuh berkumandang. Dengan cepat dia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri, dan juga mengambil wudhu untuk menunaikan ibadah wajib bagi semua umat islam.
Selesai shalat, Via bersimpuh di atas sajadah dengan berurai air mata. Dia memohon kekuatan dan juga kesabaran yang tiada batas untuk menghadapi semua cobaan hidup, dia berharap akan ada sebuah jalan terang untuk rumah tangganya.
"Ya Allah, kuatkan dan teguhkanlah hatiku. Aku hanya hambamu yang lemah, bantulah aku untuk menjadi kuat agar bisa menghadapi semua cobaan hidup. Berikanlah jalan keluar untuk semua masalah rumah tanggaku, Engkaulah yang tau segala kebaikan untuk semua hambamu!"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1