Mahligai Cinta Yang Terbagi

Mahligai Cinta Yang Terbagi
Bab. 45. Sidang Pertama.


__ADS_3

Sesampainya di pengadilan agama, Via dan Riani segera turun dari mobil dan berjalan ke arah Nanda yang sudah menunggu di tempat itu.


"Assalamu'alaikum, Tuan Nanda," ucap Via dan Riani secara bersamaan.


"Wa'alaikum salam. Bagaimana kalau kita manggil nama saja, saya merasa asing jadinya."


Via dan Riani saling lirik mendengar ucapan Nanda. "Kalau gitu kami akan memanggil Anda dengan sebutan Mas, Anda kan lebih dewasa dari pada kami."


Nanda menganggukkan kepala. "Baiklah, aku akan memanggil kalian dengan nama. Bagaimana Via dan Riani? Begitu kan?"


Via dan Riani terkekeh geli, mereka tidak menyangka kalau Nanda akan berubah seperti itu. Padahal kemaren laki-laki itu masih sangat kaku bak kawat jemuran tetangga.


"Benar, Mas. Kau pintar sekali," celetuk Riani sambil mengedipkan sebelah matanya.


Nanda dan Via tersenyum melihat apa yang Riani lakukan, sementara wanita itu juga ikut tersenyum dengan cerah.


Sebenarnya Nanda tidak berubah karena memang aslinya dia orang yang humble dan terbuka. Hanya saja dalam hal pekerjaan dia harus membatasi diri, dan melihat dulu bagaimana sifat dan karakter kliennya. Setelah itu, dia baru bisa bersikap yang sesuai agar nantinya tidak menimbulkan masalah.


Dari kejauhan Mahen menperhatikan Via dengan tangan terkepal, dadanya bergemuruh melihat tawa yang ada dibibir wanita itu.


"Kenapa kau diam saja, Mahen? Ayo, kita harus masuk ke dalam." Clara menarik tangan Mahen dengan kuat, tentu saja dia sudah tidak sabar dengan semua yang terjadi ini.


Mahen menatap Clara dengan tajam. "Aku kan sudah melarangmu untuk datang ke sini!" Dia merasa tidak suka dengan keberadaan wanita itu.


"Aku hanya ingin menemanimu, Mahen. Memangnya apa yang salah dengan itu?" ucap Clara, "aku tidak mau kau sendirian, Mahen. Apapun yang terjadi, aku akan selalu ada bersamamu, juga anak kita ini,"


Mahen menghela napas berat. "Baiklah, terserah kau saja." Dia berbalik dan segera berjalan masuk ke dalam ruangan sidang.


Mama Camelia dan Papa Adrian yang ternyata ada di tempat itu hanya melihat dari dalam mobil saja. Sejujurnya mereka merasa sedih, tetapi tidak bisa melakukan apa-apa.


"Apa rumah tangga mereka memang tidak bisa di selamatkan lagi?"

__ADS_1


Papa Adrian tersenyum tipis. "Kenapa? Bukannya dari dulu kau dan ibu tidak suka dengan Via?" Matanya melirik ke arah sang istri yang juga menatap tajam.


"Aku bukannya tidak suka. Hanya saja tidak bisa dekat, padahal aku baru saja ingin memperbaikinya." Ada rasa sesal dalam hati mama Camelia saat ini, karena sejak dulu dia tidak dekat dengan menantunya. "Tapi, bicara tentang ibu. Dia sama sekali belum tau tentang masalah ini, apa nantinya tidak akan ada masalah?" Dia melihat ke arah sang suami dengan khawatir.


"Aku sudah memberitahu ibu, mungkin lusa dia akan kembali," ucap Papa Adrian. Dia sudah menghubungi ibunya yang saat ini sedang jalan-jalan keliling eropa.


"Lalu, apa kata ibu?" tanya mama Camelia kemudian.


"Apa lagi? Tentu saja dia senang dan juga marah. Dia senang karna Mahen berpisah dengan Via, tapi dia juga marah karna Mahen menghamili wanita lain."


Mama Camelia mendessah frustasi. Dia tau kalau ibu mertuanya pasti akan murka, sejak dulu wanita tua itu memang tidak suka dengan Via. Tentu saja dengan alasan karna tidak sederajat dengan mereka, juga tidak punya jenjang karir yang bisa dibanggakan.


"Jangan pikirkan tentang semua itu, biar saja Mahen yang mengurusnya. Dia yang sudah membuat masalah, maka dia sendiri yang harus membereskannya," ucap Papa Adrian. Dia kemudian menyalakan mesin mobilnya dan melaju meninggalkan tempat itu.


Ruangan sidang sudah dipenuhi oleh para penggugat dan tergugat, juga ada beberapa audiens yang ingin menyaksikan jalannya persidangan hari ini.


Suasana yang semula ramai mendadak jadi hening saat MC mengatakan kalau hakim dan jajarannya akan segera memasuki ruang persidangan.


"Asslamu'alaikum warahmatullahi wabarakatu, selamat pagi menjelang siang saya ucapkan pada semua orang yang hadir dalam persidangan kali ini." MC acara langsung memberika kata sambutan pada semua orang, tidak lupa penghormatan untuk hakim dan jajarannya yang lain.


Tanpa mengulur waktu lagi, sidang perceraian segera dibuka dengan ketukan palu yang hakim lakukan. Diharapkan agar pihak penggugat dan tergugat, beserta pengacara masing-masing untuk mengambil tempat yang sudah di sediakan.


Kini hakim berhadapan langsung dengan penggugat dan tergugat, yaitu Silvia Maharani dan juga Mahendra Arkana.


Hakim harus mengajukan berbagai pertanyaan pada mereka berdua, yang dimulai dari pihak penggugat terlebih dahulu.


"Hadirin pada siang hari ini, sidang sudah resmi saya buka. Diharapkan untuk bersikap kondusif selama berlangsungnya persidangan, terutama untuk pihak penggugat dan tergugat."


Duk, duk, duk. Suara ketukan palu menggema di tempat itu bersamaan dengan kedatangan seorang lelaki yang langsung mengambil tempat di sudut ruangan.


"Kepada penggugat, apa benar anda ingin bercerai?" tanya hakim pada Via.

__ADS_1


Via meremmas kedua tangannya yang saling bertautan, sungguh air matanya sudah akan jatuh sekarang. "Be-benar, Tuan Hakim."


"Apakah Anda yakin dengan keputusan yang diambil?"


Nanda mengusap bahu Via membuat wanita itu tersentak, dia yang sejak tadi menunduk melihat ke arah laki-laki itu.


"Angkat kepalamu, keluarkan semua rasa sakit yang kau rasakan. Inilah waktumu untuk bebas, dan jangan menjadi lemah hanya karna perasaan cinta yang masih tersisa."


Via menganggukkan kepala sambil mengusap air mata yang berhasil menetes dari kedua matanya, dia lalu mengalihkan pandangan ke arah hakim.


"Saya benar-benar yakin, Tuan Hakim."


Hakim itu mengangguk. "Apa Anda tidak ada niat untuk rujuk kembali pada suami Anda?"


"Tidak, Tuan Hakim,"


"Baiklah. Kepada tergugat, apakah Anda setuju dengan keputusan dari pihak penggugat?"


Mahen terdiam saat mendapat pertanyaan dari hakim. Lidahnya terasa keluh untuk digerakkan, bahkan dadanya bergemuruh dengan sangat hebat.


"Tergugat, apa Anda mendengar saya?" Hakim kembali memanggil Mahen karena laki-laki itu tidak menjawab pertanyaannya.


"Saya, saya tidak setuju, Tuan Hakim."


Semua orang merasa terkejut dengan apa yang Mahen ucapkan, terutama Via dan juga Clara.




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2