Mahligai Cinta Yang Terbagi

Mahligai Cinta Yang Terbagi
Bab. 28. Mencari Identitas Sendiri.


__ADS_3

Via dan Riani terpaku sambil menatap Nanda yang saat ini sedang tersenyum ke arah mereka. "Yang anda katakan benar, Tuan Nanda!" Riani menganggukkan kepalanya karna setuju dengan apa yang Nanda katakan.


"Tidak semua suami seperti itu, hanya saja ada beberapa orang yang memang tidak bersyukur dengan apa yang mereka miliki. Sebagai wanita pun harus punya identitas sendiri, agar nantinya suami atau siapapun juga tidak bisa meremehkan wanita tersebut!"


Via meremmas kedua tangannya dengan erat saat mendengar apa yang Nanda katakan, karna semua yang laki-laki itu ucapkan adalah benar.


Setiap orang punya perasaan, dan perasaan itu mungkin suatu saat nanti akan berubah. Mungkin tidak semua seperti itu, dan yang seperti itu pastinya juga ada. Salah satunya adalah Mahen, yang mungkin saja menyukai wanita lain dengan alasan seperti yang Nanda ucapkan tadi.


"Jadi, mulai sekarang buatlah identitas anda sendiri. Tidak bergantung pada siapapun, dan tidak terpengaruh oleh apapun! Baik pekerjaan besar maupun kecil, semua itu diukur dari sebarapa bahagia dan kenyamanan anda saat bekerja!" Nanda tersenyum ke arah Via yang sedang menatapnya.


Via langsung menganggukkan kepalanya untuk menanggapi ucapan Nanda. "Terima kasih atas apa yang sudah anda katakan, Tuan Nanda! Saya merasa sadar kalau selama ini mungkin saya sudah terlalu nyaman, hingga terlena dan tidak menyadari apa yang telah terjadi!" Dia menghembuskan napas kasar dan penuh sesal.


"Menyesal itu boleh, tetapi jangan pernah menyerah dan merasa kecil hati. Juga jangan menganggap semua laki-laki itu sama hanya karna apa yang telah suami anda lakukan, karna pada hakikatnya setiap manusia itu berbeda!"


Via dan Riani kembali mengangguk, mereka benar-benar merasa beruntung bisa mengenal pengacara yang baik juga bijak seperti Nanda.


Setelah pertemuan itu selesai, mereka semua segera kembali ke tempat masing-masing. Nanda sendiri ingin langsung menyelesaikan gugatan kliennya itu, supaya semuanya berjalan dengan cepat.


"setelah ini kau mau bagaimana, Vi? Apa kau akan tetap tinggal di rumah itu?" tanya Riani sambil mengemudikan mobil.


"Hah!" Via menghembuskan napas kasar. "Sebenarnya itulah yang sedang aku pikirkan, Rin! Sepertinya aku tidak bisa tinggal di rumah kami lagi, karna Mas Mahen pasti akan tinggal di sana juga!"


Ya, itulah yang sedang Via pikirkan. Tidak mungkin dia tetap berada satu rumah dengan Mahen dalam keadaan seperti ini, apalagi jika proses perceraian sudah berlangsung.


"Kenapa kau memasang wajah seperti itu?" Riani melirik sekilas ke arah Via, lalu kembali melihat ke jalanan. "Kau tidak perlu memikirkan apapun, Vi! Fokus saja pada proses perceraianmu, untuk yang lainnya biar aku yang urus!"


Via menatap Riani dengan sendu, sejak dulu dia selalu saja menyusahkan sahabatnya itu. "Rin, aku, aku akan pulang ke rumah ibu!"

__ADS_1


Ckiittt!


Tiba-tiba Riani menginjak rem secara mendadak membuat tubuh Via terhuyung ke depan, untung saja dia memakai sabuk pengaman.


"Kau mau ke rumah Bibi?" Riani melihat ke arah Via dengan tajam.


Via langsung menganggukkan kepalanya, dalam keadaan seperti ini, tentu saja dia harus pulang ke rumah orangtuanya sendiri.


"Vi, kau akan pulang ke rumah Bibi saat Paman mengatakan hal seperti itu padamu?"


Via terdiam, dia yang tadinya menunduk kini melihat ke arah Riani. "Aku tau, Rin. Tapi mungkin maksud Ayah tidak seperti itu, mungkin dia hanya merasa terkejut karna tiba-tiba aku dan Mas Mahen akan berpisah!"


Riani menarik sudut bibirnya hingga membentuk senyum miring, dia tau benar bagaimana sifat Ayah Via yang sejak dulu tidak pernah berubah.


"Maaf, Vi! Bukannya aku mau menghalangimu untuk kembali ke rumah orangtuamu, hanya saja aku yakin kalau ayahmu akan melakukan apa yang dia katakan. Kau yang paling tau bagaimana sifat Ayahmu, coba kau pikirkan sendiri!"


"begini saja, kalau kau memang tidak mau ikut denganku. Lebih baik kita mencari tempat tinggal untukmu dan Yara, yah anggap saja kalian sudah terbebas dari Mahen!"


"Tapi, apa tidak menjadi masalah jika aku pergi dari rumah sekarang, Rin? Aku pernah dengar bahwa proses perceraian sangat sensitif sekali, tidak boleh ada sedikit cela agar lawan tidak mengambil kesempatan!" Via merasa jika Mahen akan melakukan sesuatu jika dia pergi, dia baru ingat kalau suaminya itu orang yang cerdik.


Riani juga baru terpikir hal yang sama, bisa gawat kalau sampai terjadi masalah sebelum Via dan Mahen resmi berpisah. "Begini saja, kita bicarakan dulu hal ini dengan Tuan Nanda. Setelah itu baru ambil keputusan."


Via menganggukkan kepalanya, lalu mereka kembali ke kantor Riani untuk menjeput Yara yang sedang ditemani oleh salah satu karyawan di sana.


Pada saat yang sama, di tempat lain terlihat seorang wanita sedang berada di salah satu toko peralatan bayi. Siapa lagi jika bukan Clara, wanita itu sangat bersemangat sekali untuk menyiapkan perlengkapan buah hatinya.


"Waah, yang ini lucu sekali!" Dia mengambil sebuah kaus kaki bergambar mickey mouse berwarna merah, pasti akan sangat cantik sekali jika dipakai oleh anak yang ada dalam perutnya.

__ADS_1


"Sepertinya kau bahagia sekali, ya!"


Tiba- tiba terdengar suara baritone seseorang yang membuat Clara langsung meremmas kaus kaki itu sampai kusut, dia lalu melirik ke arah orang tersebut dengan sinis.


"Ayolah, Clara! Jangan memandangku seperti itu!" Laki-laki itu menyenggol lengan Clara membuat wanita itu berdecak kesal.


"Kau mau apa lagi, Indra? Sudah ku katakan jangan ganggu aku lagi!"


Laki-laki bernama Indra itu tertawa mendengar ucapan Clara. "Aku dengar saat ini kau sedang hamil, Clara?"


Clara langsung menutupi perutnya dengan kedua tangan. "Itu bukan urusanmu!"


"Hem ... apa itu anak dari Direktur R Group?"


Clara mengepalkan kedua tangannya dengan punuh emosi, laki-laki selalu saja mengetahui semuanya. "Kau mau apa lagi, Indra? Jangan bermain-main denganku!"


"Oh ... ayolah, Sayang! Kau sudah tau apa yang selalu aku inginkan darimu!" Laki-laki itu memasang smirik iblisnya membuat Clara ingin sekali memukul wajahnya itu.


"Si*alan! Aku benar-benar tidak bisa lepas dari bajing*an ini!"





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2