
Seketika ruangan itu menjadi sangat menegangkan saat masing-masing dari mereka saling menodongkan pistol, kecuali Mahen, papa Adrian dan juga Vano yang saat ini sudah berada di belakang para polisi itu.
"Turunkan senjata Anda, atau kami akan melakukan penembakan," ancam Felix sambil menodongkan pistolnya tepat ke arah Indra.
Indra tersenyum tipis dan sama sekali tidak takut dengan apa yang terjadi saat ini. "Silahkan saja jika Anda-" Dia tidak bisa melanjutkan ucapannya saat beberapa orang masuk ke dalam ruangan itu.
Beberapa polisi yang sejak tadi berada di luar ruangan langsung masuk saat sudah mendapat kode dari Piter, mereka lalu mengelilingi Indra dan juga sekretarisnya.
"Menyerahlah, atau kami benar-benar tidak akan mengampunimu," ucap Felix lagi membuat Indra berdecak kesal.
Dia lalu melirik tajam ke arah Vano dengan dendam yang membara, karena laki-laki itulah yang telah membuatnya tertangkap seperti ini.
"Cepat, ringkus dia!" perintah Felix kemudian membuat semua anak buahnya langsung mengamankan Indra.
Papa Adrian dan juga Mahen merasa lega karena Indra sudah tertangkap, tetapi tidak dengan Vano yang merasa jika laki-laki itu akan melakukan sesuatu.
Para polisi itu lalu menghampaskan tubuh Indra dan menyuruhnya untuk tiarap dia atas lantai, begitu juga dengan anak buah laki-laki itu.
Bruk.
Salah satu dari mereka lalu memasangkan borgol di tangan Indra dan anak buahnya, kali ini mereka tidak akan bisa kembali lolos.
"Sekali lagi kami ucapkan terima kasih atas bantuan dan kerja sama dari Anda semua, dan kami akan segera membawa mereka ke kantor polisi."
Papa Adrian menganggukkan kepalanya. "Tentu saja, Pak. Saya senang bisa membantu Anda untuk menangkap laki-laki itu."
Indra tersenyum sinis mendengar ucapan papa Adrian membuat Vano terus menatapnya. Vano lalu beralih melihat ke arah River.
"Keluarlah, River. Dan periksa ke semua tempat, aku yakin kalau-"
Duar!
Belum sempat Vano menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba terdengar suara ledakan diiringi dengan teriakan orang-orang.
__ADS_1
"Aaarggh, tolong!"
"Cepat keluar!"
"Tolong!"
Semua orang berubah panik dengan apa yang terjadi, begitu juga dengan orang-orang yang ada di dalam ruangan itu.
"Si*alan. Apa yang sudah kau lakukan?" Vano langsung menerjang tubuh Indra dan melayangkan pukulan-pukulan kewajah laki-laki itu.
"Kenapa? Aku hanya memberi kejutan dengan menyalakan petasan di perusahaanmu ini," ucap Indra membuat Vano semakin murka.
Para polisi yang tadinya ada di dalam ruangan itu bergegas keluar untuk melihat apa yang terjadi, begitu juga dengan River, papa Adrian dan juga Mahen.
Asap tebal mengepul dahsyat membuat alarm kebakaran berbunyi dengan kencang. Para karyawan berhamburan keluar dari tempat itu, baik yang ada di lantai bawah maupun lantai atas.
"Cepat keluar!"
Para polisi membantu semua orang untuk segera keluar sebelum api merambat membakar semua perusahaan, petugas kebakaran pun sudah berangkat untuk memadamkan api sebelum menghanguskan semuanya.
"Astaghfirullahal'adzim. Apa yang terjadi?" Via memekik kaget dengan apa yang sedang dia lihat saat ini, dia lalu segera menghampiri orang-orang untuk bertanya apa yang sudah terjadi.
Lain hal dengan Via, Clara langsung masuk ke dalam perusahaan saat melihat apa yang terjadi. Dia yakin kalau semua itu adalah perbuatan Indra, dan dia harus segera menghentikannya.
"Cepat, kita harus mencari tuan Indra!" Para anak buah Indra yang berhasil menyalakan bom buatan itu bergegas untuk mendatangi Indra, dan berniat untuk melepaskannya.
"Bajing*an, brengs*ek! Mati saja kau!" Vano terus menghajar Indra yang tidak bisa melawan karena tangannya sedang diborgol, sementara 3 polisi yang ada di tempat itu hanya diam sambil memegangi tubuh anak buah Indra.
Suara alarm kebakaran dengan suara sirene dari mobil pemadam kebakaran yang sudah tiba dilokasi saling bersahut-sahutan, ditambah dengan teriakan orang-orang yang semakin menambah kepanikan.
"Cepat, kita harus mengeluarkan semua orang dari tempat ini!" River menghubungi semua anak buahnya untuk segera datang ke perusahaan, dan menyelamatkan orang-orang.
Keadaan di tempat itu benar-benar sangat kacau. Bukan hanya para pekerja saja yang panik, bahkan masyarakat yang ada disekitar tempat itu juga ikut merasa panik dan juga khawatir.
__ADS_1
Setelah puas menghajar Indra, Vano segera beranjak keluar dari ruangan itu untuk melihat keadaan. Sebelumnya dia sudah berpesan pada polisi yang ada di tempat itu untuk menjaga Indra dan anak buahnya agar tidak kabur.
Begitu Vano keluar, ketiga anak buah Indra langsung masuk ke dalam ruangan dan menembaki polisi yang ada di sana.
Dor
Dor
Dor
Adu tembak pun tidak bisa dielakkan, dan akhirnya menumbangkan ketiga polisi itu dan dua anak buah Indra.
"Cepat, kita harus segera pergi dari tempat ini," ucap Indra sembari keluar dari ruangan itu.
Keadaan yang sangat kacau membuat semua polisi yang ada di tempat itu kalang kabut. Mereka harus segera menyelamatkan para korban yang terkena ledakan, dan harus segera dibawa ke rumah sakit.
"Vano!"
Vano yang saat itu baru keluar untuk mencari kakak dan juga papanya langsung melihat ke arah belakang. Sontak dia langsung terkejut saat melihat keberadaan Via.
"Via? Kau, kau ada di sini?" Dia segera menghampiri wanita itu.
Via menganggukkan kepalanya dengan air mata yang sudah berjatuhan. "Kau, kau tidak apa-apa?" tangannya memegang lengan Vano dengan gemetaran. Sungguh dia merasa sangat takut sekali jika terjadi sesuatu dengan laki-laki itu.
Vano tercengang dengan apa yang Via lakukan saat ini. "Aku baik-baik saja. Tapi, kau harus segera pergi dari sini. Dia sini sangat bahaya." Dia segera menarik tangan Via untuk menjauh dari tempat itu.
"Kita harus segera pergi, Tuan."
Indra menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku tidak akan pergi sebelum membunuh Vano."
•
•
__ADS_1
•
Tbc.