Mahligai Cinta Yang Terbagi

Mahligai Cinta Yang Terbagi
Bab. 50. Menjadi Bahan Pembicaraan.


__ADS_3

Vano dan Via sama-sama terkejut dengan apa yang terjadi. Vano terkejut karena pertanyaannya sendiri, bisa-bisanya dia malah bertanya kabar wanita itu sementara ada banyak hal yang harus dia katakan.


Sementara itu, Via juga terkejut dengan pertanyaan Vano. Padahal dia sudah sangat serius tetapi laki-laki itu malah menanyakan kabarnya.


"Alhamdulillah aku baik-baik saja," jawab Via, "ba-bagaimana kabar mama dan papa? Mereka baik-baik saja kan?"


Vano mengangguk. "Mereka baik, hanya saja banyak yang harus mereka selesaikan." Dia menatap Via dengan tajam, dan di balas dengan senyuman wanita itu.


"Aku tau. Aku tau apa yang harus mama dan papa selesaikan, untuk itu tolong sampaikan permintaan maafku pada mereka," ucap Via penuh sesal. Dia tau kalau saat ini berita tentang perceraiannya sudah ramai menjadi bahan perbincangan orang-orang, bahkan ada salah satu tetangganya dulu yang menelpon kalau rumahnya sudah dipenuhi oleh para wartawan.


"Aku, aku benar-benar tidak tau kenapa perceraian ini bisa sampai membuat orang-orang menjadi ramai. Aku juga tidak tau kalau perceraianku akan sampai membuat mama dan papa susah, mungkin kau juga-"


"Via!"


Ucapan Via terpaksa berhenti saat tiba-tiba ada seorang wanita yang menghampirinya. "Astaga, kau benar-benar Via."


Sontak Via dan Vano langsung melihat ke arah orang tersebut, ternyata ada 3 orang wanita dan 2 orang lelaki yang saat ini ada di hadapan mereka.


"Loh, kalian?" Via langsung beranjak bangun saat melihat teman-teman masa perkuliahannya dulu. "Bagaimana kabar kalian semua?"


Akhirnya mereka saling bertukar kabar dan cepika-cepiki dengan hangat, begitu juga dengan para lelaki yang ikut bertukar kabar dengan Via.


"Kami memang biasa ngumpul, gak nyangka bisa ketemu sama kau juga di sini," ucap salah satu wanita yang merupakan teman Via.


"Ah, jadi begitu. Aku senang bisa bertemu dengan kalian,"


"Ku kira tadi kau sedang bersama suamimu." Wanita itu melirik ke arah Vano yang masih duduk di tempatnya tidak bergeming.


"Oh, bukan. Dia ini adik iparku," ucap Via. Sangking senangnya bisa bertemu dengan mereka, dia sampai lupa kalau Vano masih ada di tempat itu.


"Ooh, kalau gitu apa kau mau bergabung dengan kami? Kami baru saja sampai, kita pasti bisa saling cerita panjang lebar," ajak salah satu dari mereka.


Via terdiam saat mendengar ajakan itu, matanya berbinar-binar penuh harap karena memang dia tidak pernah bergabung dengan teman yang lain selain Riani.

__ADS_1


"Tidak. Kalau aku bergabung dengan mereka, bagaimana dengan Vano? Lagipula aku harus segera pulang, kasihan Yara sudah menunggu,"


"Em ... maaf, aku sebenarnya ingin sekali ikut dengan kalian, tapi masih ada urusan lain yang harus aku lakukan," tolak Via dengan halus.


"Duuh, sayang sekali ya padahal sudah lama kita tidak bertemu,"


"Iya benar. Ayolah Vi, cuma malam ini sajakan kita bisa gabung kayak gini!" bujuk mereka.


Via terlihat bingung ingin menolak atau ikut dengan mereka. Jujur saja, sudah beberapa tahun berlalu sejak terakhir kali dia berkumpul dengan teman-temannya, karena selama ini dia sibuk mengurus rumah dan juga keluarga kecilnya. Dia tidak pernah memikirkan yang lainnya selain keluarga, bahkan dia tidak pernah hadir saat acara reuni.


Vano yang sejak tadi diam memperhatikan Via tampak tersenyum tipis, dia tau kalau wanita itu ingin bergabung dengan mereka. Namun, terlihat sekali kalau ada sesuatu yang menghambat apa yang wanita itu inginkan.


"Jadi, kalian adalah teman-temannya kakak iparku?"


Mereka yang melihat ke arah Via langsung memalingkan wajah ke arah Vano. "Iya benar, ternyata kau adik iparnya Via ya?"


"Benar, apa kalian tidak berniat untuk mengajakku juga?"


Semua orang terkejut dengan apa yang Vano katakan, terutama Via yang memandang laki-laki itu dengan heran dan penuh tanda tanya.


"Te-tentu saja. Tentu saja kau boleh ikut,"


"Iya benar. Kalau gitu ayo, kami sudah memesan tempat di lantai 2!"


Salah satu teman Via langsung menggandeng lengan Vano dan membawanya beranjak ke lantai 2 dengan diikuti yang lainnya.


"Tu-tunggu dulu-"


"Ayo, Via!"


Via didorong oleh salah satu teman wanitanya membuat tubuhnya hampir terjungkal ke depan, tetapi dengan cepat dia menyeimbangkan tubuh itu sebelum terjatuh.


Vano yang melihat semua itu menatap dengan tajam, tetapi dia memilih diam dan terus melangkahkan kakinya dengan rahang mengeras.

__ADS_1


Akhirnya Via dan Vano bergabung dengan mereka semua. Mereka mengobrol ria sembari mengingat semua kenangan tentang masa lalu, sementara Vano hanya diam dan enggan untuk ikut buka suara.


"Oh ya Vi, aku dengar kau dan suamimu sedang dalam proses perceraian ya?"


Deg. Tawa yang menghiasi wajah Via langsung lenyap seketika saat mendengar ucapan salah satu temannya, sementara yang lain terlihat sangat penasaran dengan apa yang terjadi padanya. "Em ... ya, kami sedang dalam proses itu."


"Wah, aku tidak menyangka kalau kalian bisa sampai cerai seperti itu. Padahal dulu kalian selalu mesra, membuat semua orang merasa iri,"


"Iya benar, aku juga merasa iri. Tapi, kenapa kalian bisa sampai cerai? Apa ada masalah besar?"


Semua mata menatap Via dengan penasaran, mereka bahkan tidak peduli kalau saat ini kedua mata wanita itu menggantung mendung.


"Kalian-"


"Aku dan Mas Mahen memilih untuk bercerai karna merasa sudah tidak sejalan lagi, jadi kami memilih untuk berpisah."


Vano melihat Via dengan tajam saat mendengar jawaban wanita itu, dia yang sudah hampir mengamuk terpaksa diam karena Via angkat suara.


"Jadi gitu .... tapi, tidak mungkin kan kalian berpisah kalau tidak ada masalah. Berita kalian sudah ada di mana-mana loh,"


"Iya benar. Berita perceraian kalian trending sampai ke mana-mana, aku jadi sangat penasaran."


Semua teman-teman Via mulai membicarakan masalah rumah tangganya membuat dia menghela napas berat, sementara emosi Vano mulai naik sampai ke ubun-ubunnya.


"Jadi, apa masalah kalian? Apa suamimu itu selingkuh?"





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2