
Rahang Mahen mengeras karena ancaman yang dilayangkan oleh laki-laki brengs*ek itu. "Jangan coba-coba untuk mengancamku, atau kau akan menyesal!" Sorot matanya tampak sangat tajam dengan napas yang mulai memburu.
Glek. Untuk pertama kalinya ayah Chandra melihat wajah Mahen yang sangat menyeramkan, tetapi saat ini dia sedang butuh uang untuk berjudi.
"Aku tidak akan mengancammu jika kau memberi uang. Setelah itu, aku janji tidak akan lagi mengganggu-"
Tring. Tiba-tiba ponsel Mahen berdering membuat ucapan ayah Chandra terhenti. Dengan cepat Mahen mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan dari sang anak buah.
"Halo." Mahen diam mendengarkan laporan dari anak buahnya yang mengikuti Via. "Apa?" Dia sangat terkejut dengan berita yang laki-laki itu sampaikan.
"Dasar brengs*ek!" Mahen langsung mencengkram kerah kemeja ayah Chandra membuat laki-laki paruh baya itu terlonjak kaget. Ponsel yang tadi ada dalam genggaman tangannya kini terjatuh ke atas lantai.
"Apa, apa yang kau lakukan?" Ayah Chandra memberontak agar cengkraman itu terlepas, tetapi Mahen langsung meninju wajahnya membuat dia terjungkal ke belakang.
"Membusuklah kau di dalam penjara, Chandra." Mahen langsung mengambil ponselnya yang terjatuh untuk menghubungi polisi, sementara Chandra langsung ketakutan dan beranjak pergi dari tempat itu.
"Halo, saya Mahen Arkana." Mahen langsung saja melaporkan keberadaan ayah Chandra pada pihak kepolisian agar mereka bisa menangkap laki-laki paruh baya itu. "Mam*pus, kau. Berani sekali mengancamku, heh." Sinis Mahen. "Kau lihat saja, aku akan membuatmu membusuk di penjara." Dia ikut emosi mendengar kabar kalau ibu Novi disiksa oleh laki-laki itu.
Setelahnya dia kembali ke perusahaan untuk melanjutkan pekerjaan, sia-sia dia menghabiskan waktu untuk bajing*an seperti ayah Chandra.
Di tempat lain, terlihat Via sedang berada di dalam mobil untuk melihat apartemen yang akan dia beli. Hari ini dia sengaja mengambil cuti karena ingin menemani ibu dan juga putrinya, sekalian melihat-lihat apartemen yang cocok untuk mereka.
"Bagaimana dengan yang ini, Bu? Lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah Riani, jadi kita bisa sering main ke sana," ucap Via. Saat ini mereka sedang berada di salah satu unit apartemen.
"Tapi, apa ini tidak kemahalan, Nak?" Ibu Novi sampai melotot saat melihat harga dari apartemen itu.
"Bisa 3 kali bayar kok, Bu. Jadi tidak terlalu memberatkan,"
"Benar, Nyonya. Kami ingin memudahkan para pembeli untuk memiliki apartemen ini, jadi tidak harus sekali bayar saja," jelas pengurus dari apartemen tersebut.
__ADS_1
Ibu Novi lalu menyerahkan semuanya pada Via. Dia akan ikut saja dengan keputusan sang putri, yang penting tidak memberatkan dan masih sanggup untuk membayar.
"Baiklah. Saya akan membeli apartemen ini, Nona. Mohon segera disiapkan berkas-berkasnya." Akhirnya Via memilih apartemen itu untuk tempat tinggal mereka. Selain dekat dengan rumah Riani, apartemen itu juga dekat dengan taman bermain. Jadi sesekali Yara bisa bermain dengan teman-temannya yang lain.
Setelah urusan apartemen selesai, Via memutuskan untuk belanja perlengkapan dapur. Namun, dia tidak mau kalau Ibunya ikut karena kondisi ibu Novi masih butuh banyak istirahat.
Via belanja segala keperluan untuknya, Ibu dan juga Yara. Dia tidak mau mereka kekurangan apapun, karena setelah persidangan besok mereka akan langsung pindah ke apartemen.
Setelah selesai, Via langsung beranjak pulang untuk menyiapkan makan siang. Suasana di dalam apartemen sungguh sangat hangat dan bahagia, walaupun tidak ada sosok kepala keluarga di dalamnya.
"Aku sudah melaporkan ayah pada pihak kepolisian, Bu," ucap Via, biar bagaimana pun ibunya harus tau apa yang dia lakukan.
Ibu Novi mengusap bahu Via dengan sayang. "Ibu tau, Nak. Semalam Vano sudah mengatakan pada Ibu tentang ayahmu, dan ibu tidak keberatan. Memang sudah seharusnya dia ditangkap oleh polisi, ayahmu juga pernah memukulmu, kan?"
Via tersentak kaget dengan apa yang ibunya katakan. "Maaf, Bu. Aku tidak ingin membuat Ibu sedih."
Ucapan ibu Novi terdengar getir, tetapi saat ini itulah kenyataan yang sedang terjadi. Mereka harus saling menguatkan satu sama lain, apalagi saat ini kehidupan tidaklah mudah bagi mereka yang mungkin akan menyandang status janda.
*
*
*
Keesokan harinya, Via sudah siap untuk datang ke persidangan. Dengan ditemani oleh Riani dan juga sang Ibu, mereka berangkat ke pengadilan agama tepat pukul 9 pagi.
Sesampainya di sana, mereka sudah disambut oleh Nanda dan langsung dibawa ke suatu ruangan.
"Ada apa, Mas? Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Via dengan khawatir.
__ADS_1
Nanda menganggukkan kepalanya. "Hari ini sidang kedua akan dilanjutkan, Vi. Tapi di sidang ini juga, kau dan Mahen akan resmi bercerai."
Semua orang tersentak kaget dengan apa yang Nanda katakan, terutama Via yang tercengang dengan mulut terbuka.
"Ke-kenapa bisa? Bukannya masih banyak proses yang harus dilewati?" tanya Riani dengan heran. Biasanya proses perceraian akan terjadi setelah 4 sampai 5 bulan.
"Aku sudah mendapatkan semua bukti tentang perselingkuhan mereka, dan juga ...." Nanda terlihat ragu untuk mengatakan tentang keikutcampuran Vano dalam hal ini.
"Dan juga apa, Mas?" tanya Via, dia merasa penasaran kenapa prosesnya bisa berjalan sangat cepat seperti ini. Padahal disidang pertama sudah jelas Mahen menolak perceraian mereka, dan itu menyebabkan semua proses berjalan lambat.
"Em ... ada seseorang yang mengurus semua ini, Vi. Jadi perceraianmu dan dia bisa cepat selesai."
Via mengernyitkan keningnya dengan bingung, tetapi saat ingin kembali bertanya. Ibu Novi memegang tangannya membuat dia beralih ke arah sang Ibu.
"Semua ini pasti bantuan dari Allah, Nak. Bukankah memang lebih baik kalau kau dan Mahen cepat bercerai?"
Via menganggukkan kepala. "Ibu benar, hanya saja semua terasa janggal."
Nanda memutuskan untuk tidak memberitahu soal Vano, atau dia akan memberitahukannya saat sudah selesai sidang nanti.
Akhirnya persidangan pun dimulai saat semua orang sudah berkumpul di tempat itu, termasuk Mahen dan juga Clara. Tentu saja Vano juga hadir di sana membuat Mahen menjadi kesal.
"Baiklah, hari ini statusku akan berubah."
•
•
Tbc.
__ADS_1