
"Vano!"
Vano yang sudah hampir sampai menghentikan langkah kakinya saat mendengar teriakan seseorang. Dia lalu menggelengkan kepalanya karena merasa bahwa itu hanya halusinasinya saja.
"Vano, tunggu!"
Vano langsung berbalik saat kembali mendengar suara itu, dan betapa kagetnya dia saat melihat Via dan Yara sedang berlari ke arahnya. Dia segera berjalan mendekati wanita itu membuat River juga mengikutinya
"Tu-tunggu, tunggu sebentar." Via segera menurunkan Yara dari gendongan dengan napas tersengal-sengal, tubuhnya terhuyung ke belakang membuat Vano sigap menangkapnya.
"Kau, kau tidak apa-apa?" Vano menatap Via dengan khawatir.
Via sendiri merasa sangat lelah karena terus berlari sampai membuatnya serasa ingin pingsan, apalagi dia tadi menggendong Yara yang sudah semakin berat.
"Om Pano, Om Pano mau ke mana?" Yara menarik-narik tangan Vano dengan mata berkaca-kaca, dia tahu kalau saat ini Vano akan pergi karena sedang membawa tas besar.
Dengan cepat Via mendirikan tubuhnya dari pelukan Vano membuat laki-laki itu tersentak kaget.
"Om Pano!" Yara yang merasa tidak dipedulikan mulai kesal sampai air matanya keluar membuat Vano langsung menggendongnya.
"Iya, Sayang. Kenapa menangis?" Vano segera mengusap air mata yang ada di pipi Yara.
"Om Pano mau ke mana? Kenapa bawa tas besar gitu?" Yara menunjuk ke arah koper yang ada bersama River.
Vano tersenyum saat mendengarnya. "Om Vano mau kerja, jadi harus bawa tas besar."
"Kelja di mana? Om Pano enggak pulang lagi?" Mata Yara kembali berkaca-kaca membuat Vano tidak bisa menjawab pertanyaannya.
"Itu ...." Vano bingung harus bagaimana mengatakannya membuat Via yang sejak tadi diam menundukkan kepala sambil mengusap air matanya.
"Yara, ikut sama om River yuk!" Tiba-tiba River angkat bicara saat melihat Via, dia tahu jika wanita itu ingin bicara dengan sang tuan.
"Enggak mau, Yala mau sama Om Pano." Yala menolak ajakan River mentah-mentah.
__ADS_1
"Tapi mama mau bicara sama om Vano. Setelah itu, om Vano tidak akan jadi pergi,"
"Benalkah?" Yara memekik senang, sementara Vano menatap River dengan tajam.
Akhirnya Yara mau ikut bersama dengan River, dan mereka menjauh dari tempat itu.
"Vano, kau mau ke mana? Kenapa tidak memberitahuku?" tanya Via setelah mereka duduk di suatu tempat.
"Aku akan pergi ke London untuk bekerja di sana," jawab Vano dengan melihat lurus ke depan, dia tidak sanggup jika melihat wajah Via.
"Apa, apa kau akan menetap di sana?"
Vano menganggukkan kepalanya. "Ya. Aku mendirikan usaha di sana, jadi aku juga akan menetap di sana."
Via menundukkan kepalanya dengan tangan yang saling bertautan. Dadanya bergemuruh untuk mengungkapkan perasaannya pada Vano, di sisi lain dia takut jika perasaan Vano padanya sudah tak lagi sama.
"Tapi kenapa kau bisa ada di sini, Via?"
"Kenapa, apa aku tidak boleh melihat kepergianmu?" Via bertanya dengan lirih dengan air mata yang mulai menetes.
"Bukan seperti itu, aku hanya merasa kaget saja," ucap Vano sambil memberanikan diri untuk melirik ke arah Via.
Deg.
Vano sangat terkejut saat melihat Via sudah terisak di sampingnya. "Ada apa, Via? Kenapa kau menangis? Apa ada masalah?" Dia merasa panik dan khawatir.
Dengan cepat Via menganggukkan kepalanya. "Ya, Vano. Sekarang sedang ada masalah yang sangat besar dihatiku, hingga membuat dadaku terasa sesak."
Vano merasa tidak mengerti dengan apa yang Via ucapkan, sementara Via mendonggakkan kepalanya dan menatap ke arah Vano.
"Kau, kau akan pergi meninggalkanku dan Yara?"
Deg.
__ADS_1
"Kau, kau tidak akan menemui kami lagi?"
Vano terdiam saat mendengar pertanyaan yang Via ucapkan. Dia merasa benar-benar bingung dengan apa yang sedang terjadi, hingga membuat dadanya berdebar-debar. "Sebenarnya ada apa ini? Kenapa Via seolah-olah sedang menahanku untuk pergi?"
"Via, aku tidak mengerti dengan semua pertanyaanmu. Aku juga tidak paham sebenarnya apa yang terjadi, kenapa kau-"
"Aku mencintaimu, Vano. Aku, aku tidak ingin kau pergi."
Deg.
Tubuh Vano langsung kaku saat mendengar apa yang Via katakan. Matanya membulat sempurna dengan mulut terbuka karena merasa sangat terkejut.
Untuk beberapa saat suasana menjadi hening dan tidak ada yang bersuara di antara mereka, sampai akhirnya suara informasi tentang keberangkatan menyadarkan mereka berdua.
"Kau, kau tadi bilang apa, Via?" tanya Vano sekali lagi, dia benar-benar tidak percaya dan semuanya terlalu mengejutkan.
"Aku tidak tau apa yang akan kau pikirkan tentangku setelah ini, tapi aku merasa sedih saat mendengar kabar kepergianmu. Aku mohon jangan pergi Vano. Kalau kau ingin pergi, ma-maka bawalah aku juga."
"Hah?" Vano mengernyitkan kening bingung. "Kau, kau mencintaiku, Via?" Vano kembali lagi bertanya dan Via langsung menganggukkan kepalanya.
Vano mengusap wajahnya dengan kasar. Dia tidak peduli lagi dengan penerbangannya karena apa yang terjadi saat ini benar-benar membuat hatinya bahagia. Namun, tiba-tiba dia teringat tentang Mahen.
"Aku tidak tau harus bicara apa saat ini, Via. Jujur saja aku merasa senang dengan apa yang kau katakan, hanya saja hubungan di antara kita terlalu rumit. Kau juga sudah tahu kalau aku sangat mencintaimu, tapi aku tidak tega menyakiti hati kak Mehan. Dia masih sangat mencintaimu, bagaimana mungkin kita meneruskan cinta ini?"
"Apanya yang bagaimana mungkin?"
Vano dan Via terlonjak kaget saat mendengar suara seseorang, sontak mereka melihat ke arah samping di mana Mahen dan kedua orang tuanya sudah berada di sana dan mendengar semuanya.
•
•
•
__ADS_1
Tbc.