
Vano tercengang saat mendengar ucapan Mahen, dia benar-benar tidak menyangka kalau laki-laki itu akan berkata seperti itu padanya. "Tunggu, jangan-jangan suara tadi berasal dari wanita itu?" Dia melirik ke arah Mahen yang sedang menyandarkan tubuh ke sandaran sofa.
"Ah, lelah juga jika terus seperti ini. Aku ingin kembali seperti dulu." Mahen mendessah frustasi, dia lelah harus ke sana kemari antara rumah Clara dan rumah orangtuanya.
"Kenapa Kakak tidak ingin bercerai dengannya? Bukankah kau sudah mencintai wanita lain?"
Kedua mata Mahen yang sempat terpejam langsung terbuka dan melirik ke arah Vano. "Kenapa? Sepertinya kau sangat tertarik sekali ya." Dia menaik turunkan alisnya, untuk pertama kali Vano tertarik dengan hal pribadinya.
"Aku hanya bertanya," jawab Vano dengan datar. Sebenarnya dia juga tidak tau kenapa malah menanyakan tentang semua itu pada Mahen. "Lupakan saja, itu tidak penting!" Dia langsung berbalik dan hendak naik ke lantai 2.
"Via itu cinta pertamaku."
Kaki yang sudah melangkah kembali terdiam saat mendengar suara Mahen, Vano lalu membalikkan tubuhnya dan melihat ke arah laki-laki itu.
"Dia wanita yang manis dan penurut. Aku sangat gemas sekali jika melihat senyumannya itu." Mahen tertawa sambil membayangkan senyuman yang selalu Via berikan padanya. "Semua masalah pasti akan lenyap saat dia tersenyum."
"Kau membual, Kak! Semua omonganmu itu tidak benar." Vano menatap sinis ke arah Mahen. Bisa-bisanya laki-laki itu berkata demikian saat dia sendiri mencintai wanita lain.
"Aku tidak bohong! Hanya saja ... aku juga mencintai Clara." Dia mendongakkan kepala dan menatap langit-langit kamar. "Clara juga memperlakukanku dengan baik, dan yang pasti dia sangat memujaku dan memuaskanku. Memangnya apa yang salah dengan itu?"
Mahen merasa tidak ada yang salah jika dia mencintai 2 wanita, toh selama ini dia bisa adil dalam membagi waktu dan hatinya pada mereka.
"Tidak ada wanita yang mau berbagi cinta," ucap Vano, dan sesungguhnya dia juga sangat benci sekali dengan manusia seperti Mahen.
"Ah ya, kau benar. Tapi mereka juga tidak rugi apapun, kenapa mereka tidak mau?" Mahen tersenyum sinis. "Laki-laki berhak punya istri lebih dari satu, dan aku salah satunya. Jadi mereka harus menerima semua itu, lagipula selama ini Via juga tidak merasa kekurangan apapun dariku."
Vano menggeleng-gelengkan kepalanya. "Bagaimana jika itu terjadi pada istrimu? Apa yang akan kau lakukan?"
"Maksudmu?" Mahen tidak paham dengan apa yang Vano katakan.
__ADS_1
"Bagaimana jika istrimu punya laki-laki lain, apa kau akan menerimanya?"
Deg. Jantung Mahen berdegup kencang saat mendengar ucapan Vano. "Tidak, itu tidak akan terjadi. Via sangat mencintaiku, dan hanya aku satu-satunya laki-laki yang ada dalam hidupnya." Ya, dia yakin kalau Via tidak akan bisa hidup tanpanya.
Vano tersenyum tipis. "Ya, semoga saja." Dia lalu berbalik dan beranjak pergi dari tempat itu.
Untuk beberapa saat Mahen terdiam di tempat itu, otaknya sedang memikirkan apa yang Vano katakan tadi. "Cih, apa yang harus aku takutkan. Aku yakin kalau Via sangat mencintaiku, dia tidak akan pernah bisa melupakanku!"
****
Tepat pukul 8 pagi, Via keluar dari kamarnya dan langsung mencari keberadaan Yara.
"Mama!" Yara melambaikan tangan, rupanya dia sedang asyik berenang dengan Vano.
Via segera melangkahkan kakinya ke kolam renang yang ada di samping rumah untuk menemui dan mengajak Yara pulang. "Sayang, ayo kita pulang!" ajaknya sembari menyuruh Yara untuk keluar dari kolam.
"Yala masih mau belenang, Om Pano lagi ajalin." Yara menggelengkan kepalanya untuk menolak ajakan sang Mama.
Yara mengheningkam cipta sejenak untuk memikirkan ucapan Mamanya, kening gadis kecil itu mengerut sampai membuat kedua alisnya hampir menyatu.
Vano merasa gemas melihat wajah Yara yang terlihat sedang berpikir keras, dengan cepat dia mendorong flaminggo yang dinaiki gadis itu ke arah Via.
"Belajar berenangnya sudah siap, jadi sekarang Yara bisa pulang bersama Mama," ucap Vano, dia tau kalau saat ini Via sedang menahan diri agar tidak memaksa gadis kecil itu.
"Tapi tapi, apa besok Yala bisa belenang lagi?" Gadis kecil itu melihat Vano dengan mata berbinar-binar, bibirnya mengerucut tajam membuat Vano ingin sekali mengecupnya.
"Tentu saja."
Yara langsung bersorak senang dan mengecup pipi Vano, setelahnya dia melompat turun dari flaminggo dan menghampiri sang Mama.
__ADS_1
"Aku akan mengantar kalian." Vano keluar dari air sambil menyambar jubah handuknya.
"Tidak perlu, biar aku yang mengantar." Tiba-tiba Mahen datang ke tempat itu dengan muka bantal, tampak jelas kalau dia baru saja terbangun.
"Papa Papa, Yala abis belenang." Yara langsung semangat saat melihat papanya, dia yang sudah di depan mamanya beralih ke arah Mahen.
"Benarkah?" Mahen langsung menggendong tubuh Yara yang sedang mengangguk-anggukkan kepala. "Wah, anak papa saangat pintar." Cup, Mahen melabuhkam kecupan dipipi gembul sang putri dan beralih melihat ke arah Via. "Aku mandi dulu ya Sayang, setelah itu kita berangkat."
"Tidak perlu!" Via berjalan ke arah Mahen dan langsung mengambil Yara dalam gendongan laki-laki itu. "Ayo Sayang, tante Riani sudah menunggu!"
"Tunggu, Vi. Biar aku yang-"
"Lepaskan tanganku!" Via menghempaskan tangan Mahen yang memegang tangannya dengan kasar, matanya menyorot tajam ke arah laki-laki itu membuat suasana jadi tegang.
"Sayang, ada apa denganmu?" Mahen memandang Via dengan heran, dia ingin kembali memegang tangan wanita itu tetapi Via langsung mengelak.
"Jangan pernah mendekatiku lagi!" Via segera berbalik dan beranjak pergi dari tempat itu dengan menggandeng tangan Yara.
Untuk beberapa saat suasana menjadi hening, baik Mahen dan Vano sama-sama terkejut dengan apa yang baru saja terjadi.
Dari kejauhan, mama Camelia dan suaminya memperhatikan apa yang terjadi antara anak dan juga menantu mereka.
"Kau harus memeriksakan putramu ke rumah sakit jiwa, Suamiku!"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.