Mahligai Cinta Yang Terbagi

Mahligai Cinta Yang Terbagi
Bab. 62. Bisakah Kita Berteman?


__ADS_3

Setelah pembacaan putusan cerai, hakim juga mengatakan bahwa hak asuh Ayara Myesa jatuh kepada Via dikarenakan anak itu masih berada di bawah umur. Hakim lalu menutup persidangan hari ini, dan mengucapkan terima kasih pada semuanya.


Air mata langsung menetes dari kedua mata Via saat hakim menyatakan bahwa saat ini dia dan Mahen sudah resmi bercerai.


Bruk.


Tubuh Mahen langsung jatuh ke lantai saat mendengar semua putusan hakim, jantungnya berdegup kencang sampai air mata keluar dari sudut matanya.


Riani dan Ibu Novi langsung memeluk tubuh Via dengan erat, mereka ikut merasa sedih dan juga bahagia dengan apa yang terjadi saat ini.


"Ya Allah, terima kasih karna sudah melancarkan segalanya. Tapi kenapa rasanya sangat sakit sekali." Via menangis dalam pelukan sang Ibu, dadanya terasa sesak dengan status baru yang baru saja dia sandang.


Vano yang masih ada di tempat itu beralih mendekati sang kakak, dia menarik tubuh Mahen yang saat ini tidak bereaksi apa-apa.


"Ayo kita pulang, Kak!"


Mahen langsung mengangkat kepalanya saat mendengar suara Vano, dengan cepat dia mendorong tubuh laki-laki itu. "Menjauh dariku. Kau benar-benar brengs*ek, dan aku tidak akan pernah melupakan semua ini." Dia langsung berjalan gontai untuk keluar dari ruangan itu dengan diikuti oleh pengacara dan juga Clara.


Vano menghela napas kasar, rasa bersalah menyeruak di dalam hatinya. Namun, dia juga tidak bisa menutup mata dengan ketidak benaran yang terjadi.


Via yang sudah merasa tenang beralih melihat ke arah Vano yang sudah berjalan keluar dari ruangan itu. "Terima kasih, terima kasih banyak, Vano." Ingin sekali dia mengucapkan semua itu secara langsung, karena dia baru tau kalau laki-laki itulah yang telah membantunya.


Setelah semuanya selesai, Via mengucapkan banyak terima kasih pada Nanda. Dia tidak akan bisa sampai ditahap ini tanpa bantuan dari laki-laki itu.


"Sudah tugasku untuk melakukan semua ini, Via. Dan ya, memang tuan Vano lah yang telah memberikan semua bukti pada kita," ucap Nanda. Dia memutuskan untuk memberitahu Via agar wanita itu bisa mengucapkan terima kasih pada Vano.

__ADS_1


Setelah semuanya selesai, mereka memutuskan untuk kembali pulang. Namun, saat dalam perjalanan. Via melihat mobil Vano berhenti dipinggir jalan membuat dia memutuskan untuk berhenti juga.


"Ibu dan Riani duluan saja, ada sesuatu yang ingin aku katakan pada Vano."


Ibu Novi dan Riani mengangguk, mereka lalu pergi dari tempat itu meninggalkan Via yang sudah turun dari mobil.


Dia lalu berjalan ke arah danau yang ada di depannya, dan tampaklah Vano sedang duduk di punggir danau tersebut.


"Assalamu'alaikum."


Vano terlonjak kaget saat mendengar suara seseorang, sontak dia langsung melihat ke arah belakang. "Kau?"


Via tersenyum sambil duduk di samping Vano, tentunya dengan jarak yang memisahkan mereka. "Maaf jika aku mengganggumu, Vano. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih, walaupun aku merasa tidak pantas mengatakannya."


Vano terdiam untuk beberapa saat, dia lalu melihat ke arah depan di mana hamparan danau terbentang luas. "Ya, kau tidak perlu mengatakan terima kasih."


"Apa sekarang kau bahagia?" tanya Vano dengan tiba-tiba.


Via tersenyum. "Entahlah, aku tidak tau. Hanya saja aku merasa sesak, dan masih tidak menyangka kalau pernikahanku sudah benar-benar berakhir sekarang."


Vano melihat Via dengan tajam, dadanya kembali berdegup kencang saat melihat senyum yang tampak menyakitkan diwajah wanita itu.


"Apapun itu, aku yakin kalau semuanya sudah di takdirkan oleh Allah. Aku hanya bisa berharap baik aku dan Mas Mahen, kami bisa mendapatkan kebahagiaan masing-masing. Juga bisa melupakan semua rasa sakit yang pernah dirasakan," ucap Via selanjutnya. Dia hanya ingin hidup tenang dan bahagia bersama dengan anak dan juga Ibunya, walaupun tanpa sosok suami yang selama ini dia cintai.


"Apa kau tidak membencinya?"

__ADS_1


Via beralih melihat ke arah Vano. "Tentu saja aku membencinya, hanya saja rasa benci itu kini berubah menjadi kenangan. Semua yang telah aku dan Mas Mahen lalui, tidak bisa dikalahkan oleh rasa benci itu. Hingga aku memutuskan untuk menyimpan semua kenangan itu, baik yang buruk maupun yang indah."


Lagi-lagi Vano tersentuh dengan apa yang Via ucapkan, tangannya terkepal kuat untuk memahan gelanyar aneh yang mulai menjalar di dadanya.


"Baiklah. Kalau gitu aku permisi, Vano." Via beranjak bangun karena sudah terlalu lama berduaan dengan laki-laki itu. "Aku duluan ya, assalamu'alaikum." Dia mengulas senyum sambil berbalik dan hendak pergi dari sana.


"Bisakah kita menjadi teman?"


Langkah Via terhenti saat mendengar ucapan Vano, tetapi dia tidak membalikkan tubuhnya ke arah laki-laki itu.


"Terlepas dari apa yang terjadi, aku tetap ingin berhubungan baik denganmu dan juga Yara," ucap Vano dengan serius, bahkan saat ini dia lebih serius dari pada saat membangun sebuah perusahaan.


Via tersenyum sambil menoleh ke arah Vano. "Tentu saja, Vano. Aku akan menyambut siapa saja yang ingin berteman denganku, tapi aku tidak bisa memberikan lebih dari ikatan pertemanan."


Vano merasa tercubit dengan apa yang Via ucapkan, wanita itu seperti menegaskan kalau tidak ingin punya hubungan lebih dari sekedar teman. "Aku mengerti."


Setelah itu, Via kembali melanjutkan langkahnya untuk meninggalkan tempat itu. Tentu dengan terus di tatap tajam oleh kedua manik mata Vano.


"Hah. Semua ini benar-benar membuatku gila, kau sudah menggali lubang untuk kuburanmu sendiri, Vano."




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2