
"Ya ya ya ya, kami akan mengingatnya dengan baik dan benar. Jadi, lebih baik kau pergi sekarang!" ucap Riani dengan penuh penekanan, tentu saja membuat Mahen langsung beranjak pergi dengan kesal.
"Ternyata kau sangat pintar sekali mengusir orang ya, Riani," saru Nanda membuat Via terkekeh.
"Dia bukan cuma pintar mengusir, tapi juga membuat orang lain menjadi kesal,"
"Cih, itu sebuah kebanggaan untukku. Jadi, kalian juga jangan macam-macam sebelum aku mengusir kalian,"
"Hahahaha," tawa mereka lepas begitu saja membuat suasana yang semula tegang berubah jadi ceria. Terutama Via, dia langsung melupakan rasa sedihnya akibat persidangan yang terjadi beberapa saat yang lalu.
Setelah menikmati makan siang, mereka bertiga kembali ke tempat masing-masing. Namun, sebelum itu Nanda mengatakan akan segera mencari bukti-bukti yang akan mendukung perselingkuhan yang Mahen lakukan.
Tentu saja Via dan Riani juga akan membantunya, mereka pasti akan mencari bukti kuat yang tidak akan bisa disangkal lagi oleh pihak Mahen.
Pada saat yang sama, para wartawan sudah mendengar berita tentang perceraian yang terjadi antara Direktur Sky Group dengan istrinya. Berita itu tersebar dengan kecepatan cahaya yang membuat semua orang jadi gempar, terutama jajaran tinggi dalam perusahaan.
Papa Adrian sudah mengantisipasi semua ini, agar berita tentang perceraian Mahen tidak mempengaruhi perusahaan apalagi sampai menurunkan harga nilai saham mereka.
"Katakan pada semua dewan direksi dan juga para investor, tepat pukul 4 sore nanti kita mengadakan rapat penting," perintah papa Adrian pada sekretarisnya.
"Baik, Tuan. Apa saya harus mengatakannya pada Tuan Mahen dan Vano juga?"
"Tentu saja. Mahen adalah bintang untuk semua masalah ini, jadi dia harus datang ke rapat nanti. Tapi sebelum itu, panggilkan mereka ke sini. Ada sesuatu yang harus mereka lakukan."
Laki-laki paruh baya itu mengangguk. Dia lalu beranjak pergi dari tempat itu untuk melaksanakan perintah dari sang Tuan.
__ADS_1
"Hah, semoga perceraian ini tidak memberi dampak apa-apa untuk perusahaan. Tapi, kalau sampai alasan perceraian itu terungkap oleh publik. Maka habislah saham perusahaan." Papa Adrian memijat pelipisnya yang berdenyut.
Sebenarnya inilah yang sejak waktu itu dia takutkan, itu sebabnya dia menolak perceraian Mahen dan juga Via. Namun, harga dirinya terluka saat mendengar ucapan wanita itu. Hingga mengabulkan permintaan Via untuk bercerai dari putranya.
"Papa, ini aku!"
Lamunan papa Adrian terhenti saat mendengar suara Vano, dia segera menyuruh putranya untuk masuk ke dalam ruangan.
Vano membuka ruangan sang papa dan bergegas masuk ke dalam sana. "Papa memanggilku?"
Papa Adrian mengangguk. "Duduklah, ada yang ingin papa katakan padamu."
Vano segera duduk di hadapan sang papa yang sedang memijat kepala, dia tau kalau saat ini ada hal penting yang ingin papanya itu katakan.
"Apa kakakmu belum pulang dari pengadilan?"
"Baiklah, sebenarnya ada hal penting yang akan papa katakan padamu. Papa harap kau mau mengatakan hal ini juga pada kakak iparmu, ah tepatnya pada Via."
Vano mengernyitkan keningnya. "Kenapa aku yang harus mengatakannya pada kakak ipar?" Dia merasa bingung, dan entah kenapa semua ini selalu membuatnya terus berhubungan dengan wanita itu.
"Sebenarnya papa ingin langsung mengatakannya pada Via, hanya saja saat ini tidak ada waktu untuk melakukan itu. Kau tau Vano, saat ini berita tentang perceraian kakakmu sudah menyebar luas. Bahkan para wartawan sudah berdatangan ke halaman perusahaan, sampai-sampai kita harus menambah jumlah petugas keamanan." Papa Adrian menghela napas berat. "Untuk saat ini papa harus mengadakan rapat dengan seluruh dewan direksi, juga para investor. Papa yakin mereka sudah tau mengenai hal ini."
"Lalu di mana salahnya? Apa perceraian kakak itu sesuatu yang belum pernah terjadi di dunia ini?" Vano tertawa melihat kelucuan yang terjadi. "Bahkan presiden saja pernah bercerai, lalu apa masalahnya dengan perceraian mereka?"
"Bukan masalah perceraiannya, Vano. Semua orang pasti ingin mengetahui alasan dibalik perceraian itu!" ucap papa Adrian dengan tajam, "dan kalau sampai semua orang tau perselingkuhan Mahen, habislah kita," tambahnya kemudian.
__ADS_1
Vano terdiam mendengar ucapan sang papa. Ya, dia tau apa yang saat ini sedang dikhawatirkan oleh papanya itu. Berita perselingkuhan memang bukan hal tabu yang tidak pernah terjadi, bahkan dikalangan pengusaha itu sudah seperti makanan sehari-hari.
Berita itu akan viral dan menempati posisi teratas, bahkan para artis top saja akan kalah dengan berita perselingkuhan tersebut. Para awak media akan berebut untuk mengundang siapa-siapa saja yang terlibat di dalamnya, baik peselingkuh, yang diselingkuhi maupun selingkuhannya.
Masyarakat tidak akan puas jika belum benar-benar mengetahui semuanya, mereka akan terus mencari sampai ke akar-akarnya guna untuk memuskan rasa penasaran mereka.
Mungkin bagi artis, berita viral seperti itu akan membuat mereka naik daun dan diundang dalam acara apapun. Namun, tidak bagi seorang pemimpin perusahaan.
Sebuah perusahaan akan goyah jika kasus perselingkuhan sampai diketahui oleh publik. Apalagi jika banyak pihak-pihak penting yang tidak terima, sudah pasti perusahaan itu akan jatuh.
Harga sahamnya akan merosot secara drastis, juga para kolega bisnis akan sulit untuk melajutkan kerja sama. Kesenjangan sosial juga pasti akan terjadi dalam perusahaan, khususnya bagi para jajaran tinggi.
Namun, lain hal bagi seorang pemimpin yang belum menikah. Dia tidak akan terkena masalah walaupun tiap hari bergonta-ganti pasangan, karena tidak ada ikatan yang mengikatnya.
Itu sebabnya para pemimpin yang sudah menikah harus ekstra hati-hati jika mempunyai simpanan atau selingkuhan, karena jika publik mengetahuinya. Maka perusahaan yang akan terkena imbasnya, tak hayal banyak istri-istri pengusaha yang terpaksa tutup mulut dengan kebejatan suami mereka, agar kesejahteraan semua orang tetap terjaga.
"Jadi, apa yang ingin papa katakan padaku?" tanya Vano.
"Papa ingin kau menjaga semua rahasia ini, dan pastikan kalau Via juga tidak akan mengatakan tentang perselingkuhan yang Mahen lakukan."
•
•
•
__ADS_1
Tbc.