Mahligai Cinta Yang Terbagi

Mahligai Cinta Yang Terbagi
Bab. 116. Bonus Chapter (Aku Bukan Ahlinya).


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu sejak pelecehan yang Riani alami, saat ini dia sedang berada di kantor polisi bersama dengan papanya.


Awalnya Riani tidak berniat untuk melaporkan apa yang Noah lakukan, dia tidak ingin melibatkan polisi dan melupakan apa yang terjadi.


Namun, siapa sangka jika laki-laki gila itu malah datang ke rumahnya dan membual bahwa mereka sudah melakukan hal diluar batas.


Siapa pun orang tua pasti akan murka saat mengetahuinya, begitu juga dengan orang tua Riani yang langsung menyuruhnya untuk menikah dengan Noah.


Akan tetapi, Riani bukan wanita bod*oh yang bisa terjebak dalam permainan Noah. Dia lalu menceritakan pelecehan yang laki-laki itu lakukan padanya, dia bahkan menunjukkan tengkuk dan tangannya yang lebam akibat cengkraman tangan laki-laki itu.


Keributan kembali terjadi, sampai akhirnya keluarga Riani memutuskan untuk melaporkan Noah ke kantor polisi.


"Apa Nona punya bukti jika tuan Noah melakukan pelecehan pada Anda?"


Riani mengangguk lalu menunjukkan tangan dan juga tengkuknya, lalu menceritakan bagaimana kejadian itu terjadi.


"Maaf, Nona. Semua itu tidak bisa menjadi bukti tentang pernyataan yang Anda katakan. Harus ada sidik jari yang tertinggal di tubuh Anda baru bisa dijadikan sebagai bukti."


Riani terdiam saat mendengar ucapan polisi itu. Bagaimana mungkin masih ada sidik jari yang tertinggal setelah beberapa hari?


"Lebih baik Anda pikirkan terlebih dulu, Nona. Jika tuduhan Anda tidak benar, maka Anda bisa dituntut balik oleh tuan Noah."


"Tidak. Apa yang aku katakan itu benar, untuk apa aku melakukan tuduhan palsu?" bantah Riani. Memang apa untungnya jika dia membuat laporan palsu tentang Noah?


Pihak kepolisan tetap tidak bisa menerima laporan dari Riani sebelum ada bukti dari apa yang dilaporkan, membuat dia dan sang papa kembali pulang.


Sepanjang perjalanan, Riani terus memikirkan apa yang harus di lakukan untuk membuktikan jika Noah bersalah. Hingga tiba-tiba dia teringat dengan keberadaan seseorang.


"Benar. Dia adalah saksi dari kejadian malam itu, aku harus meminta bantuannya."


Riani baru ingat tentang keberadaan Mahen. Laki-laki itu bisa menjadi saksi untuk apa yang sudah terjadi padanya.


"Tapi, bagaimana aku menghubunginya?"

__ADS_1


Tidak mungkin Riani meminta nomor ponsel Mahen dari Via. Walau pun mereka sudah tidak menjadi suami istri, pasti rasanya canggung sekali.


Setelah memikirkan semuanya, akhirnya Riani memutuskan untuk menemui Mahen secara langsung.


Pada saat yang sama, terlihat Via dan Vano sedang membereskan barang-barang. Lusa mereka akan pindah ke London, sekaligus menikmati bulan madu.


"Kalian bisa tinggal lebih lama lagi di sini, Vano."


Mama Camelia terus membujuk Vano agar tinggal bersamanya lebih lama lagi, tetapi pekerjaan laki-laki itu sudah tidak bisa ditunda.


"Kami akan sering mengunjungi Mama, atau Mama yang melihat ke sana."


Mama Camelia mencebikkan bibirnya, dia harus menyerah karena tidak bisa lagi menahan mereka.


Mahen yang ada di tempat itu juga asyik bermain dengan Yara. Dia ingin menghabiskan banyak waktu bersama putrinya sebelum pergi. Namun, tiba-tiba ponselnya berdering membuat dia langsung mengangkat panggilan dari perusahaan.


Setelah menerima telepon, Mahen bergegas pergi ke perusahaan saat sekretaris barunya memberitahu jika ada seorang wanita yang ingin bertemu.


"Untuk apa Riani menemuiku?" Mahen merasa bingung. "Apa ada kaitannya dengan kejadian malam itu?" Dia semakin menekan pedal gasnya dan melaju dengan kencang.


"Kau ingin bertemu denganku?"


Riani menganggukkan kepalanya. "Apa Mas sibuk? Maaf karena aku mengganggu."


Mahen menggelengkan kepalanya lalu mengajak Riani masuk ke dalam ruangan. Setelah itu mereka duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut.


Riani langsung mengatakan tujuannya datang menemui Mahen, tidak lupa tentang laporan yang dia buat di kantor polisi.


"Apa yang polisi katakan itu benar. Jika tidak ada bukti, maka dia bisa balik menuntutmu," ucap Mahen setelah selesai mendengar cerita Riani.


"Tapi kau kan bisa jadi saksiku, Mas. Apa itu tidak bisa juga?"


Mahen menggelengkan kepalanya. "Kesaksianku masih terlalu lemah, bisa saja mereka berpikir jika kita bekerja sama."

__ADS_1


Benar juga. Riani sama sekali tidak berpikir tentang semua itu. Lalu, apa yang harus dia lakukan sekarang?


"Aku tidak bisa banyak membantumu, Riani. Karena hal seperti ini bukan keahlianku." Mahen merasa menyesal. "Tapi ada satu orang yang bisa membantumu, dia sangat ahli dalam hal seperti ini."


"Benarkah? Apa aku bisa menemuinya sekarang?" tanya Riani dengan semangat.


"Tentu saja. Tapi kita harus memberitahu Vano dulu, jika tidak maka River tidak akan mau membantu."


Riani terkesiap saat mengetahui siapa orang yang dimaksud oleh Mahen. Jika Vano sampai mengetahuinya, sudah pasti Via juga akan tahu.


"Apa tidak ada jalan lain?" tanya Riani kembali.


"Tidak, cuma River yang ahli dalam hal seperti ini. Dia pasti bisa menemukan bukti walau di dalam lubang semut sekali pun."


Riani menghela napas frustasi, mau tidak mau sepertinya dia harus menceritakan semua itu pada Via.


Setelah selesai, Riani bergegas pamit dan mengucapkan terima kasih pada Mahen. Setelah itu dia menelepon Via untuk meminta bertemu.


Akhirnya mereka berdua bertemu di kafe yang biasa mereka datangi. Setelah bertanya kabar dan basa-basi yang lainnya, Riani langsung saja menceritakan tentang hubungannya dan Noah. Tidak lupa pelecehan yang laki-laki itu lakukan.


Via sangat syok saat mendengar cerita Riani, sontak dia mengamuk dan menatap wanita itu dengan nanar.


"Apa gunanya aku sebagai sahabat jika kau tidak mau berbagi dukamu padaku, Rin? Apa kau hanya akan berbagi suka aja, dan tidak mau berbagi yang lain denganku?"


Riani menggelengkan kepala. "Bukan seperti itu, Vi. Aku hanya tidak ingin merusak kebahagiaanmu, lagi pula aku sudah tidak apa-apa."


"Kau juga salah satu alasan kebahagiaanku, Rin. Selama ini kau sudah menemaniku melewati suka dan duka, kau bahkan selalu mendukung dan membantuku. Kenapa kau tidak mengizinkanku untuk melakukan hal yang sama denganmu? aku juga ingin menemanimu dalam setiap hal."




__ADS_1


Tbc.


Mampir juga ke karya baru aku ya 🥰


__ADS_2