Mahligai Cinta Yang Terbagi

Mahligai Cinta Yang Terbagi
Bab. 9. Kelakuan Buruk Sang Ayah.


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang, Via terus diam dengan melihat ke arah samping. Rasanya sudah tidak ada lagi semangat dalam dirinya, bahkan untuk bernapas saja rasanya sangat susah.


"Vi, kau baik-baik saja?" Riani mencoba untuk mengajak Via bicara, walaupun dia tidak tau harus mengatakan apa.


"Aku tidak sedang baik-baik saja, Rin! Hatiku benar-benar sakit, dan aku bertanya-tanya kenapa Mas Mahen melakukan semua ini padaku!"


Riani langsung menggenggam tangan Via yang sudah kembali menangis, dia tau betul bagaimana hancurnya perasaan wanita itu saat ini.


"Vi, apapun yang terjadi denganmu. Aku akan selalu ada di sini, aku akan selalu berdiri di sampingmu!"


Via mendongakkan kepalanya dan melihat ke arah Riani, dia lalu tersenyum tipis sembari mengangguk-anggukkan kepalanya.


"aku tau, Rin! Aku bersyukur punya sahabat sepertimu, dan aku selalu berdo'a pada Allah agar kebahagiaan selalu menyertaimu!"


"Aamiin, Allah pasti akan mengabulkan do'a dari wanita sholeha sepertimu, Vi! Dan tentu saja Dia juga akan memberi kebahagiaan untuk setiap hambanya yang taat!"


Via kembali menganggukkan kepalanya, dia lalu menyandarkan tubuhnya dengan kedua mata terpejam.


"Ya Allah, Engkau yang maha mengetahui segalanya. Engkau yang telah menggariskan takdir untuk hamba yang hina, dan semua cobaan yang datang sudah menjadi garis takdirku. Tapi aku mohon, ya Allah! Tolong berikan kekuatan padaku, berikan setitik cahaya dalam setiap gelapku. Dan berikan jalan keluar disetiap masalahku, aku tidak berdaya tanpa bantuanMu, ya Allah!"


Air mata menjadi saksi bisu bagaimana hancurnya hati seorang istri yang sudah dikhianati, jiwa raga dia berikan untuk suami tercinta. Namun, nasibnya sungguh malang. Cintanya berbalas dusta, dan kesetiaanya berakhir luka.


Beberapa saat kemudian, mobil mereka sudah sampai di depan toko Riani. Via memutuskan untuk langsung pulang setelah mengantar sahabatnya itu, dan dia singgah ke rumah kedua orangtuanya untuk menjemput sang putri.


"Mama!"


Yara langsung berlari saat melihat Mamanya keluar dari mobil, dan Via langsung memeluk tubuh putrinya itu dengan erat.


"Mama merindukan Yara!"


Gadis kecil itu membulatkan pipinya yang memang sudah bulat seolah-olah sedang berpikir. "Mama, yala juga lindu Mama!"


Pelukan Via semakin menguat dengan air mata yang berjatuhan, dia kembali mengingat apa yang telah suaminya lakukan. Hati kian terasa perih saat memikirkan nasib Yara, putri kecilnya yang sangat dia cintai.

__ADS_1


"Mama, yala gak bisa napas!"


Via tersentak kaget dan langsung melepaskan pelukannya. "Ma-maafkan Mama, Sayang! Mama enggak sengaja." Dia langsung panik dan memeriksa apakah putrinya terluka atau tidak.


Yara mengedipkan matanya beberapa kali saat melihat apa yang Mamanya lakukan, keningnya mengerut saat melihat air mata yang membekas di wajah sang Mama.


Via yang sedang sibuk memeriksa tubuh putrinya mendadak langsung diam saat tangan kecil Yara mengusap wajahnya, matanya kembali berkaca-kaca melihat mata bulat nan jernih milik sang putri.


"Mama, yala gak papa. Kenapa Mama nangis?"


Via langsung menggenggam tangan Yara dan mengecupnya, sekuat tenaga dia menahan air mata yang sudah ingin kembali keluar. "Mama menangis karna sangat merindukan Yara!"


Gadis kecil itu tersenyum lebar, lesung pipinya tampak menyembul keluar karna senyuman yang dia lakukan.


"Via, kenapa di luar saja?"


Tiba-tiba seorang wanita paruh baya mendekati mereka membuat Via langsung berdiri. "Dari tadi Ibu tungguin kok gak masuk-masuk!"


"loh, Ibu kira kau pulangnya nunggu dijemput sama Mahen!" seru Ibu Novi, tentu ucapannya membuat Via kembali pilu.


"Mas Mahen sedang ada kerjaan penting, Bu! Aku tidak mau membuatnya repot!"


Ibu Novi mengangguk-anggukkan kepalanya. "Ya sudah kalau gitu, tapi, apa yang terjadi denganmu, Nak? Kenapa matamu sembab kayak gitu?" Dia baru sadar kalau wajah putrinya seperti habis menangis.


"Oh ini, i-ini ini tadi habis liat film sedih, Bu!" Via terpaksa berbohong pada sang Ibu untuk menutupi semuanya, tidak mungkin dia menceritakan tentang perselingkuhan suaminya dengan wanita lain.


"Kau enggak bohong kan, Nak?" Ibu Novi memicingkan matanya karna tidak percaya.


"Enggak kok Bu, untuk apa Via bohong sama Ibu!"


Wanita paruh baya itu menghela napas berat. "Kalau ada sesuatu, kau harus cerita sama Ibu!"


Via menganggukkan kepalanya. "Itu udah pasti Bu!" Dia memberikan dua jempol pada sang Ibu.

__ADS_1


"Vi, kamu mau pulang?" Tiba-tiba Ayah Chandra keluar dari rumah dan berjalan mendekati mereka.


"Iya Yah, nanti kemalaman!" Via langsung menyalim tangan sang Ayah sekalian pamit pulang.


"Oh, kalau gitu Ayah minta uang!"


Ibu Novi langsung mengalihkan pandangannya ke arah sang suami. "Uang? Bukannya seminggu yang lalu Ayah baru minta uang sama Mahen?"


Kali ini Via yang terkejut mendengar ucapan Ibunya. "Ayah minta uang sama Mas Mahen? Untuk apa?" Suaminya tidak pernah menceritakan hal ini padanya.


"Ayah, Ayah ada urusan bisnis sama teman Ayah!" Ayah Chandra memalingkan wajahnya.


"Bukannya tiap bulan Ayah udah dikasi uang sama Mas Mahen, kenapa Ayah minta lagi?" Via benar-benar merasa kesal, dia bukannya tidak suka karna orangtuanya meminta uang. Hanya saja dia merasa tidak enak hati dengan keluarga suaminya, jika mereka tau semua ini.


"kan udah Ayah bilang untuk bisnis, mana cukup uang yang Mahen kasih waktu itu!" ucapnya dengan tajam. "Udah cepat, Ayah masih butuh uang in!"


Via menghembuskan napasnya dengan kasar, dia lalu membuka dompetnya dan mengambil tiga lembar uang seratusan. "Aku cuma bisa kasi segini, Yah! Aku harap Ayah tidak minta uang lagi sama Mas Mahen!" dia memberikan uang itu pada sang Ayah.


"Hem!" Ayah Chandra hanya berdehem saja dan langsung berbalik pergi dari tempat itu.


Ibu Novi merasa sedih, sejak dulu suaminya tidak pernah berubah dan hanya sibuk menghabiskan uang menantunya saja.


"Bu, lain kali kalau Ayah minta uang sama Mas Mahen, tolong beritahu aku!"


Ibu Novi menganggukkan kepalanya, lalu Via segera pamit untuk pulang ke rumahnya bersama dengan sang putri.





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2