Mahligai Cinta Yang Terbagi

Mahligai Cinta Yang Terbagi
Bab. 72. Perasaan yang Tidak Menentu.


__ADS_3

Via hanya bisa menatap Vano tanpa berkata apa-apa. Jangankan untuk mengeluarkan suaranya, untuk berpikir saja rasanya dia tidak bisa.


Semua pengakuan laki-laki itu benar-benar mengguncang jiwa dan raga Via, sampai dia tidak bisa memberikan reaksi apa-apa untuk ungkapan Vano.


Namun, tanpa sadar air mata mengalir dari kedua mata Via membuat Vano langsung menyodorkan sebuah tangan pada wanita itu membuat Via langsung terkesiap.


"Maaf kalau membuatmu bersedih, aku tidak tau kalau cintaku ternyata menyakitimu."


Via yang baru sadar kalau air matanya mengalir keluar bergegas untuk mengusap wajahnya, menghilangkan jejak air mata yang keluar tanpa izin.


"Ti-tidak. Ke-kenapa kau minta maaf? Kau kan cu-cuma menjawab pertanyaanku saja." Bibir Via sampai bergetar untuk mengucapkan kata-kata pada Vano, sementara laki-laki itu menatapnya dengan senyum lebar membuat mata Via membulat sempurna.


Untuk pertama kalianya, Via melihat senyum yang begitu tulus diwajah Vano. Laki-laki yang selalu menatap orang lain dengan sinis, ternyata bisa menunjukkan raut wajah yang sangat manis dan juga memukau seperti itu.


Deg


Deg


Deg


Deg


Jantung Via semakin berdegup kencang dengan wajah merah padam. Dia lalu menundukkan pandangannya karena tidak tahan melihat senyuman itu. "Ya Allah, astaghfirullahal'adzim." Dia terus beristighfar untuk menenangkan jantungnya yang seakan ingin meledak.


Vano sendiri merasa sangat lega sekarang, seperti beban berat yang selama ini bersarang dihatinya sudah lenyap begitu saja. "Astaga. Ternyata begini rasanya saat mengungkapkan perasaan pada wanita yang di cintai?" Dia terkekeh pelan dengan apa yang terjadi saat ini.


Awalnya dia merasa bersalah karena tiba-tiba menyatakan cinta pada Via, apalagi saat ini wanita itu masih dalam suasana duka. Namun, ternyata keputusannya itu tidak buruk. Hatinya benar-benar merasa lega, walaupun dia tidak tau bagaimana perasaan Via padanya.


"Kalau gitu, aku pulang dulu. Mungkin besok aku akan ke sini lagi." Vano beranjak bangun membuat Via langsung mendongakkan kepalanya.

__ADS_1


"A-apa tidak makan dulu?" tanya Via dengan gugup. Biasanya dia akan mengajak Vano dan yang lainnya makan terlebih dulu, sebelum laki-laki itu pulang.


Vano kembali tersenyum membuat Via langsung mengalihkan pandangan. "Aku rasa kondisimu saat ini tidak bisa untuk menemaniku makan. Aku akan makan bersama River." Dia sadar kalau Via pasti tidak nyaman dengan apa yang baru saja terjadi di antara mereka.


Via hanya bisa diam tanpa menanggapi ucapan Vano, karena apa yang laki-laki itu ucapkan adalah benar. "Maaf, Vano. Aku masih belum bisa mengendalikan diri setelah apa yang kau katakan tadi." Entah kenapa dia jadi merasa bersalah.


"Jngan terlalu memikirkan apa yang aku ucapkan tadi. Aku sudah sangat senang karena kau mau mendengar isi hatiku, dan aku tidak menuntut apapun darimu."


Via mengepalkan kedua tangannya untuk menahan sesuatu yang tiba-tiba membuat dadanya sesak. Dia lalu mulai mengangkat pandangannya dan melihat ke arah Vano.


"Berbahagialah, dan pikirkan tentang dirimu sendiri. Kau berhak untuk semua itu, dan jangan pikirkan tentang orang lain." Vano langsung berbalik dan keluar dari rumah itu meninggalkan Via yang terus melihat ke arahnya.


"Hah. Aku sudah melakukan hal yang tepat," gumam Vano kemudian. Dia lalu berjalan ke arah mobil di mana River sudah menunggu kedatangannya.


"Kita mau ke mana, Tuan?" tanya River yang sudah berada di dalam mobil bersama dengan Vano.


River menganggukkan kepalanya, lalu mulai melajukan mobil itu untuk kembali pulang ke rumah orang tua Vano.


Bruk.


Tubuh Via langsung terjatuh ke atas sofa saat Vano sudah keluar dari rumah itu. Tangannya terulur untuk memegangi dada yang masih berdegup kencang, serta air mata yang lagi-lagi keluar tanpa izin.


"Ya Allah, sebenarnya apa ini? Kenapa semua ini terjadi pada kami, kenapa Engkau memberikan perasaan seperti ini dalam hubungan pertemanan ini?" Via mulai terisak. Entah kenapa hatinya terasa sangat sakit, padahal Vano hanya mengungkapkan cinta saja dan bukan menyakiti perasaannya.


Ibu Novi yang baru masuk ke dalam rumah terlonjak kaget saat melihat Via menangis tersedu-sedu. "Ya Allah, Nak. Ada apa?" Dia segera menghampiri Via yang langsung memeluk tubuhnya dengan kuat. Dia bahkan bisa merasakan kalau tubuh putrinya itu bergetar hebat.


"Ibu, hiks. Huhuhu." Via hanya bisa menangis tanpa sanggup mengatakan apa yang terjadi, membuat Ibu Novi memeluk tubuhnya dengan erat dan mencoba untuk menenangkan.


Pada saat yang sama, Mahen dan Clara sudah berada di rumah sakit untuk memeriksakan kondisi janin mereka. Terlihat Dokter sedang melakukan pemeriksaan saat ini.

__ADS_1


"Bagaimana, Dok? Apa putraku baik-baik saja?" tanya Mahen. Ya, saat ini Clara sedang mengandung janin berjenis kelamin laki-laki.


"Putra Anda baik-baik saja, Tuan. Dia sangat sehat, dan juga kuat."


Mahen menghela napas lega saat mendengar jawaban Dokter itu. Kemudian dia segera pergi untuk menebus vitamin yang disarankan oleh Dokter tersebut.


Clara yang sedang menunggu Mahen di salah satu ruangan, tiba-tiba tersentak kaget saat melihat seorang lelaki masuk ke dalam ruangannya.


"Kau?" Matanya melotot saat melihat Indra ada di dalam ruangannya.


"Bagaimana, apa anak kita baik-baik saja?" tanya Indra dengan senyum lebar diwajahnya.


"Tutup mulutmu itu, Indra. Dia adalah anakku dan Mahen, bukan anakmu!" bentak Clara sambil memeluk perutnya yang sudah membuncit.


"Wah, kenapa kau sejahat itu, Clara? Padahal aku sudah menitipkan benihku padamu."


"Indra!"





Tbc.


Mampir juga ke karya teman aku di bawah ini 😍


__ADS_1


__ADS_2