
Pada saat yang sama, tampak Via sedang melamun di depan jendela ruang perawatannya. Saat ini dia sedang sendirian, karena Riani membawa Yara untuk pulang ke rumah agar bisa beristirahat.
"50 juta? Sebenarnya apa yang Ayah lakukan sampai berhutang sebanyak itu?" Via memijat pelipisnya yang terasa berdenyut. "Apa aku harus menanyakannya pada Ibu?" Tidak, dia tidak boleh menelpon ibunya atau perbuatan ayahnya akan diketahui oleh sang ibu.
"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan sekarang?" Via kembali menangis, sungguh dia tidak tau harus melakukan apa saat ini.
Dia tidak bisa memberitahu Riani tentang semua itu, karena sudah pasti wanita itu akan kembali menolongnya. Baginya mungkin uang 50 juta itu sangat besar, tetapi bagi Riani itu mudah saja untuk diberikan padanya.
"Tidak, aku tidak ingin lagi merepotkan Riani. Selama ini dia sudah sangat membantuku, dia bahkan memberiku tempat tinggal. Aku tidak bisa terus memanfaatkan hatinya yang sangat baik padaku." Via kembali menghela napas frustasi. Tetapi tiba-tiba dia teringat akan sesuatu.
Ya, kenapa dia tidak menjual semua sahamnya saja. Dengan begitu ayahnya tidak akan menentang keputusannya lagi. "Tapi, itu tabungan untuk Yara. Bagaimana masa depannya nanti kalau aku menjual saham itu?"
Kebingungan kembali menghantam Via. Memang dia punya tabungan senilai 15 juta selain saham itu, yang dia kumpulkan sedikit demi sedikit untuk membeli saham. Namun, dia tidak bisa menghabiskannya begitu saja. Apalagi sebentar lagi dia akan bercerai, sudah pasti dia harus mencari uang sendiri untuk menghidupi diri sendiri dan juga gadis kecilnya.
Sementara itu, di tempat lain terlihat Nanda sedang berhadapan dengan Ayahnya. Dia ingin meminta bantuan laki-laki paruh baya itu untuk menembus koneksi pengadilan, agar perceraian Via bisa selesai dalam bulan ini.
"Ayah sangat terkejut dengan permintaanmu ini, Nanda. Bukannya selama ini kau paling anti menggunakan koneksi?" Laki-laki paruh baya itu menatap heran ke arah nanda.
"Sekarang berbeda, Yah. Perceraian klienku harus segera selesai dalam bulan ini, sebelum dia semakin menderita." Nanda langsung saja menceritakan apa yang baru saja Via alami.
"Dasar orang tua tidak punya pikiran! Cepat masukkan dia ke penjara, ayah sendiri yang akan menuntut hukuman berat pada Jaksa." Laki-laki paruh baya itu murka, dia paling tidak suka saat ada orang tua yang tega menganiaya anak mereka sendiri.
"Via melarangku, Yah. Aku baru menelponnya tadi, dia tidak ingin masalah semakin besar," ucap Nanda. Dia memang sempat menghubungi Via saat wanita itu baru saja sadar, dan dia menanyakan soal pelaporan ayah Chandra ke kantor polisi.
"Begitulah terkadang anak atau juga orang tua. Mereka tidak ingin melaporkan kekerasan yang dialami karena takut membuat masalah jadi lebih besar, apalagi masih terikat hubungan darah. Tapi yakinlah, kekerasan itu tidak akan berhenti sampai disitu saja. Hari ini kepala Via yang terluka, maka besok-besok bukan hanya kepala. Tapi seluruh tubuh bahkan nyawanya juga akan menghilang."
__ADS_1
Nanda terdiam dengan apa yang ayahnya katakan, karena semua itu benar adanya. Tidak jarang kasus yang melibatkan kekerasan dalam rumah tangga, bahkan sampai menyebabkan hilangnya nyawa seseorang. Namun, dia tidak bisa melakukan apa-apa jika korban tidak mau melaporkannya.
"Memangnya siapa suami Via itu? Kenapa kau sampai melibatkan ayah?" Dia merasa penasaran. Selama ini Nanda tidak pernah meminta bantuan darinya, bahkan untuk klien penting sekalipun.
"Ayah mengenalnya."
Laki-laki paruh baya bernama Neval itu mengernyitkan kening. "Apa suaminya salah satu pejabat di sini? Atau salah satu kolega bisnis ayah?"
"Em ... dia anak dari salah satu pemimpin perusahaan."
Ayah Neval mengangguk-anggukkan kepalanya. "Bukannya itu mudah saja untukmu? Toh kau juga pernah jadi pengacara istri mantan presiden, kan?"
"Itu benar, Yah. Tapi masalahnya suami Via tidak mau menceraikannya, dan sekarang laki-laki itu menuntut hak asuh anak juga harta yang telah diberikan pada Via dan keluarganya,"
"Dasar laki-laki serakah, dia memberikan harta dengan cuma-cuma tapi sekarang malah memintanya kembali. Apa dia itu tidak malu?" Ayah Neval emosi sendiri, bisa-bisanya ada laki-laki pecundang seperti itu. "Sekarang katakan siapa dia! Dan kasus apa yang menyebabkan istrinya menggugat cerai."
"Namanya Mahendra Arkana."
Ayah Neval sangat terkejut dengan nama yang Nanda ucapkan, jelas dia sangat kenal dengan pemilik nama tersebut. "Jadi, kau sedang menggugat Tuan Mahen?"
Nanda mengangguk. "Iya, Ayah. Dia menolak untuk menceraikan istrinya, dan menuntut di sana sini."
Ayah Neval terdiam, dia masih sangat terkejut kalau suami dari klien anaknya adalah Direktur di perusahaan Sky Grup. Di mana dia sendiri menjadi pemegang saham di perusahaan itu, dia juga sering turun langsung untuk melihat proyek apabila pekerjaannya di rumah sakit tidak banyak.
"Baiklah, ayah akan melakukan apa yang kau inginkan. Ayah tau seperti apa watak Tuan Mahen, dia pasti akan melakukan segala macam cara untuk menjatuhkan istrinya."
__ADS_1
Nanda sangat senang saat mendengar ucapan sang ayah. "Aku tau, Yah. Itu sebabnya aku meminta bantuan pada Ayah."
Setelah ayah Neval bersedia untuk membantu, Nanda langsung menghubungi teman-temannya yang ada di pengadilan. Tentu saja dia juga akan memanfaatkan koneksinya, agar semua berjalan dengan lancar.
*
*
*
Keesokan harinya, Via sudah diperbolehkan untuk pulang karena luka dipelipisnya tidak parah. Dengan dijemput oleh Riani, mereka langsung saja berangat ke pengadilan karena hari ini sidang pertama akan digelar.
"Kau tidak apa-apa kan, Vi?" Riani menggenggam tangan Via yang ada di sampingnya.
Via tersenyum sambil menganggukkan kepala. "Aku baik-baik saja, Rin."
Riani bernapas lega, walaupun dia bisa melihat ada kesedihan yang mendalam di balik kedua mata Via.
"Bismillah, lancarkan persidangan hari ini, ya Allah."
•
•
•
__ADS_1
Tbc.