Mahligai Cinta Yang Terbagi

Mahligai Cinta Yang Terbagi
Bab. 98. Keterkejutan Clara.


__ADS_3

Clara tercengang di tempatnya saat mendengar ucapan Mahen. Dia masih terlalu terkejut dengan apa yang laki-laki itu lakukan tadi, dan sekarang malah harus mendengar ucapan seperti itu.


"Kau ingat ini baik-baik, wanita si*alan! Jangan muncul lagi di hadapanku, atau aku akan membunuhmu!" ucap Mahen penuh penekanan membuat Clara tersentak.


Dengan cepat Clara turun dari ranjang dengan menahan rasa sakit di sekitar perut dan juga pinggangnya. "A-ada apa ini sebenarnya, Mahen. Aku, aku tidak-"


"Diam kau!" Mahen menunjuk tepat ke wajah Clara membuat wanita itu terdiam. Wajah Mahen memerah penuh emosi dengan gigi yang saling bergesekan.


"Sudah, Kak. Sekarang ayo, kita pulang!" ajak Vano. Dia tidak ingin terjadi keributan apapun lagi yang disebabkan oleh Mahen.


Mahen segera berbalik dan hendak keluar dari ruangan itu, tetapi Clara langsung berlari dan menubruk tubuhnya dari belakang.


"Ti-tidak, Mahen. Jangan lakukan ini padaku. Aku, aku sangat mencintaimu,"


"Lepaskan tangan kotormu dari tubuhku!" Mahen menarik paksa tangan Clara yang melingkar di perutnya lalu menghempaskannya dengan kasar.


Brak.


Tubuh Clara menabrak tiang penyanggah infus membuat jarum infus yang menancap ditangannya terlepas, hingga darah segar keluar dari sana.


Vano yang melihat semua itu langsung menarik tangan Mahen untuk keluar dari sana, dan menyuruh River untuk membereskan Clara sebelum keadaan semakin runyam.


"Lepas! Aku bisa jalan sendiri." Mahen menepis tangan Vano sambil melirik ke arah Clara yang saat ini sedang meringis kesakitan sambil memegangi perut. Dia lalu kembali berbalik tetapi lagi-lagi Clara mencekal tangannya.


"Lepas!"


"Tidak, aku tidak akan melepaskanmu. Aku mohon dengarkan aku dulu, Mahen. Jangan seperti ini,"


"Aku tidak ingin lagi berurusan dengan wanita sepertimu, Clara. Jauhi aku, dan bawa anakmu bersama laki-laki lain itu."


Clara menggelengkan kepalanya dengan air mata membasahi wajah. Kakinya bergetar menahan rasa sakit yang seakan meremmas perutnya hingga keringat dingin mengalir deras.

__ADS_1


"Aku sangat mencintaimu, Mahen. Aku, aku-"


Bruk.


Clara terjatuh ke lantai karena tidak sanggup lagi menahan rasa sakit diperutnya, tetapi tangannya tetap mencengkram lengan Mahen dengan kuat membuat tubuh laki-laki itu ikut menunduk.


"Lepaskan tanganmu!"


"Berhenti lah, Kak. Lihat keadaannya sekarang!" Vano dan River mencoba untuk mengangkat tubuh Clara yang sudah sangat pucat dan dingin.


"Ada apa ini?" Tiba-tiba Dokter dan beberapa perawat masuk ke dalam ruangan itu dan terkejut melihat apa yang terjadi. "Apa yang sudah kalian lakukan?" Dia segera mendekati Clara yang sudah memejamkan kedua mata.


"Bukan kami, tapi wanita ini sendiri yang melakukannya," ucap Mahen tanpa rasa bersalah.


Dokter dan beberapa perawat langsung membawa Clara ke atas ranjang dan membaringkannya. Kemudian mereka memperbaiki infus yang sudah tergeletak di atas lantai.


Mahen, Vano, dan River yang akan keluar dari kamar dicegah oleh Dokter.


"Bayi itu tidak ada sangkut pautnya dengan kami!" potong Mahen dengan cepat sambil melenggang keluar.


Vano berdecak kesal dengan apa yang terjadi saat ini. "Lakukan yang terbaik untuk bayi itu, aku yang akan menanggung semua biayanya." Dia tidak tega membiarkan bayi yang tidak berdosa itu menanggung semua ini.


"Lalu bagaimana dengan ayah bayi itu, Tuan?"


"Aku tidak tau. Tanya saja pada ibunya." Vano segera berbalik dan keluar dari ruangan itu, sementara Dokter bergegas untuk memeriksa kondisi Clara.


Pada saat yang sama, Via sudah sampai di rumahnya dengan diantar oleh papa Adrian dan juga mama Camelia.


"Mama!" Yara yang melihat kedatangan mamanya langsung berlari keluar. "Loh, ada Oma sama Opa juga?" Dia sedikit terkejut, tetapi tersenyum dengan cerah.


"Iya, Sayang. Oma sama opa mau main ke rumah Yara, bolehkan?"

__ADS_1


Gadis kecil itu menganggukkan kepalanya. "Boleh-boleh. Yala punya mainan balu, bial Yala tunjukin sama Oma sama Opa juga."


"Waah, oma udah enggak sabar," ucap mama Camelia dengan antusias membuat Yara berlari masuk dengan semangat untuk menunjukkan mainan barunya.


Ibu Novi menyambut kedatangan oma dan opanya Yara lalu mempersilahkan mereka untuk masuk. Lalu mereka semua berkumpul di ruang keluarga dengan Yara yang sibuk memamerkan semua mainannya.


"Jadi, semua mainan ini dari om Vano?" tanya mama Camelia pura-pura terkejut, padahal dia tahu kalau Vano memang sering membelikan mainan untuk Yara.


"Enggak semua juga, Oma. Yang itu sama yang itu, dibelikan Mama. Telus yang lain balu om Pano." Yara menunjuk mainan apa-apa saja yang diberikan oleh Via dan juga Vano.


Mama Camelia menatap mainan itu dengan sendu, ternyata tidak ada satu pun mainan yang Mahen berikan pada Yara.


"Mainan yang dikasi Mas Mahen ada di dalam kamar, Ma. Kadang Yara suka main di kamar juga, iya kan Sayang?" Via melihat ke arah Yara yang langsung dijawab dengan anggukan gadis itu.


Mama Camelia tersenyum sambil mengusap lengan Via, sungguh wanita itu sangat peka sekali dengan apa yang dia pikirkan.


Kemudian papa Adrian mengajak Yara untuk bermain di balkon apartemen karena ada hal penting yang ingin istrinya katakan pada Via.


"Begini, Nak. Ada hal penting yang ingin mama tanyakan padamu, tapi mama harap kau tidak tersinggung atau pun marah sama mama," ucapnya.


"Tidak apa-apa, Ma. Mama boleh tanya apapun padaku, insyaallah akan ku jawab kalau aku bisa."


Mama Camelia mengangguk senang. "Jadi, apa, apa kau masih mencintai Mahen, Via?"





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2