
Tubuh Mahen tersungkur ke atas lantai karena menerima bogem mentah dari Vano, sementara Clara langsung berteriak panik dengan apa yang sedang terjadi.
"Apa yang kau lakukan, Vano?" teriak Mahen, dia memegangi sudut bibirnya yang mengeluarkan darah segar.
"Apa yang ku lakukan kau bilang? Dasar brengs*ek!" Vano mencengkram kerah kemeja Mahen membuat laki-laki itu memekik kaget.
"Lepaskan aku, dasar gila!" Mahen memberontak, tapi itu percuma saja karena tenaganya tidak sekuat Vano.
"Tuan Vano, lepaskan Mahen!" Clara ikut menarik tangan Vano membuat laki-laki itu menatapnya tajam.
"Lepaskan tangan kotormu itu, ja*l*ang!"
Deg. Tubuh Clara langsung bergetar saat melihat tatapan Vano yang sanget mengerikan, sementara Mahen berhasil menendang kaki Vano membuat cengkraman laki-laki itu terlepas.
Salah satu karyawan yang mendengar keributan itu langsung berlari ke ruangan papa Adrian untuk memberitahukan semua yang terjadi.
"Apa kau sudah gila, Vano? Beraninya kau memukul kakakmu sendiri!" Mahen terlihat sangat emosi.
Vano tertawa sinis mendengar ucapan Mahen. "Aku bukan hanya akan memukulmu, tapi juga akan menghancurkan kalian berdua!"
Glek. Mahen dan Clara menelan salive mereka dengan kasar. Untuk pertama kalinya Vano tampak sangat menyeramkan, apalagi tatapan laki-laki itu seolah sedang mengoyak-ngoyak tubuh mereka.
"Se-sebenarnya ada apa, Vano? Kenapa kau tiba-tiba memukulku?" Mahen memilih jalan aman. Bukannya dia merasa takut, hanya saja dia tau bagaimana kemarahan adiknya itu.
"Kalian berdua kan, yang telah menyebarkan berita buruk tentang Via?"
Deg. Jantung Mahen dan Clara langsung berdebar kencang saat mendengar ucapan Vano, terlebih-lebih Clara yang sudah sangat pucat saat ini.
"Apa, apa yang kau katakan, Vano? Kami tidak-"
Vano mengangkat tangannya karena tidak mau mendengar alasan Mahen. "Aku sudah membereskan masalah kalian, tapi kalian malah melakukan semua ini. Tunggu saja, aku akan menghancurkan kalian berdua." Vano segera berbalik dan keluar dari ruangan itu.
"Kenapa, kenapa kau sangat peduli sekali pada Via, Vano?" tanya Mahen dengan tajam membuat langkah Vano terhenti. "Kenapa kau marah dengan apa yang terjadi? Semua ini tentang Via, dan tidak ada urusannya denganmu!"
__ADS_1
Vano mengepalkan kedua tangannya, dia lalu berbalik dan melihat ke arah Mahen dengan tajam.
"Kenapa kau harus peduli? Dia itu istriku, dan kau tidak berhak ikut campur!"
"Wah Kak, aku sangat bangga sekali padamu. Ternyata kau ini lebih rendah dari seekor binatang!"
"Apa?" Mahen bertambah murka, siapa pun pasti akan marah jika dikatai lebih rendah dari hewan.
"Hewan saja tidak mau menyerang kelompoknya sendiri, tetapi kau. Kau manusia yang punya akal, tapi kau malah menyerang seorang wanita yang masih berstatus sebagai istrimu. Kau benar-benar tidak punya harga diri!"
Mahen mengepalkan kedua tangannya dengan erat, wajahnya memerah penuh emosi membuat Clara semakin dilanda ketakutan.
"Kau tanya kenapa aku peduli, hah?" Vano kembali melangkahkan kakinya untuk mendekati Mahen. "Aku peduli padanya karna masih punya perasaan sebagai sesama manusia, aku peduli padanya karna memikirkan keponakanku!"
"Hahahaha." Mahen langsung tertawa saat mendengar ucapan Vano. "Ayolah, Vano. Sejak kapan kau peduli pada orang lain, hah?" Suara tawa masih terdengar dari mulutnya. "Kau pikir siapa yang paling mengenal dirimu di dunia ini selain aku, hah? Jangankan peduli pada orang lain, pada keluargamu saja kau tidak pernah peduli." Mahen tersenyum sinis.
"Jika aku tidak peduli, hari ini kalian sudah hancur, Kak,"
"Ah ya, benar. Kau lah yang telah menyelamatkan perusahaan, tapi dibalik semua itu, aku mulai bertanya-tanya." Mahen tersenyum miring seolah sedang mengejek Vano. "Apa kau menyukai istriku?"
"Kenapa? Apa kau mau menyangkalnya?" Mahen melangkahkan kakinya sampai hanya tinggal berjarak satu langkah saja dari tubuh Vano. "Apa kau pikir aku tidak tau, kalau selama ini kau sering menemui istriku, hem."
Mata mereka saling menatap tajam, seolah-olah sedang berhadapan dengan musuh bebuyutan.
"Aku tidak menyangka kalau kau punya perasaan seperti itu. Mungkin jika dengan wanita lain, itu biasa. Tapi sekarang, kau menyukai bekas kakakmu sendiri. Waw, kau hebat, Vano,"
"Tutup mulutmu,"
"Kenapa? Apa kau tidak mau mengakuinya? Ck ck ck, tidak disangka seorang anak kesayangan bisa melakukan hal serendah ini. Bagaimana mungkin kau menyukai istri-"
Buak.
Vano kembali memukul Mahen karena tidak bisa lagi menahan amarahnya, dan jujur saja kalau dia tidak pandai berkelahi dengan kata-kata walaupun selama ini selalu berkata kasar.
__ADS_1
Mahen kembali tersungkur ke lantai, tetapi tidak itu saja. Vano langsung menimpa tubuhnya dan bersiap untuk kembali menghajarnya. "Ayo, hajar aku. Hajar kakakmu ini!"
"Apa-apaan ini?" Suara teriakan papa Adrian menggema di tempat itu membuat Vano menghentikan pukulannya. "Vano, turun dari tubuh kakakmu!" Dia berjalan cepat ke arah Vano dan langsung menarik tubuh putranya itu.
"Apa-apaan kalian ini? Apa kalian pikir kalian itu masih anak-anak, hah?"
Suara papa Adrian membuat semua karyawan yang ada diluar ruangan langsung melihat apa yang terjadi, sementara para sekretaris langsung masuk ke dalam ruangan dan menutup pintunya.
"Kalian pikir ini di mana, hah? Bisa-bisanya berperilaku seperti ini!"
Vano dan Mahen terdiam dengan kepala tertunduk. Mereka tidak berani untuk melihat atau pun membantah ucapan sang papa.
River yang baru saja selesai menjalankan tugas dari Vano langsung menuju ruangan Mahen. Namun, saat ingin membuka ruangan itu. Ternyata pintunya terkunci membuat dia langsung mengerahkan tenaga dalam.
"Sekarang ikut papa pulang! Papa tidak mau-"
Brak!
Semua orang terlonjak kaget saat mendengar suara pintu itu, termasuk papa Adrian yang langsung mengeluarkan taringnya.
"Apa kau tidak punya sopan santun?" Papa Adrian benar-benar emosi sekali saat ini.
River melangkahkan kakinya ke dalam ruangan dan berhenti di depan papa Adrian, dia lalu menganggukkan kepala dan berbalik menghadap ke arah Vano. "Tugas saya sudah selesai, Tuan."
Semua orang tercengang dengan apa yang dia lakukan, terutama papa Adrian yang sudah mengepulkan asap tebal dari kepalanya.
"Sebenarnya dari mana kau mendapatkan manusia purba ini?"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.