
Vano terdiam mendengar ucapan sang papa, karena tanpa disuruh pun dia tidak berniat untuk mengatakan semua itu pada orang lain. "Aku tidak berniat untuk memberitahu orang lain, dan aku rasa kakak ipar juga sama. Dia akan semakin merasa sakit jika luka itu diketahui oleh orang lain."
Papa Adrian menyetujui apa yang Vano ucapkan. "Ya, papa juga yakin kalau Via tidak akan mengatakan apapun. Hanya untuk jaga-jaga saja, mana tau ada orang lain yang mengetahuinya. Untung saja kau sudah mengurus orang-orang di pengadilan, jika tidak mungkin semuanya sudah kacau."
Vano menganggukkan kepalanya, tetapi ada satu hal yang dia khawatirkan saat ini. "Aku yakin kalau Via tidak akan mengacau, tapi bagaimana dengan keluarganya? Terutama ayahnya itu."
"Tenang saja, mamamu sedang mengurus semuanya. Dan papa juga akan menyuruh Mahen untuk menyembunyikan selingkuhannya itu, jangan sampai orang lain mengendus keberadaannya,"
"Itu tidak mungkin. Selingkuhan kakak kan kerja di sini, tidak mungkin dia tiba-tiba menghilang,"
"Hah, dasar anak kurang ajar. Bisa-bisanya dia membuat kekacauan ini!" geram papa Adrian membuat Vano menepuk bahunya.
"Papa tenang saja. Jika publik mengetahui semuanya, maka aku yang akan membereskannya. Sekarang fokus saja untuk rapat nanti, sisanya serahkan padaku."
Papa Adrian bernapas lega mendengar ucapan putra bungsunya itu. "Papa berharap banyak padamu, Vano. Hanya kaulah yang bisa mengendalikan semuanya."
Vano menganggukkan kepalanya lalu beranjak pergi dari tempat itu, ada banyak hal yang harus dia selesaikan terutama bertemu dengan Via. Namun, sebelum itu dia harus menghubungi seseorang. Sepertinya ini saat yang tepat untuk menyuruh lelaki itu datang menemuinya.
"Halo, Tuan?"
"Bagaimana pekerjaan di sana?"
"Semuanya lancar, Tuan. Sesuai perkiraan Anda, semua akan selesai dalam waktu 6 bulan."
Vano tersenyum lebar, sebentar lagi perusahaannya sendiri akan berdiri dengan kokoh. Tidak sia-sia selama ini dia menghabiskan waktu dengan belajar dan belajar, serta menjalin hubungan dengan orang-orang penting yang pastinya akan sangat berguna untuk perusahaannya nanti.
Namun, sangking sibuknya mendirikan perusahaan. Dia tidak sempat untuk menjalin hubungan percintaan dengan seorang wanita, padahal dia adalah lelaki idaman bagi semua kaum hawa.
Tidak jarang banyak wanita-wanita yang terus mengejarnya, baik secara langsung atau pun tidak. Bahkan di London saja, dia masuk jajaran top pria yang membuat para wanita jatuh cinta. Wajar saja dia bisa sampai seperti itu, karena memang sudah hampir 8 tahun dia menetap di sana.
"Baiklah. Serahkan semua itu pada Jarga, dan segeralah ke sini,"
__ADS_1
"Baik, Tuan."
Panggilan itu langsung terputus saat Vano sudah selesai memberi perintah pada anak buahnya. "Baiklah, sekarang aku harus menemui Via." Dia segera pergi dari tempat itu untuk menemui sang kakak ipar.
Pada saat yang sama, Via sedang berada di kantor Riani. Mulai hari ini dia akan bekerja sebagai asisten pribadi wanita itu, walaupun sebenarnya Riani sudah punya sekretaris pribadi.
"Kau bisa menempatkanku di bagian penjualan atau pemasaran saja, Rin. Aku tidak mau menjadi asistenmu, lagi pula kau kan sudah punya sekretaris," ucap Via, dia merasa segan dengan para karyawan Riani yang sudah lebih dulu bekerja di tempat ini.
"Beraninya kau mengatur bosmu sendiri! Yah suka-suka aku dong, mau meletakkanmu pada bagian apa."
Suara Riani yang melengking tinggi terdengar sampai ke luar ruangan, membuat beberapa karyawan terheran-heran.
"Artaghfirullah, apa kau mau meruntuhkan bangunan ini?" Via mengusap-usap telinganya yang berdengung, suara cetar membahana Riani itu bisa mengguncangkan dunia.
"Sudah, kau jangan banyak bicara lagi. Cepat sana ke ruanganmu, apa kau mau aku pecat?" Riani melotot dengan tajam, dia tidak mau lagi mendengar penolakan dari temannya itu.
"Hah, baiklah. Terima kasih karna sudah menerima saya, bos besar."
Akhirnya Via dan Riani kembali tertawa sampai menbuat perut mereka terasa sakit, setelahnya Via segera keluar dari ruangan itu untuk mulai mengerjakan pekerjaan hari ini.
"Assalamu'alaikum, selamat siang, Nona Mira." Via membuka ruangan yang akan menjadi ruangannya, bersama dengan sekretaris Riani.
"Selamat siang juga, masuklah."
Via langsung masuk ke dalam ruangan itu dengan senyum dibibirnya. "Maaf jika saya menganggu Anda, Nona. Saya ingin memperkenalkan diri."
"Tidak perlu, saya sudah tau siapa Anda."
Via tersenyum canggung, dia yang memang tidak biasa berhubungan dengan banyak orang merasa bingung ingin mengatakan apa lagi sekarang.
"Ah, maaf kalau saya membuat Anda canggung." Wanita bernama Mira itu beranjak dari kursinya sambil tersenyum lebar. "Maksud saya, saya sudah tau kalau Anda sahabat baiknya Nona Riani. Kita juga kan, sudah beberapa kali bertemu."
__ADS_1
Via langsung menganggukkan kepalanya. "Benar, No-"
"Ah, tidak perlu nona-nona segala. Panggil saja aku Mira, lagi pula pekerjaan kita setara,"
"Eh, tapi saya merasa sungkan, No-"
"Tidak perlu sungkan-sungkan. Sekarang perkenalkan, namaku Mira Anjani." Mira mengangjat tangannya untuk berjabat dan langsung diterima oleh Via.
"A-aku Silvia Maharani, kau bisa memanggilku Via." Mereka lalu melepaskan jabatan tangan itu.
"Nah, kan bagus kalau kita bicara seperti ini. Semogat kita bisa tambah dekat, dan semua pekerjaan lancar,"
"Aamiin." Via mengaminkan segala hal baik agar dikabulkan oleh Allah.
Setelah perkenalan itu, Mira segera mengajak Via untuk berkenalan dengan karyawan lain yang ada di kantor itu.
Via merasa senang karna semua karyawan Riani sangat baik dan ramah, mereka juga menyambut kedatangannya dengan baik.
"Nama saya Suci, dan ini Nadin." Dua orang wanita yang tampak seumuran dengan Via ikut memperkenalkan diri.
"Senang bisa bertemu dengan kalian semua. Saya harap Anda semua bisa memberitahu saya jika nantinya ada sesuatu yang tidak saya mengerti, juga bisa menegur saya jika ada kesalahan," ucap Via yang langsung diiyakan dengan semangat oleh semua orang.
"Ah, itu tidak mungkin terjadi. Seseorang yang diangkat langsung menjadi asisten pribadi pastilah sangat hebat. Betul tidak semuanya?"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1