Mahligai Cinta Yang Terbagi

Mahligai Cinta Yang Terbagi
Bab. 88. Menyadari Rencana Penyergapan.


__ADS_3

Via segera keluar dari ruangannya menuju ruangan Riani, dia ingin meminta izin pada wanita itu untuk dua jam ke depan.


"Baiklah. Selesaikan masalahmu dengan Vano, karena jika kau membuat kesalahan lagi. Maka aku akan memaksa laki-laki itu untuk menikahimu,"


"Apa?" Via terkejut dengan apa yang Riani ucapkan. "Ka-kau jangan asal bicara saja Rin." Wajahnya tiba-tiba berubah merah membuat Riani tergelak.


"Sekarang dengarkan aku baik-baik, Vi. Aku berpikir mungkin saja kau sudah jatuh cinta dengan Vano, itu sebabnya kau sangat khawatir saat ini."


Via menghembuskan napas kasar. Ini sudah entah kali keberapa Riani mengatakan kalau dia jatuh cinta dengan Vano. "Sudahlah, terserah kau mau bilang apa. Aku pergi dulu ya." Dia beranjak keluar dari ruangan itu untuk segera menemui Vano.


"Ingat, Vi. Kau jangan menikah dengan Vano sebelum aku menikah ya. Masak kau udah ronde kedua, aku pertama pun belum sih!"


Via hanya melambaikam tangannya saja saat mendengar teriakan Riani, membuat para karyawan yang lain menatap dengan heran.


"Dasar bod*oh, bisa-bisanya dia tidak sadar kalau sudah mencintai Vano. Tapi syukurlah, setidaknya Vano jauh lebih baik dari Mahen. Dan semoga kebahagiaan selalu menyertai mereka." Do'a tulus selalu Riani panjatkan untuk kebahagiaan Via. Terserah dengan siapa temannya itu akan melabuhkan hati, dia hanya ingin melihat Via bahagia dan selalu tertawa seperti dulu.


Pada saat yang sama, terlihat Clara sedang mondar-mandir di dalam kamar. Entah kenapa perasaannya menjadi sangat tidak nyaman seperti akan ada sesuatu yang terjadi.


"Apa yang akan Vano lakukan? Kenapa Mahen tidak memberitahukannya padaku?" Dia merasa kesal.


Tadi pagi Mahen sempat bicara dengan Vano melalui telepon, tetapi Clara tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Dan saat dia bertanya, Mahen malah langsung berangkat ke kantor dan tidak menjawab pertanyaannya.


"Apa aku ke perusahaan aja, ya? Mungkin aku bisa tau apa rencana Vano, dan memperingati Indra." Clara lalu mengganti pakaiannya dan bergegas untuk pergi ke perusahaan.


Sementara itu, Vano dan yang lainnya masih berada di dalam ruangan Mahen. Begitu juga dengan Indra yang tampak sedang menatap Vano dengan tajam.


"Akui saja, tuan Indra. Apa susahnya sih?" ucap Vano yang langsung di balas dengan senyum sinis dari Indra.

__ADS_1


"Syaa tidak tau kenapa Anda memaksa agar saya mengakui semua itu, Tuan Vano. Tapi sekali lagi saya ucapkan, bahwa saya bukanlah orang yang ada dalam kertas itu." Indra beranjak berdiri membuat yang lainnya juga ikut berdiri, kecuali Vano yang tetap duduk di tempatnya.


"Maaf jika saya harus melakukan ini, Tuan. Tapi tolong keluar dari ruangan saya, karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan,"


"Beraninya kau mengatakan kalau ini ruanganmu?" Mahen menerjang tubuh Indra dan langsung mencengkram kerah kemejanya. Sudah sejak tadi dia menahan emosi, dan sekarang tidak bisa lagi.


"Apa yang Anda lakukan? Lepaskan Tuan Indra!" Sekretaris Indra berusaha untuk melepaskan cengkraman itu, tetapi belum berhasil.


"Akulah pemilik ruangan ini, dan akulah pemilik saham itu. Jadi jangan coba-coba untuk mengusikku atau aku akan membunuhmu!"


Indra tergelak mendengar ucapan Mahen. "Lakukan saja, Tuan Mahen."


Mahan langsung mengangkat tangannya dan hendak meninju wajah Inddra, tetapi tangan laki-laki itu berhasil menangkis serangannya.


"Bukan kau saja yang bisa memukul, Tuan Mahen. Tapi aku juga."


Satu bogem mentah melayang ke wajah Mahen membuat dia tersungkur, sementara Vano bergegas untuk menolong sang kakak.


"Aku sudah mengatakan untuk tidak melakukan apapun, kenapa kau tidak mendengarku?" ucap Vano dengan suara tertahan membuat Mahen diam tidak bersuara.


Brak.


Tiba-tiba ruangan itu dibuka oleh seseorang membuat semua orang menoleh ke arahnya, terlihat papa Adrian dan beberapa orang masuk ke dalam ruangan itu.


"Ada apa, ini?" tanya papa Adrian pura-pura tidak tahu.


"Tidak ada, Tuan. Hanya salah paham saja," ucap Indra sambil menunduk untuk mengambil ponselnya yang sempat terjatuh.

__ADS_1


Lalu, tidak sengaja mata Indra melihat ke arah sepatu dan celana yang dipakai oleh beberapa orang yang ikut masuk bersama dengan papa Adrian.


"Tidak akan ada yang ke perusahaan memakai sepatu seperti itu." Dia merasa terganggu dengan sepatu yang tidak biasa dipakai oleh para profesional, apalagi perusahaan ini adalah perusahaan besar. "Tapi tunggu, aku tau siapa yang biasa memakai sepatu seperti itu. Mereka adalah ...." indra langsung berdiri dan menarap orang-orang itu dengan tajam.


"Ada apa, Tuan Indra? Apa saya tidak boleh masuk ke ruangan ini?"


Indra terkekeh pelan. Sepertinya mereka ingin bermain-main dengannya, apa mereka pikir dia tidak akan tahu? Bertahun-tahun menjadi seorang buronan, tentu dia tahu secara detail tentang kepolisian. Bahkan hal sekecil apapun, walau mereka sedang dalam penyamaran. Itulah sebabnya dia selalu berhasil melarikan diri.


"Tentu saja boleh, Tuan. Anda 'kan, pemilik dari perusahaan ini," ucap Indra dengan senyum manis. Kemudian dia melirik ke arah sang sekretaris dan mengedipkan matanya sebanyak 2 kali.


Sekretaris itu menjadi tegang, dia tahu benar apa maksud dari kedipan tuannya itu. "Si*alan. Aku harus segera menghubungi yang lain." Dia mengambil ponselnya yang ada di dalam saku dan langsung menekan angka 1, yang langsung otomatis tersambung ke semua anak buah Indra yang ada di perusahaan itu.


Vano terus memperhatikan gerak-gerik Indra dan juga sekretarisnya, apalagi dia sempat melihat kalau Indra mengedipkan mata pada laki-laki itu. "Sh*it  dia pasti sudah tahu." Dia segera melirik ke arah River dan juga para polisi itu, lalu menganggukkan kepalanya.


Para polisi itu dan juga River segera menaril senjata yang ada dalam saku mereka, begitu juga dengan Indra dan juga sekretarisnya.


"Jangan bergerak!"


"Angkat tangan kalian!"





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2