
"Sakit, Mahen. Kau menyakiti anak kita."
Mahen langsung melepaskan cengkraman tangannya dengan kesal. Padahal dia hanya memegang tangan Clara, tapi wanita itu selalu saja membawa-bawa anak yang ada dalam kandungannya itu.
"Apa yang kau lakukan di sini, apa kau mau membuatku malu?" tanya Mahen dengan kesal.
"Apa, malu?" ucap Clara dengan tidak terima. "Kan aku sudah bilang kalau mau datang ke sini, memang di mana salahnya?" Dia menatap Mahen dengan tajam.
Mahen mengepalkan tangannya dengan kuat, dia mencoba untuk menahan amarahnya agar tidak menyakiti bayi yang ada dalam kandungan wanita itu.
"Lagi pula anak kita ingin jalan-jalan ke sini, dia ingin melihat perusahaan yang akan menjadi miliknya nanti," ucap Clara dengan bangga.
"Jangan terus membawa-bawa bayi yang ada dalam kandunganmu itu, Clara. Via saja dulu tidak seperti ini, dia selalu tenang saat sedang mengandung anakku."
Clara menatap Mahen dengan kobaran api kemarahan, apalagi saat laki-laki itu membandingkan dia dengan wanita kampungan itu.
"Jangan bandingkan aku dengan wanita itu, Mahen. Karna kami sangat jauh berbeda,"
"Benar, kalian memang sangat berbeda. Via itu wanita baik, dan kau wanita yang sangat licik,"
"Apa?" Clara benar-benar kaget dengan apa yang Mahen katakan, sementara Mahen sendiri membalikkan tubuh sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
Clara mengepalkan kedua tangannya dengan kesal. Bisa-bisanya Mahen masih saja memikirkan wanita itu, padahal sudah ada dia yang selalu menemani.
"Cih. Kau mengatakan kalau aku wanita yang licik, tapi kau sendiri juga laki-laki yang egois."
Mahen memilih untuk tidak meladeni ucapan Clara, karena jika semakin dijawab, maka pertengkaran itu tidak akan ada habisnya. "Hah, aku lelah sekali." Baru kali ini Mahen merasa benar-benar lelah dengan semuanya. Baik di perusahaan maupun di rumah, di mana-mana selalu ada Clara yang terus memancing keributan.
Sejak bercerai dengan Via, entah kenapa dia jadi tidak tertarik oleh Clara lagi. Bahkan dia juga tidak tertarik dengan wanita manapun, dan malah terus memikirkan mantan istrinya.
Entahlah, dia tidak tau kenapa semua menjadi seperti ini. Padahal waktu masih bersama dengan Via dulu, dia merasa senang saat menghabiskan waktu dengan Clara. Ada sebuah tantangan dalam dirinya yang membuat darahnya berdesir hebat, dan sekarang perasaan itu lenyap seiring dengan hancurnya rumah tangga bersama dengan Via.
__ADS_1
Ting.
Pintu lift yang mereka naiki sudah terbuka membuat Mahen langsung beranjak keluar dan masuk ke dalam ruangannya, tentu saja dengan diikuti oleh Clara.
Namun, Clara menghentikan langkahnya saat berpapasan dengan sekretaris Mahen yang baru.
"Apa semua sudah siap?" bisik Clara tepat ke telinga laki-laki itu.
"Sudah, Nona. Saya akan masuk 10 menit lagi."
Clara menganggukkan kepalanya lalu kembali melangkah masuk ke dalam ruangan Mahen. Jantungnya berdegup kencang karena merasa takut jika apa yang dia lakukan nanti ketahuan oleh laki-laki itu.
Setelah kedatangan Clara, tentu saja berita tentang wanita itu langsung menyebar dengan sangat cepat ke seluruh penjuru ruangan. Semua orang terus membicarakan hubungan Clara dengan Mahen, dan mulai mengaitkannya dengan Via.
River yang saat itu sedang melewati ruangan para staff keuangan, langsung menghentikan langkah kakinya saat mendengar obrolan dari mereka.
"Dasar gila. Bagaimana mungkin Clara bisa menikah dengan tuan Mahen?" teriak seorang lelaki yang ada di dalam ruangan itu.
"Iya benar, ini sangat aneh sekali. Apalagi tadi kata mereka wanita itu sudah hamil, perutnya udah besar,"
"Katanya sih udah 6 atau 7 bulanan gitu, soalnya udah besar kata mereka,"
"Astaga. Jangan-jangan tuan Mahen berpisah dengan Nona Via gara-gara Clara?"
"Iya benar, bisa jadi seperti itu. Coba ingat-ingat kapan perceraian tuan Mahen dan nona Via terjadi, dan bandingkan dengan kehamilan Clara."
River terus mendengarkan semua ucapan yang ada di dalam ruangan itu, dia lalu beranjak pergi karena ingin melaporkannya pada sang tuan.
Sesampainya di ruangan, River langsung menelepon Vano dan melaporkan semua yang sudah dia dengar tadi. Bahkan disetiap sudut perusahaan, dia terus mendengar tentang gosip itu.
"Dasar gila. Sepertinya kakakku sedang menggali makamnya sendiri," ucap Vano dengan kesal saat menerima kabar dari River.
__ADS_1
"Lalu, apa yang harus saya lakukan, Tuan?" tanya River kemudian.
"Cari tau tentang semua kebenaran itu, dan pantau terus apa yang wanita itu lakukan. Tapi, jangan melakukan apapun tentang gosip itu. Kau hanya perlu bertindak saat nama Via tercemar,"
"Baik, Tuan."
Panggilan itu langsung terputus saat Vano sudah memberikan perintah, dan River segera melaksanakan apa yang tuannya perintahkan.
Sementara itu, Vano yang masih berada di salah satu gerai penjual ayam goreng merasa benar-benar kesal. Lagi-lagi kakaknya itu membuat ulah, tetapi kali ini dia tidak akan melakukan apa-apa.
"Ada apa, Vano? Apa sedang terjadi sesuatu?" tanya Via yang baru saja dari toilet, dia sempat melihat kalau laki-laki itu tadi sedang menerima telepon.
"Tidak ada apa-apa, hanya masalah kecil dari serangga-serangga yang harus dibasmi."
Via mengernyitkan keningnya dengan bingung, dia lalu kembali duduk di samping Yara. "Oh ya, Sayang. Nanti malam ante Riani mengundang kita untuk makan malam."
"Waah, apa ante sudah pulang?" tanya Yara dengan sangat antusias membuat ayam yang ada di dalam mulutnya langsung berhamburan keluar dan mengenai pakaian Vano.
"Ya Allah, telan dulu makanan yang ada di dalam mulutmu, Yara." Via segera mengambil tisu untuk membersihkan semburan dari mulut Yara, sementara Vano juga membersihkan pakaiannya.
"Lihat, baju Om Vano jadi kotor," ucap Via lagi dengan marah.
"Enggak papa kok, Yara kan enggak sengaja." Vano mengedipkan sebelah matanya ke arah Yara membuat gadis kecil itu kembali tersenyum.
•
•
•
Tbc.
__ADS_1
Mampir juga ke karya teman aku di bawah ini 😍