
Mahen memcengkram erat kerah kemeja Dokter itu lalu menghempaskan tubuhnya ke dinding membuat semua orang memekik kaget.
"Mahen!" bentak papa Adrian sambil berusaha untuk menarik tubuh Mahen dibantu dengan Vano juga.
"Aku akan menuntutmu atas apa yang kau lakukan. Sekarang katakan, siapa yang menyuruhmu untuk berohong padaku, hah?" teriak Mahen masih tetap mengguncang tubuh Dokter itu.
"Demi Tuhan, Tuan. Saya tidak berbohong, saya mengatakan hasil pemeriksaan yang sebenar-benarnya."
"Kau-"
Brak.
Vano menarik tubuh Mahen dengan kuat sampai laki-laki itu menabrak kursi, dia kesal karena Mahen sudah mengangkat tangan dan hendak memukul Dokter itu.
Papa Adrian mengusap wajahnya dengan kasar, sementara mama Camelia sudah menangis dalam pelukan Via.
Mahen sendiri terdiam sambil memandang ke arah lantai. Pikirannya berkecambuk, dengan dada berdebar-debar bagai deburan ombak yang saling berkejaran. Darahnya terasa mendidih saat mengingat apa yang Dokter katakan tadi.
"Tidak, itu tidak mungkin. Dia adalah anakku, darah dagingku." Mahen berbalik dan dengan cepat berlari dari tempat itu membuat semua orang terkejut.
"Tunggu, mau kau ke mana kau, Mahen!" teriak papa Adrian, sementara Vano dan juga River segera mengejar laki-laki itu.
"Berhenti di sana, Kak!" teriak Vano membuat orang-orang yang ada di tempat itu mulai memperhatikan mereka, apalagi saat ini mereka sedang berlarian dilorong rumah sakit.
Brak.
Mahen membuka pintu ruangan di mana bayi itu berada membuat Dokter dan perawat yang ada di dalamnya terlonjak kaget.
"Ada apa ini, Tuan?"
"Minggir!" Mahen mendorong tubuh Dokter yang menghalangi langkahnya hingga tersungkur ke atas lantai, dia lalu berjalan cepat ke arah baya yang terletak di dalam inkubator.
"Apa yang mau Anda lakukan, Tuan?" 2 orang perawat yang ada di ruangan itu menghalangi Mahen yang akan mendekati inkubator, membuat amarahnya semakin memuncak.
"Aku bilang minggir!"
"Hentikan, Kak!" Vano yang baru sampai di ruangan itu langsung menarik tangan Mahen untuk segera keluar dari ruangan itu, tetapi Mahen langsung menepis tangannya dengan kasar.
__ADS_1
"Jangan menyentuhku!" Mahen terus saja menepis tangan Vano membuat laki-laki itu hilang kesabaran.
"Da*mn it. River, cepat urus kakakku!" perintah Mahen yang langsung dilaksanakan oleh River.
River memegang tangan Mahen dan langsung memelintirnya ke belakang membuat Mahen memekik kesakitan.
"Lepaskan aku, dasar brengs*ek!"
Bruk.
Tubuh Mahen terjatuh ke lantai saat River menekan kakinya, dan dia terjatuh dalam posisi seperti sedang bersimpuh.
"Lepaskan aku. Aku bilang lepaskan aku dasar brengs*ek bajing*an!" Mahen terus memberontak, tetapi cengkraman River tidak mengendur sama sekali.
"Maaf, Tuan. Sebenarnya ada apa ini?" tanya Dokter yang sudah merasa tenang akibat didorong oleh Mahen tadi.
"Maaf atas keributan ini, Dokter. Kami akan segera pergi," jawab Vano sambil melihat ke arah River dan memberi kode agar membawa kakaknya keluar.
"Tidak, aku harus melihat anakku. Lepaskan aku, Vano. Lepaskan aku!" Mahen berteriak dengan sangat kencang sampai membuat semua orang terlonjak kaget, bahkan bayi yang ada di dalam inkubator tampak bereaksi yang menyebabkan jantungnya semakin lemah.
"Dokter!" Salah satu perawat memanggil Dokter dan memberitahukan apa yang terjadi membuat Dokter itu segera melakukan tindakan.
"Suruh dia untuk melepaskanku, Ma! Aku ingin melihat putraku, dia anakku," pinta Mahen sambil menggoyangkan tubuhnya, tetapi River tidak bergeming.
"Maaf, Tuan. Tolong segera keluar dari ruangan ini, karena keadaan pasien sangat kritis," pinta Dokter.
"Baik, Dokter. Maafkan kami." Papa Adrian lalu menyuruh mereka semua untuk keluar dari tempat itu.
"Tidak, aku tidak mau. Lepaskan aku, aku ingin melihat anakku!" Mahen tetap bersikukuh untuk melihat bayi itu membuat papa Adrian jadi kesal.
Plak.
Sebuah tamparan melayang ke wajah Mahen membuatnya terkesiap.
"Cukup, Mahen. Hentikan semua ini! Apa kau mau membunuh bayi yang nyawanya bahkan sedang berada dalam bahaya, hah?" Papa Adrian benar-benar tidak habis pikir.
"Dia anakku, Pa. Aku ingin melihatnya, aku ingin melihatnya!"
__ADS_1
"Kau-"
"Baiklah, jika memang Tuan ingin melihat bayi itu. Tapi saya mohon, segera keluar dari ruangan ini," potong Dokter itu.
Vano lalu menyuruh River untuk melepaskan tangan Mahen membuat laki-laki itu langsung berlari ke arah inkubator.
Vano dan yang lainnya mengikuti langkah Mahen untuk melihat bayi itu, sekaligus menjaga Mahen agar tidak melakukan apa pun lagi.
Deg.
Semua orang membulatkan mata mereka saat melihat bayi tersebut, hingga membuat mama Camelia memalingkan wajah dengan terisak.
Dengan cepat Via membawa mama Camelia keluar dari ruangan, sementara Papa Adrian dan Vano masih menatap bayi itu.
"Dia anakku, anakku!"
Papa Adrian langsung melihat ke arah Mahen dengan tajam. Bagaimana mungkin Mahen masih bisa mengatakan kalau itu adalah anaknya, sementara wajah mereka sama sekali tidak mirip? Bahkan Yara yang terlahir dengan jenis kelamin perempuan, sangat mirip dengan Mahen pada saat dilahirkan.
"Vano, bawa Kakakmu keluar!" ucap papa Adrian dengan tajam sambil beranjak keluar dari ruangan itu.
Vano menghela napas kasar, lalu memberi perintah pada River untuk membawa kakaknya keluar walaupun Mahen terus memberontak.
"Ya Allah. Kenapa, kenapa semua ini terjadi?" Mama Camelia menangis dalam pelukan Via meratapi apa yang terjadi pada putranya.
"Lepaskan aku, bangs*at! Aku ingin-"
"Cukup, Mahen! Sudah cukup."
Bentakan mama Camelia berhasil menghentikan papa Adrian yang sudah mengangkat tangan dan akan kembali memukul Mahen, untuk menghentikan kegilaan putra sulungnya itu.
"Dia bukan anakmu, Mahen. Bukan anakmu. Jadi hentikan semua ini, mama bilang hentikan!"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.