Mahligai Cinta Yang Terbagi

Mahligai Cinta Yang Terbagi
Bab. 46. Perlawanan yang Menegangkan.


__ADS_3

Jawaban Mahen sontak membuat beberapa orang melihat ke arahnya dengan tajam, bahkan pengacaranya sendiri juga terlihat bingung saat ini.


"Tuan, bukankah Anda-"


"Ikuti saja apa yang aku katakan!" potong Mahen dengan penuh penekanan membuat pengacaranya langsung terdiam. Padahal dia sendiri yang mengatakan kalau akan menerima perceraian, dengan tuntutan yang sudah dia siapkan. Tentu apa yang dia lakukan saat ini membuat pengacaranya kebingungan.


"Apa alasan Anda kenapa tidak setuju?"


"Saya tidak melakukan sesuatu yang membuat rumah tangga saya menjadi rusak,"


"Maaf, Hakim yang terhormat." Nanda berdiri dari duduknya meminta untuk bicara, yang langsung diangguki oleh hakim. "Sudah ada bukti yang jelas jika tergugat memiliki hubungan gelap dengan wanita lain, dan memicu pertengkaran dengan penggugat."


"Bisa Anda tunjukkan bukti tersebut? pinta hakim.


Nanda menganggukkan kepala. "Penggugat tidak sengaja menemukan struk pembayaran untuk sewa gedung pesta ulang tahun seorang wanita, yang ditanda tangani atas nama tergugat. Penggugat juga memergoki tergugat secara langsung di apartemen wanita lain, mereka melakukan kemesraan yang seharusnya tidak dilakukan. Ada pula saksi yang melihat semua itu."


"Kepada saksi, saya persilahkan untuk maju ke depan."


Riani beranjak dari tempat duduk untuk maju ke depan, tentu membuat Mahen menatap dengan tajam. Dia lalu memberi kode pada pengacaranya untuk membantah segala tuduhan.


"Kepada saksi, apa benar Anda melihat kejadian itu?"


"Benar, Tuan Hakim. Saya melihat semuanya. Saya melihat tergugat bersama dengan wanita lain, bahkan mendengar rencana mereka untuk menikah."


"Maaf, Tuan Hakim. Saya rasa bukti tersebut kurang kuat." Kali ini giliran pengacara Mahen yang beraksi. "Tuduhan penggugat bisa saja hanya dibuat-buat tanpa ada kejelasan yang signifikan, begitu juga dengan saksi. Beliau sahabat penggugat, yang bisa saja bekerja sama untuk menjatuhkan tergugat."


"Kau-"


"Tenanglah, Riani!"

__ADS_1


Riani sudah hampir menerjang mulut pengacara itu karena merasa geram, apalagi melihat tatapan mengejek dari Mahen.


Akhirnya sidang itu berjalan sangat lama akibat penolakan dari Mahen. Namun, beberapa koneksi Nanda mulai bekerja untuk menyudutkan Mahen dengan segala pertanyaan-pertanyaan yang menjebak.


Dari sudut ruangan, Vano terus menyaksikan jalannya persidangan itu. Entah kenapa dia sampai datang ke tempat ini, padahal masih banyak pekerjaan yang harus dia lakukan.


"Sidang ini bisa saja gagal jika kau tidak punya bukti kuat, Via. Apalagi kakakku pasti sudah mengantisipasi semuanya, termasuk wanita bernama Clara itu." Vano yakin kalau Mahen pasti sudah menghilangkan segala jejak perbuatannya.


Namun, satu hal yang membuatnya bingung. Kenapa saat ini Mahen menolak untuk bercerai? Padahal semalam Mahen sendiri yang mengatakan kalau akan menerima perceraiannya dengan Via.


Saat ini bukan hanya Vano saja yang ada di ruangan itu, bahkan laki-laki bernama Indra juga tampak menikmati semuanya. Terlihat dari senyum lebar yang ada di wajahnya, memperlihatkan kalau saat ini dia sangat senang.


"Bagus, bagus sekali. Perceraian ini harus segera terjadi agar Clara bisa menikah secara resmi dengan Mahen. Setelah itu, aku bisa leluasa melancarkan rencanaku." Indra tersenyum sinis, sebentar lagi apa yang dia inginkam akan jadi kenyataan.


2 jam berlalu dengan sangat cepat. Akhirnya Hakim memutuskan kalau sidang akan dilanjutkan minggu depan, dan mediasi yang terjadi hari ini sudah gagal. Sidang akan dilanjutkan dengan penunjukan bukti-bukti yang lebih kuat atas dugaan perselingkuhan tergugat, yang tentu saja akan membuat sidang semakin panas.


"Alhamdulillah." Via menyandarkan tubuhnya ke kursi. Saat ini dia, Riani dan juga Nanda sudah berada di sebuah restoran.


"Itu selalu terjadi. Dan yang membuatku bingung, kenapa tiba-tiba laki-laki itu berubah? Bukannya kau sendiri yang mengatakan padaku kalau suamimu setuju, Via?"


Via mengangguk. "Benar, tapi entah kenapa dia berubah."


"Mau tau kenapa? Itu karna dia breng*sek! Cih, mati saja kau Mahen," umpat Riani dengan kesal. Tanpa dia sadari kalau saat ini laki-laki yang dia sumpahi ada di belakangnya membuat Nanda dan Via menatap dengan bingung.


"Terima kasih atas umpatanmu itu, Riani. Tapi aku sama sekali tidak peduli."


Riani terlonjak kaget saat mendengar suara Mahen, sontak dia langsung memutar tubuhnya ke belakang.


"Maaf, apa ada yang bisa kami bantu, Tuan Mahen?" tanya Nanda dengan ramah, tapi sorot matanya sangat menyeramkan.

__ADS_1


"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu, Via." Mahen tidak menanggapi ucapan Nanda dan langsung bicara pada Via.


"Tidak ada lagi yang harus kita bicarakan, Mas," tolak Via, dia lalu mengalihkan pandangan ke arah samping.


Nanda dan Riani tersenyum tipis melihat raut kesal Mahen, sementara Clara yang ada di belakang Mahen merasa muak melihat Via yang selalu saja membuat Mahen berpaling darinya.


"Kau dengar, Tuan Mahen yang terhormat? Via tidak ingin bicara denganmu, jadi lebih baik kau pergi dari sini. Hus, hus." Riani mengusir Mahen dengan tangannya seolah sedang mengusir ayam.


"Kau-" Clara merasa geram, tetapi tangannya di cekal oleh Mahen agar tidak berbuat macam-macam.


"Aku ingin membicarakan masalah ayahmu, Via. Bukankah dia sudah memberitahumu?"


Via yang tadi melihat ke arah samping langsung mendongak ke arah Mahen. "Jadi, ayahku berutang padamu?"


"Tentu saja. Bukankah kita harus membicarakannya?"


Riani langsung melihat ke arah Via dengan penuh tanda tanya, karena dia tidak tau tentang apa yang Mahen katakan.


"Wah, Anda bukan hanya suami yang hebat, tapi juga menantu yang luar biasa," sindir Nanda membuat Mahen menatap sinis, "Anda miskin sekali sampai harus meminta uang yang sudah Anda berikan pada mertua,"


"Diam kau! Kau tidak tau apapun tentang urusanku, jadi jangan ikut campur!"


"Maaf, tentu saja aku harus ikut campur. Saat ini posisi kalian adalah penggugat dan tergugat, sebagai pengacara saya tidak akan membiarkan Anda melakukan sesuatu pada klien saya."


Mahen mengepalkan tangannya dengan erat. "Kau lihat saja, kalian pasti akan kalah dipersidangan. Ingat itu!"



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2