
Seketika suasana menjadi hening dan mencekam. Papa Adrian benar-benar sangat terkejut dengan apa yang istrinya lakukan, bahkan oma Erina saja tidak bisa mengatakan apa-apa saat melihat kemarahan mama Camelia yang baru pertama kali dia lihat.
"Cukup, sudah cukup!" ucap mama Camelia dengan penuh penekanan, dia lalu menghadap ke arah oma Erina yang sejak tadi mamandangnya tanpa berkedip. "Maaf karna aku sudah tidak sopan, Bu. Tapi aku tidak bisa lagi menahan diri, aku harap Ibu tidak tersinggung dengan apa yang aku lakukan."
Oma Erina hanya bisa menganggukkan kepalanya tanpa bisa mengeluarkan suara, lalu mama Camelia kembali melihat ke arah Mahen dengan tajam.
"Apa masih ada lagi yang mau katakan, Mahen? Coba katakan semuanya, biar mama dengarkan!"
Glek.
Mahen menelan salivenya dengan kasar. Untuk pertama kalinya mama Camelia melayangkan tamparan untuknya, bahkan untuk Vano juga. Bisa dibayangkan bagaimana marahnya wanita paruh baya itu saat ini.
"Kenapa diam? Coba katakan semuanya, biar aku tau seperti apa anak-anak yang sudah aku lahirkan."
Mahen dan Vano menunduk tanpa berani mengucapkan sepatah kata pun, begitu juga dengan yang lainnya yang masih berada di ruangan itu.
"Sebenarnya bagaimana jalan pikiran kalian ini, hah? Mau sampai sehancur apa wanita itu kalian buat?" teriak mama Camelia membuat semua orang terlonjak kaget, sontak papa Adrian langsung beranjak bangun dari duduknya.
"Sudah, Sayang. Tenangkan dirimu,"
"Tidak. Sudah cukup aku tenang dan diam selama ini, sekarang aku tidak bisa lagi diam dan membiarkan anak-anak tidak punya pikiran ini menghancurkan hidup orang lain." Mama Camelia lalu menarik baju Mahen dan menghempaskan tubuh anaknya itu sampai menabrak tubuh Vano.
"Tapi Sayang, kau-"
"Diam! Kau juga diam, suamiku."
__ADS_1
Papa Adrian langsung menutup mulutnya rapat-rapat. Jangan sampai istrinya itu marah padanya, atau dia tidak akan mendapat jatah seminggu ke depan.
"Sekarang mama tanya baik-baik padamu, Mahen. Sebenarnya apa yang sedang kau lakukan ini, hah?" Mama Camelia berdiri tepat di hadapan kedua putranya yang sedang menunduk. "Jawab mama, Mahen. Jawab!" Dia mencengkram baju bagian depan Mahen sambil mengguncangkannya.
"Aku, aku-"
"Kenapa? Kau tidak bisa menjawabnya, hah?" teriak mama Camelia seperti orang kesetanan.
"Jangan seperti ini, Ma. Mama bisa sakit nanti,"
"Kau diam, Vano. Tunggu giliranmu setelah ini." Mama Camelia melihat ke arah Vano sekilas, lalu kembali menatap Mahen dengan tajam.
"Apa kau lupa, kalau kau sendiri yang sudah menyakiti Via, hah? Kau lupa, atau kau mau ku ingatkan?" tanya Mama Camelia yang di balas dengan gelengan kepala Mahen.
"Di saat dia sudah mulai bangkit dan mencoba untuk mengobati rasa sakit karna perbuatanmu, kau malah kembali ingin menghancurkannya. Sebenarnya kau ini manusia apa bukan, Mahen? Apa aku sudah melahirkan dan merawat iblis yang menjelma sebagai manusia, hah?" Mama Camelia terisak dengan pilu membuat semua orang juga ikut merasa sakit.
"Kenapa, kenapa, Mahen? Kenapa kau melakukan semua ini?" Tubuh mama Camelia terasa lemas hingga Mahen menangkap tubuh mamanya itu, membuat yang lain mendekati mereka dengan khawatir.
"Sayang, kau baik-baik saja?"
"Lepas, jangan sentuh aku!" Mama Camelia menghempaskan tangan siapa saja yang menyentuh tubuhnya, terutama Mahen. "Andai mama yang berada di posisi Via, pasti mama tidak akan sanggup. Tidak akan sanggup, Mahen. Mungkin mama akan memilih bunuh diri untuk melupakan semuanya, karna rasanya benar-benar sakit." Dia terus terisak dengan pilu, apalagi saat wajah Via melintas dalam benaknya.
"Dan kau juga, Vano. Sebenarnya apa yang mau kau lakukan, apa kau mau menjadi seorang pahlawan untuk Via, hah?" Kini mama Camelia melihat ke arah Vano. "Kau ingin menjadi sosok baik yang bisa membuat Via bahagia, menggantikan rasa sakitnya akibat perbuatan kakakmu sendiri, begitu?"
Vano menatap mamanya dengan sedih. Sungguh dia tidak pernah berpikir seperti itu, bahkan dia juga sudah menyangkal perasaannya sendiri walaupun akhirnya tidak berdaya.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan itu salah, Vano. Salah." Bibir mama Camelia sampai bergetar saat mengucapkannya. "Kehadiranmu pasti akan mengingatkan Via akan semua rasa sakit yang dia rasakan, dan perasaanmu itu menjadi beban berat untuknya. Mama tidak menyalahkan rasa cintamu itu, Vano. Tapi bisakah kau memikirkan perasaannya sedikit saja, hah?" Dia menatap Vano dengan sendu.
"Via sudah cukup hancur karna perbuatan kakakmu, dan kau datang bagai sebuah bayang-bayang masa lalu untuknya. Sementara dia sedang berjuang untuk bangkit di atas puing-puing rasa sakit yang terus menyesakkan jiwa, coba kau pikirkan bagaimana perasaannya saat melihatmu."
Vano terdiam dengan perkataan yang mama Camelia katakan. Hatinya berdenyut sakit saat memikirkan tentang Via, benarkah selama ini kehadirannya menambah luka yang wanita itu rasakan?
"Mama mohon cukup, sudah cukup kalian mengganggu kehidupannya." Mama Camelia menangkupkan kedua tangannya di depan dada membuat Vano dan Mahen langsung memegang tangannya.
"Jangan lakukan itu, Ma. Aku, aku minta maaf," ucap Vano dengan lirih, begitu juga dengan Mahen.
"Tolong kasihanilah Via sedikit saja, biarkan dia hidup dengan tenang tanpa ikut campur dari kalian berdua. Biarkan dia mencari kebahagiaan sendiri dalam hidupnya, mama mohon."
Mama Camelia kembali terisak pilu membuat Vano langsung memeluk tubuh sang mama dengan erat.
"Maafkan aku, Via. Aku laki-laki yang sangat egois, aku hanya memikirkan diriku sendiri. Aku tidak sadar bahwa kehadiranku pasti membuat lukamu semakin dalam, maafkan aku."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1