Mahligai Cinta Yang Terbagi

Mahligai Cinta Yang Terbagi
Bab. 67. Hasil Otopsi.


__ADS_3

Via segera menelepon Riani dan memberitahukan apa yang sedang terjadi saat ini, setelah itu dia kembali ke ruangan sang ibu sambil menggendong Yara.


"Nona." Tiba-tiba salah seorang polisi kembali menemui Via membuat wanita itu beranjak berdiri. "Hasil otopsinya sudah keluar." Dia memberikan selembar kertas kepada Via.


Via menerima kertas itu dengan tangan gemetaran, bahkan detak jantungnya sangat cepat seperti ingin meledak saat ini juga.


Deg.


Via terpaku saat membaca hasil dari otopsi dari mayat yang ditemukan di dalam sungai. Tidak ada satu kata pun yang sanggup untuk dia ucapkan, bahkan tubuhnya juga tidak bisa untuk digerakkan. Hanya air mata saja yang menjadi saksi kesedihan yanh sedang dia rasakan saat ini.


Bruk.


"Nona!"


"Mama!"


Baik polisi dan juga Yara langsung memghampiri Via yang saat ini sudah terduduk di atas lantai. Benar, hasil otopsi itu membenarkan bahwa mayat itu adalah mayat dari sang ayah.


"Innalillahi wainna ilaihi rajiun, Ayah. Huhuhu." Kesedihan tidak bisa lagi ditahan, dan rasa sakit menghantam hati Via dengan sangat keras membuat tubuhnya hilang keseimbangan dan hendak terbaring di atas lantai.


"Nona, sadarlah." Polisi itu memegangi tubuh Via yang saat ini sudah sangat pucat. Bukan itu saja, bahkan suhu tubuh wanita itu sangatlah dingin. "Dokter, Dokter!"


Suara polisi itu menggema di dalam ruang perawatan membuat Ibu Novi membuka kedua matanya, sementara Yara dan Via saat ini tengah sama-sama menangis.


"Via, Nak." Ibu Novi berusaha untuk bangun saat mendengar tangisan Via dan juga Yara, membuat polisi itu menjadi bingung.


"Ada apa ini?" Seorang Dokter dan beberapa perawat masuk ke dalam ruangan dan langsung memeriksa kondisi semua orang.


"Via, anakku." Ibu Novi kembali memanggil Via yang saat ini sedang berada tepat di sampingnya.

__ADS_1


Via yang mendengar panggilan sang ibu langsung menoleh ke arah samping. "Ibu, Ibu. Huhuhu."


Ibu Novi langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan saat melihat reaksi Via. Dia sudah tau apa yang menyebabkan putrinya menangis sampai seperti itu, apalagi jika bukan karena suaminya.


"Ibu, huhuhu. Ayah, Bu. Ayah." Via terus terisak membuat Dokter dan perawat berusaha untuk menenangkannya. Mereka tidak ingin kalau wanita itu sampai mengalami syok mendalam akibat kesedihan yang terjadi.


"Istighfar, Nak. Istighfar." Ibu Novi beranjak turun dari ranjang walaupun perawat sudah menahannya. Kali ini dia yang harus menguatkan Via, walaupun dia tidak akan sanggup untuk melihat hasil otopsi dari suaminya.


Berita tentang meninggalnya ayah Chandra menyebar cepat di kalangan kepolisian. Itu dikarenakan saat ini statusnya adalah buronan untuk kasus KDRT yang menimpa istrinya sendiri.


Pimpinan kepolisian langsung menghubungi Nanda untuk memberi kabar tentang apa yang terjadi, dan Nanda langsung memberitahukan semuanya pada Vano yang saat itu masih terlelap di ranjang empuknya.


"Apa?" Vano terlonjak kaget saat mendengar kabar dari Nanda. "Apa kau bercanda?"


"Tidak, Tuan. Pak Hamdan sendiri yang baru saja mengabari saya, dan sekarang saya sedang bersiap untuk menuju rumah sakit," ucap Nanda dari sebrang telepon.


"Baiklah, aku juga akan segera ke sana."


Panggilan itu langsung terputus membuat Vano beranjak turun dari ranjang. Dia segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri, setelahnya bersiap pergi ke rumah sakit.


"Via pasti sangat terpukul dengan apa yang terjadi pada ayahnya." Vano benar-benar merasa khawatir dengan keadaan Via saat ini. Dia heran kenapa ada saja cobaan dan masalah yang menimpa wanita itu, padahal Via adalah wanita yang baik dan juga shaleha.


Tanpa menunggu apapun lagi, Vano segera menyambar jaket dan juga kunci mobilnya untuk segera pergi ke rumah sakit. Dia harus berada di samping keluarga Via saat seperti ini, karena dia tahu mereka tidak punya siapapun lagi di dunia ini.


"Vano!"


Langkah Vano terhenti saat mendengar panggilan sang mama, dengan cepat dia berbalik dan melihat mama Camelia sedang berjalan ke arahnya.


"Kau mau ke mana pagi buta gini?" tanya mama Camelia dengan heran. Tidak biasanya Vano pergi di jam segini, dan yang lebih anehnya lagi putranya itu tidak pernah bangun secepat ini.

__ADS_1


"Aku harus segera ke rumah sakit, Ma," jawab Vano.


"Ada apa? Siapa yang sakit?" tanya mama Camelia dengan khawatir.


"Ayah nya Via meninggal,"


"Apa?" Mama Camelia sangat syok saat mendengar apa yang Vano ucapkan. "Ba-bagaimana mungkin?"


"Vano sedang buru-buru, Ma. Datang saja ke rumah sakit pelita. Aku pergi." Vano segera berlari keluar dari rumah itu tanpa menunggu jawaban dari mamanya. Dia segera masuk ke dalam mobil dan melajukan mobil itu dengan kencang di jalanan.


Pada saat yang sama, keadaan Via dan ibu Novi sudah terlihat lebih tenang. Mereka duduk di depan ruang jenazah untuk menunggu jasad ayah Chandra, sekaligus menunggu pemeriksaan dari pihak kepolisian.


"Ba-bagaimana, Pak?" tanya Via pada salah satu polisi yang baru selesai melakukan pemeriksaan.


"Dari hasil pemeriksaan Dokter, tidak ada sidik jari siapa pun di tubuh korban. Juga tidak ada kekerasan fisik yang bisa menyebabkan kematian. Hanya saja, hasil pemeriksaan menunjukkan adanya kandungan alkohol yang sangat banyak dalam tubuh korban. Itu sebabnya kami menyimpulkan bahwa, korban tidak sengaja terjatuh pada saat berjalan di jembatan. Lalu korban jatuh ke dalam sungai, dan tidak bisa menyelamatkan diri."


Via dan sang ibu hanya bisa mengangguk dengan deraian air mata, tangan mereka saling bertautan untuk memberikan semangat dan kekuatan dalam memghadapi semua ini.


Tidak berselang lama, Riani, Nanda dan juga Vano sudah tiba di rumah sakit. Tangis kesedihan kembali terdengar saat Riani memeluk anak dan Ibu itu, sementara Vano kebagian untuk menenangkan Yara.


Setelah semua prosesnya selesai, mereka segera membawa jenazah ayah Chandra untuk pulang ke rumah agar bisa segera di mandikan, dikafani dan juga dishalatkan serta dikuburkan.





Tbc.

__ADS_1



__ADS_2